Penulis: Ust. Fathiy Syamsuddin Ramadan
Muslimah News, TSAQAFAH — Bulan Ramadan tahun ke-2 hijriah, Nabi saw. dan para sahabat untuk pertama kali melaksanakan kewajiban puasa fardu pada bulan suci Ramadan. Pada tahun yang sama, Nabi saw. dan kaum muslim menunaikan zakat fitrah dan mengerjakan salat Idulfitri untuk yang pertama kalinya.
Suasana Ramadan pada masa Nabi saw. dipenuhi suasana ibadah, perjuangan, dan takarub kepada Allah Taala. Nabi saw. mendorong kaum muslim untuk meningkatkan ibadah dan mengisi bulan itu dengan memperbanyak amal kebajikan. Pasalnya, syahr ash-shiyaam adalah bulan saat Allah swt. melipatgandakan pahala ibadah dan amal kebajikan kaum muslim.
Tidak hanya memperbanyak mengerjakan ibadah-ibadah mahdhah, seperti salat tarawih, membaca Al-Qur’an, sedekah, zikir, dan lain-lain, tetapi bulan suci Ramadan pada masa Nabi saw. juga diisi aktivitas jihad memerangi orang-orang kafir.
—
Pada 17 Ramadan 2 H, Nabi saw. dan para sahabat berperang melawan Pasukan Quraisy di Badar (Perang Badar al-Kubra). Peperangan ini berhasil dimenangkan secara gemilang oleh kaum muslim.
Pada 10 Ramadan 8 H, beliau saw. dan para sahabat menaklukkan Kota Makkah.
Tradisi Ramadan pada masa Rasulullah saw. terus dipelihara dan dilanjutkan hingga generasi-generasi berikutnya. Demikian realitas puasa pada masa Rasulullah saw..
Realitas Puasa pada Masa Khulafaurasyidin
Pada masa Khulafaurasyidin, suasana Ramadan tidak ubahnya dengan suasana Ramadan pada era Nabi saw. Namun, wilayah kekuasaan Islam makin meluas dan jumlah kaum muslim makin bertambah banyak.
Suasana Ramadan pun makin marak dan pengaruhnya makin menyebar ke seluruh penjuru dunia. Realitas di bawah ini setidaknya bisa menggambarkan suasana Ramadan pada masa Khulafaurasyidin.
1) Setiap akhir bulan Syakban dan Ramadan, para sahabat memantau hilal untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadan sebagaimana perintah Nabi Muhammad saw.. (HR Imam Abu Dawud)
2) Memulai dan mengakhiri puasa secara serentak pada hari yang sama untuk wilayah-wilayah dekat. Sedangkan untuk wilayah yang jauh dibiarkan mengawali dan mengakhiri puasa sama dengan pusat kota karena adanya kesulitan dalam mendistribusikan informasi rukyat. (Kasyf al-Ghammah ‘An Jamii’ al-Ummah, juz 1/250)
3) Para Khalifah berkhotbah di hadapan masyarakat pada malam pertama Ramadan. Jika malam pertama Ramadan telah masuk, Khalifah Umar bin Khaththab ra. segera salat Magrib dan berkhotbah di hadapan masyarakat. (Mushannaf ‘Abdur Razaq, juz 4/264)
4) Pada masa Umar bin Khaththab, kaum muslim menyelenggarakan salat Tarawih di masjid secara berjemaah dipimpin seorang imam. Beliau juga mengirim surat kepada para wali agar mereka menyelenggarakan salat Tarawih secara berjemaah di masjid. (Imam Nawawiy, al-Majmuu’, juz 3/527). Adapun pada masa Nabi saw. dan Abu Bakar ra., kaum muslim mengerjakan salat Tarawih secara beragam, ada yang sendirian dan ada pula yang berjemaah.
5) Umar bin Khaththab ra. menyalakan pelita di masjid sepanjang malam Ramadan. (Imam Suyuthiy, Tarikh al-Khulafaa’, hlm. 128)
6) Para khalifah dan kaum muslim menyediakan makanan untuk berbuka puasa bagi shaa’imuun. Tidak hanya itu, mereka juga memperbanyak sedekah saat Ramadan. Umar bin Khaththab ra. membangun sebuah rumah untuk tamu, orang yang kehabisan bekal di jalan, serta orang-orang yang membutuhkan. (Majalah al-Khilafah al-Islaamiyyah, hlm. 7)
7) Mengkhatamkan Al-Qur’an. Pada Ramadan, para sahabat dan sebagian tabiin mengkhatamkan Al-Qur’an selepas Isya hingga 1/4 malam. Dalam sehari, mereka bisa mengkhatamkan Al-Qur’an sekali atau dua kali. Utsman bin ‘Affan, Tamim ad-Dariy, dan Sa’id bin Jabir mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu satu hari satu malam. Mujahid mengkhatamkan Al-Qur’an antara waktu magrib dan isya, setiap malam Ramadan. Manshur bin Zadan mengkhatamkan Al-Qur’an dari zuhur hingga asar, dan saat Ramadan beliau mengkhatamkan Al-Qur’an antara magrib dan isya sebanyak dua kali.(Imam Nawawiy, At-Tibyan fi Adab Hamlat Al-Qur’an, hlm. 47—48)
8) Berburu Lailatulqadar di sepuluh hari terakhir Ramadan. Sejak masa Nabi saw. hingga sekarang, tradisi berburu Lailatulqadar dengan cara iktikaf di dalam masjid dan memperbanyak ibadah dan takarub kepada Allah terus berlangsung dan terjaga. (Al-Mudawwanah al-Kubra, juz 1/237)
9) Mengeluarkan zakat fitrah dan menghidupkan malam Idulfitri. Pada masa Nabi saw. dan Khulafaurasyidin, kaum muslim mengeluarkan zakat fitrah pada pagi hari sebelum dilaksanakannya salat Idulfitri.
10) Melaksanakan salat Idulfitri di tempat tertentu. Pada masa Nabi saw. dan khulafaurasyidin, salat Idulfitri dilaksanakan di lapangan terbuka di depan pintu masuk Kota Madinah sebelah timur. Mereka tidak menyelenggarakan salat Idulfitri di dalam masjid. Namun, pada masa Umar bin Khaththab ra., kaum muslim salat Idulfitri di dalam masjid karena hujan. (Sunan Baihaqiy, juz 3/310)
11) Kaum muslim bersuka ria dan mengisi Idulfitri dengan aneka ragam permainan dan nyanyian yang mubah. (Ibnu Hazm, Al-Muhalla, juz 5/81)
—
Inilah realitas Ramadan pada masa Nabi saw. dan Khulafaurasyidin. Dalam beberapa aspek, suasana Ramadan pada era Nabi dan Khulafaurasyidin masih bisa dijumpai dan dijaga hingga sekarang.
Namun, ada perbedaan penting Ramadan sekarang dengan Ramadan sebelum keruntuhan Khilafah Islamiah pada 1924. Sebelum 1924, kaum muslim menjalankan ibadah puasa di bawah naungan Khilafah Islamiah dan kepemimpinan para khalifah yang memiliki komitmen kuat untuk menjaga Islam dan kaum muslim.
Adapun sekarang, kaum muslim harus melalui Ramadan di bawah naungan pemerintahan kufur dan pemimpin-pemimpin jahat yang mengatur urusan mereka dengan hukum-hukum kufur. Bahkan, pemimpin-pemimpin itu rela menyerahkan harta dan nyawa kaum muslim kepada musuh Islam dan kaum muslim.
Semoga Ramadan kali ini mampu mengubah yang buruk menjadi baik dan mengubah yang baik menjadi lebih baik atas izin Allah swt.. [MNews/Gz]
Sumber foto: iStock


Aamiin Allohumma aamiin