[Nafsiyah] Tanda Berpalingnya Allah dari Hamba-Nya

[Nafsiyah] Tanda Berpalingnya Allah dari Hamba-Nya

Muslimah News, NAFSIYAH — Kita wajib bersyukur ketika Allah masih memberikan kita nikmat fisik yang sehat dan sempurna untuk bisa beribadah karena ada di antara kita yang Allah cabut nikmatnya. Berhati-hatilah, ini adalah pertanda Allah membencinya.

Ada dua hal yang terjadi pada seorang hamba jika Allah membencinya. Pertama, Allah cabut nikmatnya beribadah padahal sandang, pangan, dan papannya tercukupi. Ia enggan bahkan berat baginya untuk beribadah Allah cabut nikmat beribadah darinya.

Kedua, Allah sibukkan ia dengan berbagai perkara yang tidak bermanfaat. Dalam kitab Ayyuhal Walad, Imam Al Ghazali pernah memberikan nasihat berupa hadis Nabi kepada muridnya. Nabi saw. bersabda kepada umatnya, “Tanda berpalingnya Allah dari hamba-Nya adalah dia (hamba) disibukkan dengan sesuatu yang tidak bermanfaat dan sesungguhnya orang yang telah kehilangan sesuatu dari umurnya untuk selain ibadah, tentu sangat layak baginya kerugian yang panjang. Barang siapa umurnya telah melebihi 40 tahun sementara amal kebaikannya tidak melebihi amal keburukannya maka bersiap-siaplah masuk neraka.”

Kepada muridnya, Imam Al Ghazali mengatakan, “Nasihat dari Rasulullah saw tersebut sudah cukup bagi orang yang ahli ilmu. Lalu apa saja yang termasuk dalam perbuatan yang tidak bermanfaat bagi seorang muslim?

Pertama, perkara maksiat atau perbuatan yang diharamkan Allah Swt. hukumnya wajib ditinggalkan. Bukan hanya tidak bermanfaat, melainkan juga membahayakan diri sendiri, di dunia, maupun di akhirat. Di antara bahaya yang ditimbulkan karena berbuat maksiat di dunia ialah mengerasnya dan menghitamnya hati hingga cahaya yang ada di dalam hatinya padam. Akibatnya ia pun menjadi buta, tidak bisa membedakan mana yang hak dan batil. (Yusri as-Sayyid Muhammad, Badai’ at-Tafsiri al-Jami’i li Tafsiri Ibn al-Qayyim).

Allah Swt. berfirman, “Jika seorang hamba berbuat dosa maka akan ditorehkan noktah hitam di dalam hatinya. Namun, jika ia meninggalkannya dan beristigfar niscaya hatinya akan dibersihkan dari noktah hitam itu. Sebaliknya jika ia terus berbuat dosa, noktah-noktah hitam akan terus bertambah hingga menutup hatinya. Itulah dinding penutup yang Allah sebutkan dalam ayat (sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka kerjakan itu menutup hati mereka.” (QS al Muthaffifin: 14)

Ayat di atas juga merupakan hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah. Kemudian, di akhirat mereka yang gemar bermaksiat, diancam Allah dimasukkan ke dalam neraka.

Kedua, hal-hal yang dimakruhkan dalam agama, juga berlebih-lebihan dalam mengerjakan perkara yang dibolehkan agama, yang sama sekali tidak mengandung manfaat justru terkadang menghalangi seseorang dari berbuat kebajikan. Salah satunya ialah masalah lisan.

Imam an-Nawawi memberi nasihat, “Ketahuilah, semestinya setiap muslim berusaha untuk selalu menjaga lisannya dari segala macam bentuk ucapan, kecuali ucapan yang mengandung maslahat. Jikalau dalam suatu ucapan, maslahat untuk mengucapkannya dan maslahat untuk meninggalkannya adalah sebanding. Maka yang disunnahkan adalah meninggalkan ucapan tersebut. Sebab perkataan yang dibolehkan terkadang membawa kepada perkataan yang diharamkan atau yang dimakruhkan. Hal itu sering sekali terjadi. Padahal keselamatan (dari hal-hal yang diharamkan atau dimakruhkan) adalah sebuah (mutiara) yang tidak ternilai harganya.” (Riyadh ash-Shalihin, hal.483).

Imam Ibnu Hibban juga berkata, “Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi dua teliang, sedangkan diberi satu mulut. Supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Sering kali seseorang menyesal di kemudian hari akibat perkataan yang ia ucapkan, sementara diamnya dia tidak akan pernag membawa penyesalan. Perlu untuk kita ketahui bahwa menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah daripada mencabut perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Karena biasanya jika seseorang tengah berbicara, maka kata-katanyalah yang akan menguasai dirinya, sebaliknya jika tidak berbicara, maka ia mampu untuk mengontrol kata-katanya. (Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala, hal. 45)

Rasul saw. pun menegaskan, “Seringkali seorang hamba mengucapkan suatu perkataan yang tidak ia pikirkan dampaknya, padahal ternyata perkataan itu akan menjerumuskannya ke neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak timur dengan barat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga, sibuk mengurusi kesalahan orang lain dan lupa memperbaiki diri sendiri. Padahal seorang muslim semestinya bersungguh-sungguh untuk memperbaiki dirinya sebelum ia menyibukkan diri mengurui kekurangan orang lain. Ia berupaya merealisasikan keselamatan dan menjauhkan segala hal yang akan membinasakannya.

Firman Allah Ta’ala, “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal salih, nasihat-menasihati untuk menetapi kebenaran, serta nasihat-menasihati supaya menetappi kesabaran.” (QS Al-Ashr: 1-3)

Allah Swt. pun menegaskan kembali dalam firman-Nya, “Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kalian melupakan diri (kewajiban)mu sendiri. Padahal kalian membaca al-Kitab (Taurat). Maka tidakkah kalian berpikir?” (QS Al-Baqarah: 44)

Hendaknya kita meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat dan terus memperbaiki diri dengan mengerjakan berbagai amal saleh. Tidak melupakan pula aktivitas dakwah, karena sembari memperbaiki diri, kita pun tolong-menolong dalam perkara kebaikan dan ketakwaan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS Fushilat: 33) [MNews/Rndy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *