Muslimah News, TELAAH KITAB — Allah Swt. berfirman, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS Thaha [20]: 132).
“Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya. Dia memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Asy-Sura [42]: 19).
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS Al-Maidah [5]: 88).
“Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS Al-Baqarah [2]: 212).
“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi?” (QS Fathir [35]: 3).
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab sahihnya, bahwa Nabi saw. bersabda, “Seandainya engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, maka pasti (Allah memberikanmu) rezeki, sebagaimana seekor burung (yang pada pagi hari terbang keluar sarangnya-peny.) dalam keadaan lapar, tetapi (pulang pada sore hari-peny.) dalam keadaan kenyang.”
Nas-nas di atas menyandarkan permasalahan rezeki seluruhnya hanya kepada Allah Swt. dan menisbahkan kepada-Nya. Ini menunjukkan dengan gamblang bahwa Allahlah yang memberikan rezeki kepada manusia.
Selain nas-nas tersebut di atas, masih banyak nas-nas lain yang menisbahkan dan menyandarkan persoalan rezeki hanya kepada Allah Swt. saja. Semua itu menunjukkan sandaran yang hakiki dan tujuan dari persoalan rezeki. Jadi bukannya persoalan penciptaan perbuatan (untuk meraih rezeki) dengan penciptaan rezeki itu sendiri, sebagaimana yang dipahami dari ayat lain.
Adapun apa yang terdapat (dalam nas) yang menisbahkan rezeki terhadap selain Allah, maka hal itu bukan dimaksudkan menisbahkan rezeki kepada manusia. Pemahaman semacam ini sesungguhnya tidak dijumpai, baik di dalam ayat maupun hadis. Sebabnya, Allah sendirilah yang memberikan rezeki. Rezeki itu dinisbahkan kepada manusia (sebagai perantara-peny.), yang disampaikan kepada manusia lainnya sebagai pemberian. Misalnya saja dalam firman Allah Swt., “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu).” (QS An-Nisa [4]: 5).
Maksud ayat ini adalah berikanlah kepada mereka makanan. Ini pun jika yang dimaksudkan rezeki itu sama dengan harta, yaitu setiap benda yang memiliki nilai seperti kata (waksuhum) dalam ayat tersebut. Contoh lainnya adalah firman Allah Swt., “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim, dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya).” (QS An-Nisa [4]: 8).
Ayat ini bermaksud berilah mereka rezeki dari hasil yang kalian usahakan. Ini berupa perintah untuk memberikan rezeki tersebut, bukan menisbahkan rezeki kepada mereka. Jadi, tidak ada nisbah rezeki dengan makna sebagai pelaku (pemberi rezeki-peny.), kecuali Allah Taala.
Firman Allah (nahnu narzukukum) atau pun (wa rizku rabbika) atau juga ayat (kulu wasyrabu min rizkillahi), semuanya menunjukkan bahwa nisbah rezeki disandarkan kepada Allah. Makna seperti ini harus dipahami apa adanya.
Tidak diterima takwil makna-makna lainnya. Allah Swt. satu-satunya Yang Maha Pemberi Rezeki dan rezeki itu ada di tangan Allah saja. Firman Allah, “Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.'” (QS Yunus [10]: 31).
Iman kaum muslim dalam perkara rezeki ini menerima sepenuh hati apa yang dipaparkan dalam ayat-ayat yang bentuknya sangat jelas. Namun, tatkala mereka menyaksikan bahwa usaha yang mereka lakukan mendatangkan rezeki, maka muncul keraguan atas apa yang selama ini diterimanya dengan sepenuh hati, yakni Allah satu-satunya yang Maha Pemberi Rezeki.
Kemudian keluarlah dari mulut-mulut mereka ucapan bahwa Allah memang Pemberi Rezeki, tetapi hal itu karena jerih payah mereka. Ini menunjukkan bahwa rezeki datang karena hasil usaha mereka, bukan dari Allah. Artinya, jika mereka tidak melakukan usaha, rezeki tidak akan datang. Sesungguhnya mereka menyaksikan sendiri bahwa rezeki diberikan pula kepada orang-orang yang tidak melakukan usaha apa pun.
Penyebab hal ini adalah karena masyarakat mencampuradukkan antara persoalan kepemilikan dan rezeki dengan keadaan yang bisa mendatangkan rezeki. Juga bercampur dengan penyebab pasti yang mendatangkan rezeki. Hakikatnya, terdapat perbedaan antara kepemilikan dengan rezeki. [MNews/RR-YG]
Sumber: Hadits Shiyam

One thought on “[Telaah Kitab] Rezeki Berada di Tangan Allah Taala (Bagian 1/2)”