[Nafsiyah] Setan dalam Prahara Rumah Tangga

[Nafsiyah] Setan dalam Prahara Rumah Tangga

Setan menempel pada bahtera keluarga yang telah berlayar. Dalam panggung kehidupan rumah tangga, setan akan menciptakan ombak, gelombang, meninggikan karang, dan menyembunyikan gunung-gunung es. Itu semua mampu meluluhlantakkan rumah tangga, memisahkan suami dan istri.


Muslimah News, NAFSIYAH — Kualitas kehidupan kita berbanding lurus dengan kondisi keluarga kita. Bisikan setan dapat meluluhlantakkan keluarga. Menjadi keharusan bagi kita untuk menjaga keluarga kita dari hasutan setan. Allah Swt. berfirman, 

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

(QS Al-Furqan: 74)

Kita tidak mungkin memiliki keturunan yang baik dan suami yang baik jika kualitas keluarga tidak qurrata a’yun (yang menyejukkan pandangan mata). Menjaga keluarga bagaikan menjaga mesin produksi peradaban. Jika kita menemukan suami dan istri saling sabar satu sama lain dan mengharapkan rida Allah Swt., masyaallah, mereka memahami bahwa berkeluarga itu ibadah yang menjanjikan keberkahan.

Setan menempel pada bahtera keluarga yang telah berlayar. Dalam panggung kehidupan rumah tangga, setan akan menciptakan ombak, gelombang, meninggikan karang, dan menyembunyikan gunung-gunung es. Itu semua mampu meluluhlantakkan rumah tangga, memisahkan suami dan istri.

Said bin Musayyib berkata, “Strategi setan sebelum menikah dan setelah menikah berbeda. Sebelum menikah, mendekatkan laki-laki dan wanita (pacaran) kemudian berakhir pada kemaksiatan. Namun, ketika telah menikah, strategi setan memisahkan suami dan istri.”

Misi terbesar setan adalah memisahkan pasangan suami istri. Sebagaimana yang diriwayatkan Muslim dari jalur Jabir bin Abdillah. Nabi saw. bersabda,

“Sesungguhnya iblis itu meletakkan singgasananya di atas lautan lalu mengutus bala tentaranya ke seluruh penjuru dunia. Yang paling besar fitnahnya kepada manusia maka dialah yang paling dekat kedudukannya dengan iblis. Setan datang menemui iblis untuk menyampaikan laporan tentang apa yang baru saja dia lakukan kepada manusia. Setan tersebut mengatakan, dia senantiasa bersama si Fulan untuk menggodanya sampai melakukan banyak dosa. Lalu iblis pun berkata, ‘Demi Allah, engkau belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang lagi tentara iblis yang menyampaikan laporan bahwa dia telah membuat pasangan suami istri bercerai. ‘Saya tidak meninggalkan pasangan suami istri kecuali telah aku pisahkan mereka,’ kata setan tersebut. Mendengar itu, iblis pun mengungkapkan. ‘Kau adalah sebaik-baiknya tentara.’”

Setan meletakkan bom waktu dalam rumah tangga, klimaksnya berpisahnya suami dan istri. Hendaknya kita menyadari untuk berhati-hati dengan hasutan setan. Cara yang paling ampuh untuk tidak terpengaruh dengan hasutan setan ialah membekali ilmu agama dan terus mendalaminya sebagai referensi dalam berumah tangga.

Semestinya pasangan suami dan istri terus memperdalam ilmu agama. Bukan bermalas-malasan menghadiri majelis ilmu. Apalagi sebagai pasangan pejuang Islam, mereka menyadari rumah tangga pejuang Islam bukan hanya setan yang siap kapan saja menghancurkan mahligai keluarga, tetapi berbagai pemikiran kufur, dan sistem yang bertentangan dengan Islam yang menyuasanakan kehidupan keluarga.

Pernikahan bukan seharusnya ingin memperoleh kepuasan dari pasangan kita. Karena setiap pasangan memiliki kekurangan. Mencari kepuasan dibalik makhluk sesuatu yang mustahil. Meniatkan pernikahan untuk ibadah, siap dengan berbagai kekurangan pasangan.

Tidak ada satu pun yang bisa berlapangan dada menerima kekurangan pasangan kecuali ia hanya mengharapkan sesuatu yang besar yaitu rida Allah Swt.. Segala sesuatu yang disandarkan kepada Allah, insyaallah tidak akan mendapatkan kekecewaan.

Para ulama menyampaikan ada tiga ayat yang harus menjadi pegangan kita dalam berkeluarga. Jika mengamalkan tiga ayat ini tidak akan berkutik seluruh perangkap setan.

Pertama, firman Allah Swt., “Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kalian.” (QS Al-Baqarah: 237).

Di sela-sela menjelaskan hukum perceraian, Allah menyelipkan sebuah narasi yang indah, “Jangan pernah melupakan kebaikan yang terjadi di antara kalian.”

Setiap pasangan sering amnesia (lupa ingatan) dengan kebaikan pasangan, terutama para istri (wanita). Setiap pasangan tidak ada yang sempurna. Di balik senyuman terkadang ada kemarahan, di balik ketenangan terkadang ada riak-riak kecil yang menggoyahkan hubungan rumah tangga. Namun, janganlah setiap kekecewaan menjadi alasan bagi kita berpisah dengan pasangan.

Syekh Ali Tantawi, pernah mendapatkan pasangan yang ingin bercerai. Lalu beliau membacakan hukum-hukum tentang talak. Akhirnya sampailah pada ayat 237 dalam Al-Baqarah. Akhirnya pasangannya tidak menuntutnya lagi meminta cerai.

Abu Dardak mengatakan, “Jika aku jadi api maka kamu menjadi air, jika kamu menjadi api maka aku menjadi air.” Abu Dardak merupakan cerminan keluarga yang romantis.

Kedua, Allah Swt. berfirman, “ … mereka (istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka…” (QS Al-Baqarah: 187)

Hal ini merupakan prinsip penting dalam rumah tangga, termasuk pula yang menjadikan kita saling menutup aib dari pasangan masing-masing. Makin banyak orang yang mengetahui masalah kita, makin sulit untuk menyelesaikan masalah rumah tangga tersebut.

Imam Syafi’i mengatakan bahwa kalau ada orang yang sering curhat masalah keluarganya dengan orang lain, artinya orang itu meninggalkan Allah Yang Maha Penyayang (Rahim), lalu berlari ke makhluk yang terbatas rahimnya.

Ketiga, Allah Swt. berfirman, “ … kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19)

Ayat ini berarti bahwa dalam kehidupan rumah tangga tidak mungkin kita tidak menemui apa yang kita benci ada pada pasangan kita. Namun, jangan sampai hal itu menjadi alasan untuk memisahkan kita dari pasangan.

Semoga Allah selalu menjaga rumah tangga kita dari segala tipu daya setan. Menjauhkan kita dari prahara rumah tangga yang berkepanjangan, dan bisa saling bersinergi dalam kehidupan serta perjuangan. Amin. [MNews/Rndy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *