Muslimah News, NASIONAL — Dilansir dari Kemenpppa, Hari Anak Nasional (HAN) 2022 diperingati dengan mengangkat tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Peringatan ini merupakan momentum penting untuk menggugah kepedulian dan partisipasi seluruh komponen bangsa Indonesia dalam menjamin pemenuhan hak anak atas hak hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Apalagi, terdapat target untuk mewujudkan Generasi Emas 2045 yang berkarakter.
Namun, alih-alih berkarakter, konsultan dan trainer keluarga sakinah Dedeh Wahidah Achmad justru menyatakan perilaku generasi muda saat ini sudah mengkhawatirkan akibat terpengaruh kehidupan sekularisme sehingga jangan dibiarkan.
“Kita khawatir dengan generasi saat ini yang menampakkan perilaku jauh dari nilai Islam, serta terpengaruh kehidupan sekularisme dan kapitalisme. Hal ini tentu tidak bisa kita biarkan karena mereka adalah generasi harapan,” tuturnya dalam “Menjaga Anak dari Pengaruh Sekularisme” di sebuah podcast, Senin (11/7/2022)
Ia menyayangkan, generasi muda yang melakukan sesuatu hanya mengikuti keinginannya bersenang-senang. “Tidak memedulikan lagi standar halal dan haram, bahkan kalau kita bisa mengatakan, seolah-olah mereka tidak lagi memperhatikan surga dan neraka,” ungkapnya.
Sekularisme dan Kapitalisme
Hal ini, ulasnya, berkaitan dengan pengaruh sistem kehidupan yang sekarang mendominasi, yaitu sekularisme dan kapitalisme.
“Sekularisme adalah ide yang menghilangkan peran agama. Manusia hidup tetapi tidak meyakini adanya agama, bahkan menjauhkan agama dari kehidupan. Hidup mereka itu memang hanya mengikuti keinginan hawa nafsunya, baik itu apa yang ia sukai, dan buruk itu hal yang tidak disukai,” katanya.
Sedangkan, lanjutnya, kapitalisme, yaitu untung rugi yang menjadi pertimbangan dalam melakukan sesuatu.
“Ketika sesuatu itu akan mendatangkan keuntungan materi, sekalipun melanggar aturan Allah, akan tetap mereka lakukan. Sebaliknya, ketika sesuatu itu diprediksi akan melahirkan kerugian materi, sekalipun itu diwajibkan oleh Allah, maka akan berat melakukannya karena takut akan resiko, takut kehilangan materinya. Itulah yang terjadi sekarang,” urainya.
Kemudian, ia menyebutkan, dalam keluarga, Islam tidak dijadikan rujukan oleh orang tua untuk mendidik anak-anaknya. “Membiarkannya tumbuh berkembang apa adanya yang justru mereka itu banyak digerus dan banyak dipengaruhi racun-racun yang berasal dari luar keluarganya sehingga fungsi keluarga sebagai basis pembinaan sebagai pendidikan untuk melahirkan generasi-generasi pemimpin, tidak terjadi,” terangnya.
Perubahan
Untuk itu, Dedeh menekankan, perlu upaya agar ada perubahan yang signifikan dalam keluarga muslim, yaitu yang akan melahirkan generasi khairu ummah, generasi pemimpin, dan calon pelanjut perjuangan dakwah.
“Pertama, harus menyadari tentang fungsi keluarga. Orang tua menjadi faktor utama di dalam pendidikan anak-anak, tidak akan mengabaikan pendidikan anak ,walaupun nantinya menyerahkan anaknya untuk dididik lembaga lain, baik sekolah maupun pesantren. Itu filosofi yang harus kita pahami,” paparnya.
Kedua, sambungnya, harus mengukuhkan keimanan anak-anak kita. “Harus memahami bahwa hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah, bukan hanya mengikuti keinginan dan bersenang-senang,” jelasnya.
Ia menyampaikan, dalam posisi apa pun anak kita nantinya, baik sebagai pelajar, mahasiswa, bekerja, atau kelak mereka sudah membentuk keluarga, harus kita tanamkan bahwa semua itu dalam rangka beribadah kepada Allah Swt. sebagaimana firman-Nya dalam Al- Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56.
“Anak juga harus paham apa yang namanya ibadah. Jangan sampai memahami ibadah hanya sebatas ibadah maghdah, tetapi semua perbuatan kita dalam hidup harus dilandasi niat lillahi taala untuk mendapat rida Allah dan dilakukan sesuai hukum syarak,” jabarnya.
Ketaatan
Selain itu, ungkapnya, perlu dipahamkan bahwa ibadah itu perlu direpresentasikan dalam ketaatan. “Itulah bukti iman yang hakiki, bukan sebatas diucapkan. Namun, dibuktikan dengan keterikatan secara kafah terhadap hukum syarak,” pesannya.
Dedeh berharap hal ini dapat menyadarkan anak-anak kita bahwa hidup ini tidak boleh jauh dari agama, justru agama harus jadi rujukan. “Kemudian ajarkan bentuk hukum syaraknya itu dan berharap ilmu itu akan mengarahkan mereka di jalan syariat Allah,” katanya.
Namun, ia mengingatkan, harus disadari manusia mengalami godaan. “Ini harus menjadi perhatian, tidak cukup mengajarkan tentang hukum syarak saja, tetapi orang tua harus memberi pendampingan. Kalaupun dalam pendampingan terdapat pelanggaran, jangan dibiarkan. Di sinilah fungsi kontrol, nasihat, amar makruf nahi munkar, berdoa, mohon ampun kepada Allah, serta memberikan reward dan punishment. Termasuk, diri kita sendiri. Jika dalam diri kita tampak pelanggaran, tidak boleh menolerir diri sendiri,” jelasnya.
Kita berharap, lanjutnya, semoga generasi kita terhindar dari sekularisme. “Menjadi generasi muslim yang kokoh dalam keimanan, taat dalam perilaku, serta senantiasa berhadap rida Allah,” tutupnya. [MNews/Ruh]
#IslamSelamatkanGenerasi
#WaspadaPembajakanPotensi
#KapitalisasiGenerasi
Foto sampul: Paragraph Buzz
