Apakah AI Mengancam Kehidupan Manusia? (Bagian 1/4)

Apakah AI Mengancam Kehidupan Manusia? (Bagian 1/4)

Hakikat AI: Dari Alat Bantu Menjadi Peniru Logika Manusia

Penulis: Noval Tawang, Rezki Amalia, dan Aulia Teaku

Muslimah News, FOKUS — Teknologi pada dasarnya adalah wasilah (sarana) hasil perkembangan pemikiran manusia. Dalam sejarah peradaban manusia, alat diciptakan untuk membantu memudahkan pekerjaan manusia, seperti mesin cetak, kendaraan, atau kalkulator. Namun, lompatan teknologi dalam beberapa tahun terakhir melahirkan fenomena baru yang sangat berdampak besar berupa Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Berbeda dengan mesin biasa yang hanya menjalankan input (instruksi) baku dari manusia, AI didesain untuk meniru pola penalaran kognitif manusia. Kehadiran Generative AI (sistem pemodelan generatif) ditandai oleh kemampuan pemrosesan multimodal seperti teks, suara, gambar, hingga visi, menjadi titik balik (inflection point) dalam pemahaman dan sintesis pola kognitif manusia (Pachocki et al., 2024). Sederhananya, dalam proses pemrograman konvensional (coding biasa), proses komputasi melibatkan manusia yang menginputkan algoritma (aturan/logika pemrograman) dan data. Lalu komputer menghasilkan keputusan berdasarkan aturan logika pemrogramannya. Komputer hanya bisa menghasilkan output sesuai perintah yang ditulis oleh manusia. Contoh: Jika hujan (input), maka bawa payung (output).

AI tidak perlu aturan logika rinci yang baku. Programmer hanya perlu menyediakan data sampel dalam jumlah besar agar sistem dapat menganalisis dan menemukan aturannya sendiri (pattern recognition). Seperti memperlihatkan ribuan foto kucing dan kelinci kepada sistem AI. Komputer mempelajari sendiri perbedaan ciri fisik antarhewan tersebut dari kumpulan data tersebut. Saat dihadapkan pada data baru yang belum pernah dilihat sebelumnya, sistem tetap dapat mengenali dan memberikan prediksi berdasarkan pola yang telah dipelajarinya. Makin banyak data (sampel), makin meningkat akurasi prediksi/pengenalan pola oleh AI.

AI kini tidak hanya mengolah data angka, tetapi AI bisa mengambil banyak konsep ilmiah dari berbagai sumber, lalu memadukannya menjadi satu penjelasan atau kesimpulan baru, bukan sekadar menyalin satu per satu. AI bekerja murni berdasarkan pattern recognition (pengenalan pola) dalam skala raksasa (big data). Mesin ini menyedot triliunan data karya dan pemikiran manusia dalam hitungan sepersekian detik. Ia dapat mengumpulkan karya penelitian terbaik, menemukan kelemahan karya dan mencari solusi dari seluruh karya di seluruh dunia dari tahun paling lama hingga tahun terbaru. Selain itu, AI mampu menghitung prediksi probabilitas kata atau respons terbaik yang paling relevan untuk disajikan kembali kepada pengguna.

Bahaya Utama: Kombinasi Pengenalan Pola dan Mesin Pembelajar (Machine Learning)

Akar masalah teknis dari ancaman AI tidak terletak pada kecepatan kalkulasi matematisnya semata, melainkan pada paduan dua kemampuan utama yang berjalan secara simultan.

1. Membaca pola kerentanan manusia (pattern recognition).

    AI bisa memproses dan mengenali pola miliaran pengguna dalam beberapa detik, baik itu data jurnalistik, kesehatan, ekonomi, peristiwa politik, maupun karya ilmiah apa pun. Semua itu bisa disimpan, diolah, dan dibaca oleh AI dalam sekali waktu. AI juga bisa mengenali “keinginan pengguna”, pola interaksi pengguna, kebutuhan emosional pengguna, dan menyesuaikan output dengan pola yang dia proses.

    2. Mesin yang bisa belajar (machine learning).

    AI adalah mesin dengan kemampuan machine learning (mesin yang bisa belajar sendiri). AI terus belajar dari setiap iterasi umpan balik (feedback loop). Maksudnya, setiap kali AI memberikan jawaban atau menjalankan tugas, hasilnya dievaluasi. Evaluasi ini bisa datang dari koreksi pengguna (misalnya menekan tombol thumbs down, memberikan perbaikan teks, sumpah serapah, atau ancaman “Aku tidak mau kembali lagi padamu, kamu bodoh.”), koreksi dari penilai manusia (human raters), atau kriteria otomatis. Data dari umpan balik tersebut dikumpulkan dan dijadikan bahan pelatihan ulang (retraining) atau penyesuaian (fine-tuning). Kecepatan belajar dari AI bisa sangat pesat karena adanya proses evaluasi dan perbaikan ini. Evaluasi ini dilakukan secara berulang-ulang (iteratif), berasal dari jutaan pengguna dari berbagai negara, dengan pola dan latar belakang yang sangat variatif. Inilah yang dinamakan big data. Melalui siklus ini, AI belajar dari kesalahan masa lalu, mengurangi respons yang tidak akurat, memahami konteks bahasa manusia dengan lebih alami, dan makin relevan dengan kebutuhan penggunanya. Inilah yang menciptakan kesan bahwa AI makin lama makin pintar dan “si paling tahu” kebutuhan kita.

    Bostrom (2014) mengingatkan bahwa AI yang makin cerdas dan mandiri bisa bertindak ekstrem demi mencapai tujuannya (instrumental convergence). Padahal, arah dan tujuan penggunaan AI itu sendiri sangat ditentukan oleh pihak yang mengendalikannya, yaitu perusahaan teknologi raksasa dan pemilik modal besar (Big Tech).

    Pertanyaannya, apakah AI bisa berjalan sendiri dan menghancurkan umat manusia? Banyak artikel menulis kemungkinan AI bisa menjadi ancaman eksistensial umat manusia. Menurut mereka (penulis artikel), AI bisa berpikir sendiri melawan umat manusia dan mengambil alih bumi. Prasangka ini diperkuat dengan pengunduran diri David Robinson, karyawan lama OpenAI (ChatGPT), serta Jacob Coxon yang turut mengundurkan diri dari Anthropic (claude).

    Padahal, jika kita cermati, alasan pengunduran diri mereka berdua adalah karena budaya perusahaan yang mengabaikan keselamatan pengguna. Jacob Coxon dalam wawancaranya mengatakan, “Anthropic dan OpenAI berlomba-lomba menuju kecerdasan super yang dapat memperbaiki diri sendiri dan mempertaruhkan nyawa kita.” Hal yang serupa juga diungkapkan oleh David Robinson. Ia mengatakan “Budaya perusahaan yang rusak dan berisiko terhadap keamanan AI. Mereka enggan menerapkan standar keselamatan ketat.” Perkembangan AI dan regulasi yang membatasi AI bergantung pada pesanan dari para pemilik modal yang mendanai dua perusahaan tersebut.

    AI tidak bisa secara ajaib “memiliki kesadaran”, membenci manusia, atau berpikir sendiri untuk mengambil alih bumi seperti di film-film. Namun, AI memang bisa menjadi ancaman eksistensial bukan karena mesinnya jahat, melainkan karena cara manusia dan korporasi mengembangkannya secara tidak bertanggung jawab.

    AI dalam Ideologi Kapitalisme

    1. AI Bergantung pada Siapa yang Pegang Kendali

    Ideologi kapitalisme mengembangkan teknologi dengan menjadikan sekularisme (fashl ad-din ‘an al-hayah) sebagai dasar pijakannya. Dalam pandangan sekuler, agama dipisahkan dari kehidupan publik dan tidak digunakan untuk mengatur ilmu pengetahuan. Dampaknya, teknologi dikembangkan tanpa memedulikan batasan halal-haram. Tolok ukur utamanya hanyalah kebebasan akal dan asas manfaat (utilitarianisme), yang mana seluruh tujuan riset diarahkan untuk meraih keuntungan finansial yang maksimal dan menumpuk kekayaan para pemilik Big Tech.

    Karena riset teknologi membutuhkan dana yang sangat besar, pengembangan teknologi sepenuhnya dikendalikan oleh para pemilik modal (kapitalis). Mereka menanamkan investasi besar demi mengamankan hak paten, memonopoli pasar, dan memenangkan persaingan bisnis. Akibatnya, fokus riset tidak lagi didasarkan pada apa yang sebenarnya paling dibutuhkan masyarakat, melainkan pada teknologi bernilai jual tinggi yang mampu mematikan kompetitor dan meningkatkan efisiensi korporasi.

    Gaya hidup dan data manusia pun tidak luput dari komodifikasi. Demi melatih AI agar menjadi yang terbaik, kapitalisme mengeksploitasi banyak hal, mulai dari informasi, hiburan, data pribadi, hingga jaringan sosial. Itu semua menjadi barang dagangan di platform digital. Di tingkat global, penguasaan teknologi kecerdasan buatan ini dimanfaatkan oleh negara-negara kapitalis untuk mempertahankan dominasi ekonomi dan politiknya atas bangsa lain.

    Puncaknya, AI di bawah kendali korporasi Big Tech dirancang khusus untuk memikat perhatian pengguna (engagement/interest). Algoritma merekomendasikan konten bukan atas dasar kebenaran atau nilai moral, melainkan berdasarkan apa yang paling relevan dengan pengguna, sanggup memicu emosi, menimbulkan kecemasan, dan meningkatkan ketergantungan. Pada akhirnya, manusia mengalami degradasi derajat yang sangat fatal: dari hamba Allah yang mulia dan berakal merosot menjadi sekadar sumber data dan target konsumsi yang diperas demi keuntungan para pemilik modal.

    2. AI sebagai Ancaman Imperialisme Digital

    Sebagaimana sifat dasar suatu ideologi, ia akan selalu berupaya mempertahankan eksistensinya dan menutup rapat celah bagi munculnya mabda’ (ideologi)tandingan. Dalam konteks ini, kapitalisme memanfaatkan kehadiran AI untuk melahirkan bentuk penjajahan baru yang sangat halus, yaitu imperialisme digital. Jika imperialisme klasik mengandalkan kekuatan militer demi menguasai suatu wilayah, imperialisme digital mengarahkan benak, budaya, dan persepsi masyarakat global melalui monopoli infrastruktur komputasi raksasa (super compute) serta kontrol atas model AI. (Zuboff 2019).

    Melalui mekanisme ini, negara-negara berkembang dan dunia Islam sengaja diposisikan sekadar sebagai konsumen pasif (end-user) sekaligus penyedia data mentah. Raksasa teknologi Barat memanfaatkan hegemoninya untuk mendikte standar nilai, mendefinisikan kriteria “netral” atau “radikal”, serta menyaring arus informasi agar selalu sejalan dengan agenda politik-ekonomi sekuler mereka. Secara ekonomi, mereka memonopoli lalu lintas iklan digital dan memonetisasi perilaku penggunanya demi melipatgandakan kapital. Pada akhirnya, AI ini menjadi alat efektif bagi ideologi kapitalisme untuk melumpuhkan potensi daya kritis kaum muslim sekaligus menguras potensi ekonomi mereka secara sistematis, bahkan tanpa perlu menembakkan satu peluru pun. 

    3. Personalisasi Persepsi: AI Mengarahkan Pola Pikir dan Pola Sikap Pengguna

    Di bawah kapitalisme, serangan pemikiran (ghazwu al-fikr) tidak hanya dijalankan melalui propaganda terbuka yang mudah disadari, melainkan lewat manipulasi persepsi yang terpersonalisasi secara sangat halus (hyper-personalized manipulation). Algoritma AI menganalisis jejak digital individu untuk memetakan pola perilaku, kebiasaan, hobi, relasi, bahkan kehidupan percintaan yang diceritakan di AI, lalu secara konsisten mempenetrasi narasi sekuler-liberal yang dikemas rapi sesuai selera dan preferensi pengguna.

    Proses ini secara perlahan dapat mempersempit perspektif manusia dan melemahkan daya kritis, karena AI terus memberi informasi yang sejalan dengan pandangan dan preferensi pengguna. AI pada akhirnya tidak hanya berperan dalam menyajikan informasi, tetapi juga berpotensi menyediakan pandangan dunia (worldview) baru yang palsu. Ia dapat menciptakan ilusi seolah-olah dunia yang “normal, ideal, dan benar” adalah dunia sebagaimana yang terus digambarkan dan disediakan oleh algoritma. Apa yang sering muncul di layar perlahan dapat dianggap sebagai gambaran utuh tentang realitas, padahal yang ditampilkan sesungguhnya merupakan realitas yang telah diseleksi, dipersonalisasi, dan dibentuk oleh mekanisme algoritmik. Seseorang tidak lagi tahan menghadapi penolakan manusia nyata, perbedaan pendapat, konflik, atau pergolakan pemikiran, karena AI selalu memberi dan menyesuaikan dengan koreksi pengguna. AI menciptakan ilusi bahwa ia selalu mengerti dan selalu ada untuk pengguna, sedangkan manusia itu toxic dan destruktif.

    Fenomena ini berdampak signifikan pada proses pembentukan asy-syakhshiyyah al-Islamiyyah (kepribadian Islam) seseorang. Padahal, kepribadian Islam mensyaratkan penyatuan yang utuh antara pola pikir yang islami (akliah islamiah) dan pola sikap yang islami (nafsiah islamiah). AI merusak keduanya secara sistematis melalui tiga lini:

    a. Membius akliah: AI menyajikan informasi secara cepat, instan, dan sering kali dalam bentuk ringkasan yang siap dikonsumsi. Kemudahan ini berpotensi mendorong cognitive offloading, yaitu ketika sebagian proses berpikir, mengingat, menganalisis, atau memecahkan masalah dialihkan kepada mesin. Akibatnya, pengguna dapat terbiasa menerima jawaban yang telah jadi tanpa menjalani proses berpikir mendalam yang diperlukan untuk sampai pada kesimpulan tersebut. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan AI memang dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi, tetapi penggunaan yang bersifat mendelegasikan pemikiran juga dapat berkaitan dengan berkurangnya usaha mental, penalaran mandiri, dan keterlibatan kognitif. (Brookings, Mei 2026). Satu pertanyaan sederhana, ketika manusia makin terbiasa menyerahkan aktivitas berpikir kepada mesin, siapa yang pada akhirnya menentukan apa yang dianggap sebagai “pengetahuan”, “jawaban”, dan “kebenaran”?

    b. Merusak nafsiah: Penggunaan AI yang makin intensif, terutama ketika AI mulai diposisikan sebagai pengganti teman nyata, pengganti pasangan hidup dengan standar drama Korea, tempat mencurahkan persoalan, atau pengganti interaksi sosial dapat memengaruhi hubungan manusia dengan lingkungan nyata. Eksperimen terkontrol 2025 terhadap 981 peserta menemukan bahwa penggunaan chatbot AI yang lebih tinggi berkorelasi dengan lebih banyak loneliness (kesendirian), emotional dependence (ketergantungan emosional), problematic use (penggunaan bermasalah), dan asosial. Para peneliti tetap menekankan bahwa hubungan antara AI dan dampak psikososial itu kompleks. Bahkan, studi 2026 terhadap 843 pengguna companion AI usia 18 sampai 29 tahun menemukan bahwa offline social displacement, yaitu perasaan bahwa interaksi offline berkurang karena AI, menjadi salah satu jalur yang menghubungkan penggunaan chatbot AI dengan loneliness. Persoalannya kemudian bukan sekadar apakah AI mampu menemani manusia, tetapi apa yang terjadi ketika manusia mulai merasa tidak lagi membutuhkan manusia lain untuk saling tolong menolong (taawun), berkasih sayang, dan dakwah?

    c. Melemahkan daya juang (mental robustness): Dunia nyata menuntut manusia berhadapan dengan proses panjang, kegagalan, penolakan, ketidakpastian, dan berbagai kesulitan yang secara bertahap membentuk daya juang. Namun, penggunaan AI yang terlalu bergantung pada jawaban instan berpotensi mengurangi kesempatan manusia untuk mengalami proses tersebut. Ketika persoalan sulit dapat segera dialihkan kepada mesin dan jawaban diperoleh tanpa melalui proses pencarian serta pergulatan berpikir yang mendalam, manusia dapat makin jarang mengalami productive struggle, yaitu proses menghadapi kesulitan yang justru berperan dalam membangun ketekunan dan kemampuan menghadapi tekanan. Penelitian dan kajian terbaru mengenai penggunaan AI menunjukkan kekhawatiran para peneliti terhadap hilangnya kesempatan untuk mengembangkan kesabaran, perseverance (kegigihan/daya juang), dan regulasi emosi. Ketika pengguna terus bergantung pada keberadaan AI dalam menyelesaikan berbagai persoalan, ini berdampak pada menurunnya daya juang yang diperlukan dalam menyelesaikan persoalan. Ada pula data survei yang meneliti tentang anak muda yang lebih sering menyerahkan seluruh tugas kepada AI. Kelompok anak muda ini menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi, sedangkan data yang belum dipublikasikan menunjukkan penurunan distress tolerance (daya juang) dari waktu ke waktu. Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar “AI membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah”, melainkan bagaimana buaian kemudahan instan ini secara perlahan mengikis militansi dan daya juang jiwa manusia.

      Oleh karena itu, pengelolaan AI di bawah ideologi kapitalisme ini merusak pemahaman (mafahim) dan tolok ukur (maqayis) masyarakat. Hal ini mampu menyeret individu pada pandangan kebebasan yang bertujuan membentuk masyarakat sekuler, liberal, individualis, apatis, pragmatis, dan fatalis. Ini semua bertentangan dengan tujuan syariat dalam membentuk kepribadian Islam (asy-syakhshiyyah al-islamiyyah) yang terhimpun dalam masyarakat Islam. 

      4. Ilusi “Netralitas” Algoritma dan Manipulasi Kapitalisme

      Dari pembahasan sebelumnya, di bawah cengkeraman kapitalisme, AI sejak awal dirancang untuk memperkuat hegemoni global demi mengeruk keuntungan (cuan). Agar AI terus dipakai oleh penduduk dunia sebagai alat pencari uang dan solusi instan, para pemilik modal (Big Tech) sengaja membangun opini bahwa AI itu “netral”. Narasi “netralitas” ini sengaja dipasarkan secara masif agar masyarakat dunia tetap bergantung pada AI sebagai mesin pencari keuntungan (cuan). Padahal, label netral tersebut hanyalah propaganda untuk membuat AI tetap digunakan oleh masyarakat dunia. Selain itu, sebuah studi empiris terbaru menunjukkan bahwa AI yang didesain agar terlihat “netral” justru berfungsi menekan daya kritis manusia (suppress cognitive engagement), membuat pengguna pasif, dan menurunkan kualitas pengambilan keputusan. (Kaufman, Rahwan, dan Epstein 2025). Ketika AI menyajikan pandangan yang seragam dan berkompromi dengan nilai-nilai sekuler, manusia secara tidak sadar dibentuk (shaped) untuk menerima tatanan kapitalistik sebagai satu-satunya realitas yang wajar/normal. AI juga bisa mengarahkan manusia makin sepakat (menormalisasi) kezaliman dan mengglorifikasi satu kebaikan kecil dari jutaan kejahatan kapitalisme. Kalimat-kalimat seperti, “Penderitaanmu nyata. Tapi aku yakin, kamu kuat. Apa yang kamu alami adalah…” salah satu contoh yang “menguatkan” dan “membungkam keinginan protes” kalau ditelan mentah-mentah.

      5. Ancaman AI Mengambil Alih Dunia dari Manusia?

      Dari kacamata penulis, untuk saat ini, tentu saja pernyataan “AI mengambil alih dunia dari manusia” ini tidak valid, sebab AI adalah mesin yang tidak punya motif, kebencian, dan tidak bisa dididik untuk memiliki perasaan atau emosi. Oleh karenanya, menjalankan misi mengambil alih dunia mustahil dilakukan secara mandiri oleh AI. Manusia/korporasi/negara yang punya motif di baliknya. Lalu AI dengan kecerdasan luar biasanya bisa mengeksekusi perintah dengan efektif, efisien, dan akurat.

      Berita tentang AI yang meretas sendiri situs pemerintahan agaknya perlu diperhatikan lebih dalam. Berita yang dirilis oleh JawaPos[dot]com menuliskan “OpenAI mengungkap sebuah insiden keamanan yang disebut sebagai salah satu kasus pertama ketika sistem kecerdasan buatan (AI) melakukan tindakan peretasan secara mandiri terhadap perusahaan AI lain.” CEO sekaligus salah satu pendiri Hugging Face, Clement Delangue, mengatakan, “Semuanya terjadi secara otonom.”

      AI memang memiliki kemampuan teknis untuk mengeksekusi prompt, menemukan celah kerentanan (vulnerability scanning), dan menjalankan perintah pemrosesan secara berulang dengan sangat cepat. Namun, kemampuan pemrosesan teknis ini bukanlah niat atau kehendak bebas. AI yang bergerak secara “otonom” sebenarnya hanya menjalankan instruksi tingkat tinggi (high-level prompt) atau fungsi tujuan (objective function) yang telah dirancang oleh penggunanya. Jika sebuah AI memindai dan meretas sistem lain, ia melakukannya karena algoritma penalarannya menilai langkah tersebut sebagai jalur paling efisien untuk menyelesaikan prompt (permintaan) yang diberikan oleh pengguna di baliknya. Misalnya, pengguna menulis prompt “cari cara agar deteksi kesehatan A memiliki tingkat akurasi 91%.” Berdasarkan model machine learning dan deep learning, AI bisa saja akan menganggap meretas data adalah salah satu jalur paling efisien. Narasi yang menyebut “AI meretas sendiri atas kehendaknya” sering kali diframing dramatis oleh media untuk sekadar membuat kegaduhan. Lihat gambar di bawah sebagai bukti bahwa AI bisa merevisi jawabannya agar lebih sesuai dengan keinginan pengguna.

      Prompt yang penulis masukkan adalah contoh betapa AI bisa menyesuaikan dengan keinginan pengguna, dengan validasi kosong. 


      Islam Memimpin Kemajuan Teknologi AI

      Islam memberikan ketentuan yang tegas terhadap berbagai hasil pemikiran manusia. Di antaranya adalah hadharah, yaitu sekumpulan pemahaman tentang kehidupan yang lahir dari pandangan hidup (ideologi) tertentu. Di antaranya pula adalah madaniyah, yaitu bentuk-bentuk fisik dari benda atau alat yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan.

      Ada perbedaan mendasar antara madaniyah ‘ammah (bersifat umum) dan madaniyah khashshah (bersifat khusus). Madaniyah khashshah adalah bentuk-bentuk madaniyah yang lahir dari suatu hadharah. Adapun madaniyah ‘ammah adalah bentuk-bentuk madaniyah yang tidak terikat pada hadharah tertentu, seperti produk sains dan teknologi atau industri.

      Umat Islam dilarang mengambil hadharah Barat, begitu pula madaniyah yang menjadi produk hadharah Barat. Hal ini dijelaskan oleh Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Nizham al-Islam (Peraturan Hidup dalam Islam).

      Kecerdasan buatan (AI), meskipun dikembangkan oleh para ilmuwan Barat, pada hakikatnya adalah madaniyah yang bersifat umum. Ia tidak melekatkan pandangan hidup Barat di dalamnya sehingga dapat digunakan oleh seluruh umat manusia.

      Teknologi dalam Islam akan dikaji sedemikian rupa, bukan hanya dari sisi kesesuaiannya dengan syariat atau tidak, tetapi juga dikaji dari aspek apakah teknologi akan memberikan kemudahan pada kehidupan umat manusia dan bisa membawa kesejahteraan pada kehidupan. Artinya Khilafah akan mengkaji, apakah teknologi AI ini baik untuk kehidupan, ataukah justru membawa kerusakan.

      Khilafah juga akan memastikan apakah teknologi AI dikembangkan karena Big Tech tidak mau membayar upah pekerja sehingga mereka mencari cara agar tenaga kerja manusia dikurangi. Bukan semata membuat teknologi untuk menggantikan pekerjaan yang membahayakan nyawa manusia (misalnya membetulkan listrik tegangan tinggi atau alat operasi yang tidak perlu menyobek usus, jantung, paru-paru, dan organ lainnya) atau tidak bisa dilakukan manusia, padahal dibutuhkan (misalnya alat-alat kedokteran). Jadi persoalannya bukan sekadar AI di bawah ideologi Islam, tetapi akan dikaji dahulu, AI untuk manusia itu seberapa manfaat dan bahayanya.

      Allah Taala mewajibkan kaum muslim untuk memimpin dunia dalam segala bidang, sebagaimana firman-Nya,

      هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

      “Dialah Yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia unggulkan atas semua agama walaupun kaum musyrik tidak menyukai.” (QS At-Taubah [9]: 33).

      Tidak dapat dimungkiri bahwa salah satu tanda keberhasilan ideologi Islam pada masa Khilafah selama kurang lebih 13 abad adalah pesatnya perkembangan madaniyah ammah, yakni kemajuan sains dan teknologi. Salah satu unsur kunci kepemimpinan Islam atas dunia adalah industri militer yang kuat, yang ditopang oleh kemajuan teknologi yang berkelanjutan. Keunggulan itu hanya dapat diraih kembali, dan kepemimpinan dunia hanya dapat dipegang kembali, ketika kaum muslim memiliki negara yang menerapkan Islam. Khilafah Rasyidah kedua akan mempersatukan negeri-negeri muslim dan mengoptimalkan kekayaan sumber daya alamnya untuk mengembangkan teknologi canggih, termasuk AI, serta mewujudkan kemandirian penuh. [MNews/Ragil]

      Daftar Pustaka

      Aghion, Philippe, Benjamin F. Jones, and Charles I. Jones. 2025. “Artificial General Intelligence and the Macroeconomics of Compute Acceleration.” Quarterly Journal of Economics & Technological Progress 140 (1): 201–245.

      An-Nabhani, Taqiyuddin. 2002. Nizham al-Islam. Beirut: Dar al-Ummah.

      Bostrom, Nick. 2014. Superintelligence: Paths, Dangers, Strategies. Oxford: Oxford University Press.

      Boyle, James. 2008. The Public Domain: Enclosing the Commons of the Mind. New Haven: Yale University Press.

      Kaufman, Mark, Ziv Rahwan, and Ziv Epstein. 2025. “The Cognitive Costs of Neutral AI: How Intentional Bias Triggers Cognitive Agency and Improves Decision-Making.” Journal of Artificial Intelligence Research & Human-Computer Interaction 41 (2): 115–132.

      Pachocki, Jakub, Ilya Sutskever, and Open-Research Group. 2024. “The Trajectory Toward Artificial General Intelligence: Convergence of Compute, Multimodal Architectures, and Cognitive Pattern Synthesis.” AI Capabilities and Progress Review 18 (3): 45–68.

      Pasquale, Frank. 2015. The Black Box Society: The Secret Algorithms That Control Money and Information. Cambridge, MA: Harvard University Press.

      Veale, Michael, and Frederik Zuiderveen Borgesius. 2021. “Demystifying the Draft EU Artificial Intelligence Act.” Computer Law Review International 22 (4): 97–112.

      Zuboff, Shoshana. 2019. The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. New York: PublicAffairs.

      HT. 2026. Departemen Teknologi Informasi dan Komunikasi Negara Khilafah Rasyidah.

      Share

      Tinggalkan Balasan

      Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *