[Tapak Tilas] Yatsrib, Kota Cahaya Tempat Tegaknya Negara Islam Pertama

[Tapak Tilas] Yatsrib, Kota Cahaya Tempat Tegaknya Negara Islam Pertama

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

Muslimah News, TAPAK TILAS — Sudah sepuluh tahun lebih Rasulullah saw. dan para pengikutnya berjuang untuk mengubah masyarakat Makkah yang jahiliah menjadi masyarakat Islam. Namun, para penguasa kota itu menolak dakwah Nabi dengan penolakan yang sangat buruk.

Dakwah pun benar-benar mengalami stagnasi hingga baginda Nabi mulai melebarkan sayap dakwahnya ke tempat lain. Mencoba mencari dukungan dari kabilah-kabilah di luar kota Makkah.

Dari puluhan penguasa kabilah yang didatangi, baik di tempat mereka atau di tenda-tenda di saat musim-musim haji, tidak satu pun yang mau menerima seruan dakwah. Ada yang menolak dengan halus, tetapi tidak sedikit yang menolak dengan cara biadab sebagaimana perlakuan Bani Tsaqif di Thaif.

Hingga di tahun ke-11, saat kesulitan dakwah ada di puncaknya, pertolongan yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya tiba. Enam orang jemaah haji dari suku Khajraz yang dikunjungi Nabi saw. di tenda-tenda mereka, menerima apa yang didakwahkan Beliau dengan tangan terbuka.

Dari Yatsrib, Harapan itu Memancar

Suku Khazraj adalah salah satu suku Arab yang ada di kota Yatsrib, sebuah kota yang berjarak sekira 490 km dari kota Makkah. Di masa itu, kota Yatsrib dihuni satu suku Arab lainnya yakni suku Aus, beserta tiga kabilah Yahudi, yakni Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraidzah.

Di masa sebelum Islam, kondisi politik kota Yatsrib selalu panas. Suku Aus dan Khazraj selalu dalam kondisi berseteru. Penyebab utamanya adalah adanya provokasi kaum Yahudi.

Setidaknya, ada empat perang besar yang pernah terjadi di antara mereka. Perang Bu’ats adalah salah satunya. Perang ini terjadi selama beberapa tahun sebelum hijrahnya Nabi. Pemicunya hanyalah soal sepele, yakni perebutan tempat minum unta yang makin rumit karena provokasi Yahudi. Saking hebatnya, para pemimpin masing-masing suku tewas di perang Bu’ats ini.

Di tengah situasi inilah dakwah Nabi saw. menyentuh jiwa kaum Khazraj yang sedang berhaji. Mereka berharap, bisa jadi agama ini adalah solusi atas persoalan hidup kaumnya sehingga mereka pun kembali ke Yatsrib dengan penuh suka cita. Berharap, agama baru ini akan membawa kebaikan untuk mereka.

Lalu di musim haji tahun berikutnya (tahun ke 12 bi’tsah) mereka kembali ke Makkah bersama lima orang baru dari Bani Khazraj dan dua orang dari Bani Aus. Mereka kemudian bertemu dengan Nabi dan membaiat Beliau di Aqabah. Peristiwa inilah yang kemudian dikenal sebagai Baiat Aqabah I yang merupakan baiat kerasulan.

Setelah usai berhaji mereka pun kembali ke Kota Yatsrib, Rasulullah meminta sahabat Mush’ab bin Umair ra. menyertai mereka untuk menyebarkan Islam di sana. Mush’ab pun melaksanakan tugas itu dengan sangat baik. Beliau intens mendatangi para tokoh umat di Yatsrib. Mengajak mereka memeluk Islam sekaligus mengajari penduduk kota itu dengan Al-Qur’an al-Karim.

Setahun sudah Mush’ab berdakwah. Agama Islam pun begitu cepat diterima penduduk kota Yatsrib yang dikenal sangat hanif dan mudah dipersaudarakan. Hingga dalam sirah digambarkan, tidak ada satu rumah pun yang tidak ada pemeluk Islamnya dan tidak ada satu rumah pun yang tidak menyebut-nyebut nama Muhammad.

Tidak heran jika di musim haji berikutnya, yakni di tahun ke-13 dari bi’tsah kenabian, kabilah haji bertambah beberapa kali lipat. Sebanyak 62 laki-laki dan 2 perempuan dari Bani Khazraj dan 11 laki-laki dari Bani Aus berangkat ke kota Makkah. Di antara mereka terdapat para tokoh yang saat bertemu Nabi diminta mewakili masyarakat Yatsrib melakukan baiat yang dikenal dengan peristiwa Baiat Aqabah II.

Berbeda dengan baiat yang pertama, Baiat Aqabah II ini memiliki nilai politik yang sangat menentukan sejarah peradaban manusia, khususnya umat Islam. Baiat ini bukan hanya berisi pengakuan akan kerasulan Nabi Muhammad saw., tetapi berisi tentang penyerahan kekuasaan politik para tokoh Yatsrib kepada Rasulullah sekaligus pernyataan kesiapan mereka berperang di bawah kepemimpinan politik Beliau.

Hingga para ahli sirah pun menetapkan peristiwa ini sebagai momentum yang mengawali tegaknya kepemimpinan Islam yang pertama. Bahkan, ada juga yang menyebutkan, momentum ini menjadi penanda beralihnya fase dakwah dari tahap interaksi dengan umat yang dipenuhi perjuangan politik ke tahap penerapan hukum Islam dalam sebuah negara.

Yatsrib Menjadi Tujuan Hijrah

Setelah momentum bersejarah tersebut, Rasulullah merasa yakin bahwa Yatsrib telah siap menjadi pusat kekuasaan Islam. Itulah sebab Beliau pun memerintahkan kaum muslimin untuk berhijrah ke sana. Hingga tampak bahwa esensi hijrah adalah meninggalkan sistem kufur jahiliah yang ada di Makkah menuju sistem Islam yang asasnya sudah tegak di kota Yatsrib.

Rasulullah sendiri berhijrah bersama Abu Bakar ra. di gelombang terakhir. Rencana makar pembunuhan yang diputuskan oleh para tetua Quraisy dan diwahyukan perkaranya menjadi penanda turunnya perintah Allah agar Rasul-Nya segera berhijrah. Rintangan dan hambatan sepanjang perjalanan hijrah akhirnya bisa Beliau dan sahabat Abu Bakar lalui dengan baik hingga tibalah mereka di kota Yatsrib dengan sambutan yang begitu meriah dan penuh suka cita oleh penduduk yang ada di sana, kecuali segelintir kaum munafik di antara mereka.

Ya, kaum muslim Muhajirin dan Ansar begitu mengelu-elukan Beliau dan saling berebut menawarkan rumah mereka untuk Beliau beristirahat. Ini menunjukkan, dakwah Islam sudah bersemayam sedemikian dalam. Mereka pun sedemikian rindu hidup di bawah kepemimpinan Islam.

Namun kala itu, Rasulullah saw. membiarkan untanya yang memilihkan. Hingga unta itu berhenti di rumah Abu Ayub Al-Anshary. Di rumah itulah Rasulullah kemudian tinggal selama beberapa bulan.

Yatsrib Menjadi Pusat Negara Islam yang Pertama

Saat itu, Rasulullah bersegera melakukan langkah-langkah strategis untuk membangun pilar-pilar pengukuh sebuah negara. Berupa melakukan konsolidasi internal dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar yang bukan hanya berdampak pada kokohnya loyalitas dan ukhuwah di antara warga negara, tetapi juga berdampak pada kokohnya sendi-sendi ekonomi dan sosial warga negara.

Betapa tidak, melalui strategi ini, kaum Ansar berbagi aset ekonomi mereka dengan kalangan Muhajirin. Sekaligus meniadakan gap sosial di antara suku-suku yang berbeda.

Di saat yang sama, Rasulullah saw. pun mendirikan sebuah masjid yang akan menjadi pusat aktivitas ibadah, politik dan sosial bagi negara yang baru dibangunnya. Sebuah masjid yang sederhana, namun memiliki nilai politik yang luar biasa. Masjid itu dibangun di atas sebidang tanah yang sebagian milik As’ad bin Zurrah, sebagian milik kedua anak yatim (Sahal dan Suhail), dan sebagian lagi tanah kuburan musyrikin yang telah rusak.

Tanah kepunyaan kedua anak yatim tadi dibeli dengan harga sepuluh dinar yang dibayar oleh Abu Bakar ra., sedangkan tanah kuburan dan milik As’ad bin Zurrah diserahkan sebagai wakaf. Rasulullah saw. sendirilah yang meletakan batu pertama pendirian masjid, diikuti oleh sahabat-sahabat Nabi yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallaahu ‘anhum.

Kemudian pengerjaan masjid dilakukan bersama-sama hingga selesai. Di salah satu sisi masjid inilah, Beliau membangun rumah untuk istri-istrinya dan di sisi lainnya dibangun pula tempat berlindung bagi orang-orang telantar yang disebut dengan ahlus suffah.

Lalu Beliau pun mengganti nama kota Yatsrib dengan nama Madinah al-Munawwarah (Kota yang Bercahaya) atau Madinah an-Nabawwiyah (Kota Nabi). Dari rumah dan masjid inilah Rasulullah saw. memulai aktivitas sebagai pemimpin negara. Beliau mengatur masyarakat dengan aturan-aturan Islam yang wahyunya turun sejalan dengan berkembangnya berbagai persoalan.

Adapun yang paling fenomenal adalah tatkala Baginda Rasul menyusun piagam Madinah sebagai konstitusi negara Islam yang pertama. Berisi pengaturan tentang hak-hak dan kewajiban warga negara, baik muslim maupun nonmuslim, khususnya kaum musyrik.

Piagam tersebut berisi aturan tentang hubungan antara negara Islam dengan Yahudi yang tinggal di dalam kota Madinah (Bani Qainuqa) serta yang tinggal di sekitar kota Madinah (Bani Nadhir dan Quraidzah) yang keberadaannya memang menjadi masyarakat yang terpisah dari masyarakat Islam.

Selain itu, Beliau menunjuk orang-orang tertentu yang bertugas dengan tugas kenegaraan tertentu. Termasuk membangun kekuatan militer untuk menghadapi ancaman musuh negara di luar kota Madinah sekaligus untuk menimbulkan ketakutan pada kaum munafik yang ada di kota Madinah.

Tidak lupa, Beliau pun mulai mengirimkan duta-duta negara kepada para pemimpin negara asing. Bersamaan dengan mereka, disertakan surat-surat kenegaraan yang Beliau diktekan kepada sekretarisnya dan distempel dengan cincinnya. Isi surat tersebut adalah ajakan untuk beriman sekaligus bergabung di bawah kepemimpinan Islam.

Yang tentu saja kelak terbukti negara Islam yang berpusat di Madinah ini menjadi ancaman baru bagi perimbangan politik dunia, khususnya bagi negara-negara adidaya; Romawi dan Persia. Dari sinilah peradaban cemerlang mulai memancar, dengan tersebar luasnya risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Berharap Keutamaan Itu Kembali

Sungguh, Madinah memang layak mendapat berbagai keutamaan. Hingga Rasulullah menjadikannya salah satu dari dua kota yang disucikan dan menjadi tempat di mana iman tertancap kuat dan selalu dijaga malaikat hingga hari kiamat. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya iman akan kembali ke Madinah sebagaimana kembalinya seekor ular ke dalam sarangnya.” (HR Bukhari-Muslim).

Serta hadis lain yang diriwayatkan Abu Hurairah ra., Rasul bersabda, “Pada jalan-jalan masuk menuju Madinah terdapat para malaikat (yang menjaga) sehingga wabah penyakit dan Dajal tidak bisa melaluinya.”

Hari ini, kita menunggu-nunggu kembalinya pusat peradaban baru Islam, setelah hampir satu abad hilang dari kehidupan kaum muslim. Semoga hari itu segera tiba, dengan hadirnya para pendukung dakwah sebagaimana masyarakat Madinah yang begitu dimuliakan oleh Allah Swt. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin. Wallahualam. [MNews/Has]

Foto sampul: WordPress

Share

One thought on “[Tapak Tilas] Yatsrib, Kota Cahaya Tempat Tegaknya Negara Islam Pertama”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *