Penulis: Nida al-Khair
Muslimah News, FOKUS — Gema selawat datang dari berbagai penjuru negeri pada Rabiulawal ini. Umat Islam berduyun-duyun menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Pembacaan selawat, tablig akbar, dan pawai dilakukan dengan semarak. Umat Islam bergembira memperingati hari kelahiran sang Rasul yang sangat mereka cintai.
Namun, satu hal yang perlu kita renungkan dalam perayaan Maulid Nabi ini adalah apakah kita sudah benar-benar mengikuti risalah yang Rasulullah ﷺ bawa? Ataukah selama ini Maulid berhenti sebatas seremonial tahunan dan kegembiraan singkat sehingga ketika momen Maulid berlalu, tidak ada lagi spirit Maulid yang tersisa?
Kemaksiatan tetap merajalela, kezaliman terjadi di mana-mana, korupsi menggerogoti negeri, kebijakan penguasa mencekik rakyat, riba serta zina dinormalisasi, alam dieksploitasi hingga rusak dan berujung bencana, dan nyawa manusia seolah-olah tidak ada harganya. Apakah seperti ini kehidupan yang dicontohkan Nabi ﷺ? Tentu tidak.
Saat ini spirit mengikuti risalah Nabi ﷺ direduksi sekadar meniru akhlak personal beliau, seperti jujur, sabar, syukur, kanaah, dan lemah lembut. Sementara itu, risalah yang lainnya luput dari perhatian, seperti aspek politik (dalam dan luar negeri), ekonomi, pendidikan, kesehatan, industri, dan militer. Saat ini kita dapati pada semua aspek tersebut umat Islam dalam posisi lemah dan penuh kerusakan.
Sebagian umat menyadari kerusakan tersebut dan muncullah upaya perubahan yang dimotori kalangan intelektual, termasuk mahasiswa. Namun sayang, perubahan yang didengungkan masih seputar perubahan orang (pemimpin), padahal Indonesia sudah mengalami pergantian pemimpin berkali-kali dan tidak terjadi perubahan hakiki. Negeri ini tetap diliputi kerusakan, bahkan makin parah. Kerusakan multidimensi ini berakar pada sistem rusak bernama kapitalisme. Oleh karenanya, umat membutuhkan perubahan hakiki, yaitu perubahan sistemis ideologis. Lantas, apa esensi peringatan Maulid agar membawa kepada perubahan hakiki?
Itibak Rasul Tidak Cukup Hanya Akhlak
Peringatan Maulid lahir dari rasa cinta pada Rasulullah ﷺ. Wujud rasa cinta pada Rasul adalah mengikuti risalah yang beliau bawa. Oleh karenanya, esensi peringatan Maulid Nabi adalah itibak, yaitu mengikuti apa pun risalah yang beliau ﷺ bawa. Allah Swt. berfirman,
وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah.” (QS Al-Hasyr: 7).
Hal ini berkonsekuensi pada keterikatan terhadap syariat Islam secara kafah. Allah Taala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٢٠٨
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208).
Keterikatan terhadap hukum syariat merupakan bukti keimanan dan cinta kita pada Rasul. Allah Taala berfirman,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ٦٥
“Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian, tidak ada keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya.” (QS An-Nisa: 65).
Dengan demikian, wujud beritibak kepada Rasul bukan hanya meniru akhlak beliau, melainkan mengikuti seluruh syariat Islam yang beliau bawa.
Islam merupakan din yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan, “Islam didefinisikan sebagai agama yang diturunkan Allah Swt. kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ untuk mengatur hubungan manusia dengan Khaliknya, dirinya, dan dengan sesamanya. Hubungan manusia dengan Khaliknya mencakup urusan akidah dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya mencakup akhlak, makanan/minuman, dan pakaian. Sedangkan hubungan manusia dengan sesamanya mencakup muamalah dan ukubat/sanksi.” (Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham al-Islam, Bab “Nizham al-Islam”).
Adapun akhlak merupakan bagian dari syariat Islam, ia terikat dengan perintah dan larangan Allah. Oleh karenanya, itibak Rasul bermakna mengikuti syariat Islam secara total (kafah), bukan hanya pada aspek akhlak. Membatasi itibak Rasul hanya pada aspek akhlak merupakan sebuah kekeliruan karena bertentangan dengan nas.
Allah Taala memerintahkan kita (umat Islam) untuk menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai uswah hasanah (teladan yang baik). Allah Taala berfirman,
قَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat, serta yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21).
Imam Ibnu Katsir berkata dalam Tafsîr Al-Qur‘ân al-‘Azhîm, “Ayat yang mulia ini merupakan dalil pokok yang paling besar dalam meneladan Rasulullah ﷺ dalam semua perkataan, perbuatan, dan berbagai hal lainnya.” Dengan demikian, wujud meneladan Rasul adalah mengikuti semua perkataan, perbuatan, dan berbagai hal lainnya yang berasal dari beliau, atau dengan kata lain menerapkan Islam secara kafah.
Itibak kepada Rasul secara kafah membutuhkan adanya negara yang menerapkan syariat Islam kafah. Sedangkan dalam sistem kehidupan dan negara sekuler (yang tidak menerapkan Islam kafah), itibak secara kafah tersebut tidak bisa terwujud.
Metode Dakwah Rasulullah ﷺ
Realitasnya, saat ini kita belum bisa beritibak Rasul secara total, melainkan masih parsial, bahkan baru pada sebagian kecil hukum, yaitu ibadah ritual dan akhlak. Negeri ini dan dunia secara keseluruhan berada di bawah kepemimpinan ideologi sekuler kapitalisme. Hasilnya adalah kerusakan luar biasa pada seluruh dimensi kehidupan manusia. Oleh karenanya, dibutuhkan aktivitas perubahan dari sistem kapitalisme menuju sistem Islam.
Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan tentang tata cara perubahan dari sistem yang rusak menuju sistem yang sahih (Islam). Beliau telah mengubah masyarakat Arab dari sistem jahiliah menjadi sistem Islam dengan aktivitas dakwah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meneladan metode dakwah Rasul hingga terwujud perubahan yang hakiki.
Metode dakwah Rasulullah ﷺ ditempuh melalui tiga tahapan (marhalah), yaitu tahap pembinaan dan pengaderan (tatsqif), tahap berinteraksi dengan masyarakat dan perjuangan (tafa’ul ma’al ummah wal kifâh), dan tahap penerimaan kekuasaan (istilamul hukmi).
Tahap pembinaan dan pengaderan dimulai sejak beliau diutus menjadi Rasul, yaitu ketika turun firman Allah Taala QS Al-Muddatstsir [74]: 1—2. Beliau mulai mengajak orang per orang untuk memeluk Islam hingga terkumpul sekelompok orang yang beliau bina di Rumah Arqam. Beberapa dari mereka diutus untuk menyampaikan dakwah kepada yang lain hingga pengikut Rasul mencapai 40 orang dalam waktu tiga tahun.
Selanjutnya tahap interaksi dengan masyarakat dan perjuangan (tafâ’ul ma’al ummah wal kifâh) yang dimulai setelah Rasulullah mendapat perintah dari Allah Taala dalam QS Al-Hijr: 94. Beliau dan para sahabat melakukan dakwah secara terbuka kepada seluruh masyarakat Jazirah Arab. Beliau mengajak masyarakat dengan penyampaian yang bersifat kolektif, termasuk kepada jemaah haji dari berbagai penjuru Arab (meski mendapatkan banyak penolakan), hingga akhirnya tokoh-tokoh Madinah menerima dakwah beliau. Rasulullah ﷺ meminta dukungan (thalab an-nushrah) kepada pemimpin suku Aus dan Khazraj (Madinah) hingga akhirnya mereka memberikan kekuasaan pada Rasulullah untuk dipimpin dengan sistem Islam pada Baiat Aqabah II.
Pada tahap penerimaan kekuasaan (istilamul hukmi), Rasulullah hijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam di sana. Beliau menerapkan syariat Islam kafah di dalam negeri dan berhasil menyelesaikan seluruh problem umat. Beliau juga melakukan dakwah dan jihad ke luar negeri.
Para khalifah meneladan kepemimpinan beliau dengan senantiasa menerapkan syariat kafah dan menggelorakan jihad ke seluruh penjuru bumi. Keislaman kita saat ini adalah salah satu hasil kerja keras ekspedisi dakwah dan jihad yang dilakukan Khilafah. Penerapan Islam di negeri-negeri yang dibebaskan telah berhasil mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin sebagaimana firman-Nya,
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧
“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya [21]: 107). Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk meneladan metode dakwah Rasulullah ﷺ sehingga terwujudlah kehidupan Islam yang penuh kemuliaan. Wallahualam bissawab. [MNews/CJ]
