Penulis: Wiwing Noeraini
Muslimah News, FOKUS — Kesempitan hidup dihadapi oleh hampir seluruh rakyat Indonesia hari ini. Sungguh, tidak ada yang lebih rakyat harapkan kecuali satu, hidup sejahtera.
Bergantinya pemimpin, baik di tingkat pusat maupun daerah. Seluruh perubahan kebijakan—seiring berubahnya berbagai aturan dan UU—selalu rakyat tunggu penuh harap agar sejahtera itu mewujud. Namun, hendak berkata apa, ternyata itu semua mimpi belaka.
Kapitalisme Mengharuskan Negara Berlepas Tangan
Tanpa sadar, kita terlalu banyak meminta, sementara yang dipinta tidak mungkin bisa memberi. Kita meminta negara—dalam hal ini Pemerintah—untuk mengurus dan mengatur rakyat dan memenuhi semua hajat hidup kita. Akan tetapi, kapitalisme yang diadopsi Indonesia mengharuskan negara berlepas tangan mengatur hajat hidup rakyatnya.
Dalam kapitalisme, negara hanya berperan sebagai regulator yang mengatur terjadinya keselarasan antara kepentingan rakyat dan pengusaha. Negara berperan mencegah agar tidak terjadi konflik antara rakyat dan pengusaha.
Faktanya, maksud dari “mencegah konflik” itu adalah dengan cara negara lebih mengedepankan kepentingan pengusaha (baca: kaum kapitalis/pemilik modal) daripada rakyat. Ini karena telah terbentuk relasi antara pengusaha dan rezim pemegang kekuasaan (penguasa), bahkan sebagian dari pengusaha malah menjadi penguasa.
Mahalnya ongkos demokrasi mengharuskan siapa pun yang ingin berkuasa harus punya modal besar. Kucuran modal para pengusaha adalah stimulus bagi calon pemegang kekuasaan. Rezim yang sudah berkuasa pun kemudian harus membalas budi pada pemilik modal dengan mengeluarkan serangkaian peraturan perundang-undangan yang memuluskan berbagai bisnis mereka.
Kebijakan pemerintah Indonesia saat ini dengan ekonomi neoliberalnya makin menampakkan watak asli sistem kapitalisme yang berlepas tangan dari mengurus rakyat. Lihatlah bagaimana kebijakan pemerintah terhadap kran impor dan pintu investasi asing yang dibuka selebar-lebarnya. Apakah diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat ataukah untuk kepentingan swasta asing?
Utang luar negeri ribawi yang gila-gilaan, untuk kepentingan siapa? Faktanya, utang tersebut telah membuat pemerintah Indonesia tunduk pada kepentingan negara pemberi utang.
Adapun pembangunan infrastruktur yang dibiayai dari utang tersebut, faktanya juga tak dinikmati oleh rakyat karena tak semua bisa menjangkau harganya. Lagi-lagi, pembangunan itu ditujukan untuk para pebisnis–para investor baik dalam maupun luar negeri–agar mereka mau berinvestasi di Indonesia.
Privatisasi besar-besaran juga terus dilakukan oleh pemerintah hari ini, hingga negara kehilangan banyak sumber pendapatannya. Rakyat harus membayar harga lebih mahal dari pelayanan publik yang tadinya dilakukan oleh negara, lalu malah dialihkan kepada swasta. Siapa yang diuntungkan? Lagi-lagi, kepentingan rakyat harus mengalah pada kepentingan pengusaha.
Demikianlah, sistem kapitalisme telah mengharuskan negara berlepas tangan atas nasib rakyatnya. Rakyat dibiarkan secara mandiri mengurus seluruh urusannya. Rakyat harus menanggung krisis energi, melonjaknya harga pangan dan komoditi pokok lainnya, menjamurnya pengangguran, susahnya mengakses pendidikan dan kesehatan, dan taraf hidup yang kian rendah.
Inilah dampak negara autopilot saat ini terhadap nasib rakyat. Siapa pun penguasanya, tak akan pernah bisa dan mampu mengurus dan memenuhi semua kebutuhan rakyatnya karena mereka memang didesain bukan untuk mengurus rakyat.
Oleh karena itu, jika hanya ganti rezim, ganti penguasa, sementara sistemnya tetap kapitalisme, maka rakyat pun akan tetap mengalami nasib yang sama.
Bagaimana dengan Islam?
Kepemimpinan Islam: Kepemimpinan sebagai Raa’in dan Junnah
Kepemimpinan dalam Islam adalah kepemimpinan sebagai raa’in (pengurus). Islam perintahkan negara melalui pemimpinnya untuk bertanggung jawab penuh menjamin maslahat umum. Negara bukan sebagai regulator, melainkan peri’ayah (raa’in) dan penanggung jawab atas urusan rakyatnya, sebagaimana sabda Rasul saw.,
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (Khalifah/kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya atas rakyat yang diurusnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Islam memiliki kekhasan dalam sistem politiknya yang mengharuskan negara untuk menjalankan pengaturan urusan umat dengan aturan-aturan Islam, baik di dalam maupun luar negeri (ri’ayah syu’un al-ummah dakhiliy[an] wa kharijiy[an] bi al-ahkam al-islamiyyah).
Pemerintah/negara merupakan lembaga yang mengatur urusan rakyat secara praktis (‘amali). Penguasa yang menjalankan roda pemerintahan dituntut untuk benar-benar mengurus dan memenuhi semua kebutuhan rakyat.
Dalam sistem Islam, negara didesain sebagai raa’in, sehingga siapa pun yang terpilih menjadi penguasa/pemimpin, maka dipastikan ia adalah pemimpin yang amanah dan adil, yang akan menghabiskan seluruh waktunya untuk mengatur hajat hidup rakyatnya.
Tak akan ada bualan dan janji-janji palsu dari sang pemimpin, karena ia menyadari sepenuhnya bahwa kepemimpinan ini adalah amanah berat yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah Swt.. Sungguh pedih balasan bagi para penguasa yang tidak amanah dan menipu rakyatnya dengan janji-janji palsu.
Rasulullah saw. Bersabda,
مَامِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيْهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوْتُ يَوْمَ يَمُوْتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
“Tidaklah seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah untuk mengurus rakyat, lalu mati dalam keadaan menipu mereka, kecuali Allah akan mengharamkan dirinya masuk ke dalam surga.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Ma’qil bin Yasar ra.).
Kepemimpinan dalam Islam juga adalah kepemimpinan sebagai junnah sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya….” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)
Makna ungkapan kalimat “al-imamu junnah” adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim,
“(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena imam (khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum muslimin, dan mencegah antara manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”
Dengan indikasi pujian, berita dalam hadis ini bermakna tuntutan (thalab), tuntutan yang pasti, dan berfaedah wajib.
Sedangkan makna (yuqaatilu min waraa’ihi) yakni: kaum muslimin akan berperang bersama dengannya (al-khalifah) dalam memerangi orang-orang kafir, para pemberontak, khawarij, dan seluruh kelompok-kelompok pembuat kerusakan dan kezaliman secara mutlak. Begitulah yang disampaikan al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.
Dari hadis ini dipahami bahwa Islam memosisikan negara sebagai pelindung bagi rakyatnya, yang melindungi akidah umat dari serbuan pemikiran sesat dan kufur semisal liberalisme, sekularisme, dan isme-isme lainnya, termasuk juga moderasi Islam yang nyata-nyata menyerang syariat Islam kaffah.
Negara juga akan melindungi kehormatan Nabi Muhammad saw. dari para penista yang semakin hari semakin berani menampakkan kebencian mereka kepada Islam dan umat Islam. Negara pun akan melindungi rakyatnya dari semua kezaliman, kejahatan, kemaksiatan, dan tindakan apa pun yang membahayakan.
Yang jelas, negara akan melindungi umat dari serangan kapitalisme Barat dan Timur yang secara nyata telah mencengkeram dan mengeruk habis sumber daya alam (SDA) Indonesia dan juga negeri-negeri muslim lainnya.
Jadi, sistem manakah yang layak menjadi harapan? Islam yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala ataukah kapitalisme buatan manusia yang telah nyata kegagalannya?
Allah Swt. berfirman, “Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al-Maidah 50) [MNews]

Hanya Islam solusi tuntas, terbaik
Tentu tak layak