[Kabar] Perundungan Anak di Tasikmalaya, Arum Harjanti: Mencerminkan Buruknya Pengaturan Banyak Hal

[Kabar] Perundungan Anak di Tasikmalaya, Arum Harjanti: Mencerminkan Buruknya Pengaturan Banyak Hal

Muslimah News, NASIONAL — Seorang bocah kelas V sekolah dasar (SD) di Tasikmalaya, Jawa Barat, meninggal karena mengalami depresi setelah menjadi korban perundungan rekan-rekannya. Korban dipaksa menyetubuhi kucing lalu direkam pakai ponsel dan videonya disebarkan di media sosial.

Praktisi media sosial dari Komunikonten Hariqo Wibawa Satria mengatakan, kasus itu merupakan tindakan cyber bullying atau kekerasan siber yang berawal dari pembiaran dari kasus perundungan sebelumnya pada korban. Kasus itu semestinya mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya dinas pendidikan dan kominfo setempat. Menurutnya, perlu adanya tindakan tegas dan regulasi yang menciptakan lingkungan digital ramah anak. 

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengecam keras tindakan perundungan. Emil menilai, seharusnya para guru ikut bertanggung jawab atas perilaku para siswa sebagai pengganti orangtua di sekolah. “Tanggung jawab dari lingkungan terdekat yaitu sekolah, kepala sekolah, para guru, harus bertanggung jawab penuh karena orangtua menitipkan anaknya ke sekolah untuk diedukasi..

Emil meminta pihak berwenang memberikan sanksi bagi para pelaku perundungan. Hal tersebut perlu dilakukan agar memberi efek jera dan meminimalisir kejadian serupa terulang.

Menanggapi masalah di atas, pengamat masalah perempuan, keluarga, dan generasi dr. Arum Harjanti mengatakan peristiwa ini mencerminkan buruknya pengaturan banyak hal.

“Kejadian ini mencerminkan buruknya pengaturan banyak hal di sekitar kita.  Mulai dari pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah dan juga masyarakat, dan tentu saja kontrol negara atas berbagai tayangan. Maka jelas, peristiwa memilukan ini menunjukkan kebobrokan negara dalam menjaga anak-anak,” ungkapnya kepada MNews Senin (25/7/2022).

Arum sangat prihatin atas kejadian itu seraya mengatakan, sungguh tak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan atas peristiwa perundungan tersebut.

“Tak habis pikir, bagaimana bisa anak usia SD memaksa temannya untuk melakukan perbuatan orang dewasa kepada seekor kucing,” ucapnya sedih.

Kejahatan Kemanusiaan

Ia mengatakan, perundungan adalah keburukan, bahkan kejahatan. “Ketika kejahatan dilakukan oleh anak-anak, maka itu adalah kerusakan perilaku,” tambahnya.

Arum menilai, bentuk aktifitas yang diperintahkan untuk dilakukan oleh korban, maka ini kejahatan kemanusiaan yang jauh lebih besar. “Memviralkan keburukan adalah keburukan pula. Oleh karena itu, tergambar betapa dominasi keburukan melingkupi hidup anak-anak tersebut,” ungkapnya.

Menurutnya, rendahnya literasi digital ditambah kebebasan informasi yang diadopsi negara membuat anak-anak usia sekolah dasar dapat mengakses tayangan yang haram untuk dilihat.

“Kalau pun proses pendidikan berjalan, baik di rumah, sekolah, maupun di tengah masyarakat, maka pasti ada yang salah di dalamnya. Hal ini tercermin dari keburukan perilaku dan kerendahan moral para pelaku perundungan,” simpul Arum.

Ia menambahkan, anak-anak yang seharusnya masih terjaga fitrah kebaikannya telah dirusak oleh berbagai faktor dari luar, yang merupakan dampak kelalaian manusia dewasa di sekelilingnya.

“Mereka juga menjadi korban rusaknya tatanan kehidupan yang diadopsi negara yang bersendikan kebebasan. Akibatnya, sampailah kepada anak-anak tayangan-tayangan yang tidak sepatutnya disaksikan,”jelas Arum.

Rendahnya literasi digital dan longgarnya kontrol orang tua dan guru, kata Arum, menjerumuskan anak-anak kepada kenistaan perilaku.

“Kemuliaan akhlak hilang digantikan tindak perundungan yang dianggap sebagai satu hal yang lumrah bahkan lucu. Kepolosan anak-anak berubah menjadi kejahatan kemanusiaan yang sangat mengerikan,” paparnya.

Buah Sistem Sekuler

Arum menegaskan, sungguh inilah buah busuk sistem sekuler yang telah mencerabut kesucian fitrah anak-anak, hilangnya rasa malu. “Sistem yang menjadikan dunia sebagai tujuan dan melalaikan sistem hidup yang diturunkan Allah swt, juga melalaikan adanya kehidupan akherat dan siksa api neraka,” ucapnya prihatin.

Negara, lanjut Arum, seharusnya serius menjaga dan melindungi anak-anak, karena merekalah calon generasi penerus.

Syariat Islam

Arum berpendapat, kualitas anak akan menentukan kualitas negara pada masa yang akan datang. Menurutnya, generasi yang berkualitas hanya dapat terwujud ketika syariat Allah diterapkan secara kaffah.

“Karena hanya syariat Islamlah yang menjaga fitrah anak, dan menjadikannya generasi berkualitas, yang selalu produktif dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah,” ucap Arum meyakinkan.

Ia menambahkan, generasi yang menjadikan halal dan haram sebagai pedoman hidupnya, yang merupakan cerminan dari kuatnya keimanan kepada Allah Swt. Itu semua, lanjutnya hanya dapat dilahirkan dalam tatanan negara yang melindungi anak secara menyeluruh dan komprehensif, baik jasmani maupun rohani, termasuk menjaga peran fitrah seorang perempuan sebagai ibu generasi.

“Negara yang memiliki keselarasan antara tujuan dan kebijakannya dalam melindungi anak baik fisik, mental, spiritual dan sosial. Itulah Khilafah Islamiah!,” tandasnya. [MNews/IA]

Foto sampul: Republika

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *