Muslimah News, INTERNASIONAL— Pada konferensi pers (6-9-2024) di Haiti, Menlu AS Antony Blinken berharap normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan institusi Zion*s Yahudi segera terjalin sebelum Presiden Joe Biden mengundurkan diri pada bulan Januari. Hal itu ditegaskannya di sela-sela pidato yang mendesak Zion*s Yahudi dan Ham*s menuntaskan gencatan senjata segera.
Pengamat politik Budi Mulyana menyampaikan analisisnya tentang tujuan AS di balik upayanya. “Ini menjadi bukti keberhasilan kepemimpinan Joe Biden dalam mewujudkan eksistensi [Zion*s] Yahudi. Oleh karena itu, pemerintahan Biden berusaha mendapatkan satu tambahan negara [yakni Arab Saudi] yang melakukan normalisasi hubungan dengan institusi [Zion*s] Yahudi,” ujarnya dalam diskusi “Munafik! Negara-Negara Arab Ini Justru Dukung Israel Hancurkan Palestina”, Ahad (15-9-2024) di YouTube Khilafah Channel.
Menurutnya, salah satu kepentingan AS atas negara-negara Arab adalah mempertahankan eksistensi Zion*s dan itu menjadi prioritas pemerintahan AS siapa pun presidennya baik dari Partai Demokrat atau Partai Republik tidak ada bedanya. “Zion*s Yahudi adalah negara periferal yang paling berbeda di kawasan Timur Tengah, sehingga penerimaan Yahudi sebagai bentuk negara di tengah-tengah negeri-negeri muslim sangat penting. Institusi [Zion*s] Yahudi hadir dengan konspirasi dunia internasional. Mereka berupaya untuk mendapatkan diplomasi tertinggi. Pengakuan ini penting di mata AS agar Zion*s dapat diterima di kawasan Arab yang akan dilanjutkan dengan normalisasi,” bebernya.
Normalisasi
Tujuan AS, menurut Budi adalah normalisasi hubungan Zion*s Yahudi dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan tantangan bagi AS agar targetnya tercapai bergantung pada situasi konflik di Palestina. “Rancangan normalisasi itu sudah dirancang sebelum 7 Oktober 2023, tetapi setelah peristiwa itu justru meningkatkan eskalasi perang di Palestina, baik serangan Ham*s maupun serangan institusi [Zion*s] Yahudi yang jauh lebih kejam karena menewaskan 40 ribu warga di Gaza maupun Tepi Barat,” paparnya.
Walaupun perang pernah mereda, ungkapnya, tetapi pengeboman terus berlangsung. “Genjatan dilakukan sementara agar normalisasi bisa terjadi terlebih dahulu, maka AS mendorong gencatan senjata. Berbicara gencatan senjata dengan tipikal pemimpin Ham*s, hal itu menjadi tantangan Amerika,” tambahnya.
Prihatin
Budi prihatin, pemimpin negeri-negeri muslim hanya mengeluarkan kecaman kepada institusi Zion*s Yahudi tanpa menghentikan kebiadaban mereka. “Seberapa banyak lagi korban yang dibutuhkan untuk bisa mengetuk hati para pemimpin dunia Islam? Harus seberapa kejam lagi Zion*s Yahudi sehingga membuat para pemimpin umat Islam, khususnya di kawasan Timur Tengah bisa bergerak membantu saudara-saudaranya di Palestina dengan bantuan yang nyata?” tegasnya.
Menurutnya, bantuan kemanusiaan adalah bantuan yang bisa mengurangi penderitaan, tetapi tidak bisa menghentikan dan menyelesaikan masalah di Palestina. “Sejak eksistensi Zion*s muncul 1948 dan ketika kekalahan Kekhalifahan Turki Utsmani setelah Perang Dunia I, kekejaman, penindasan, pengambilalihan aset dari umat Islam terjadi terus-menerus,” jelasnya.
Alih-alih mengusir entitas Zion*s, lanjutnya, justru penguasa-penguasa negeri muslim malah mengukuhkan keberadaan mereka. “Peperangan yang mereka lakukan malah memperkuat eksistensi [Zion*s] Yahudi karena peperangan itu penuh tipu daya. Pemimpin-pemimpin negeri muslim bagian dari tipu muslihat untuk memperkukuh eksistensi [Zion*s] Yahudi karena mereka menyarankan two state solution (solusi dua Negara-red.),” bebernya.
Menurutnya, secara historis, tidak sah keberadaan institusi Zion*s Yahudi yang dicangkokkan di tanah Palestina, orang-orang didatangkan kemudian mengambil tanah yang dimiliki umat Islam di sana.
“Tidak ada aspek legalitas hukum untuk menerima institusi [Zion*s] Yahudi. Inilah bagian dari konspirasi internasional dan hegemoni Barat untuk menanamkan kepentingannya dalam menghadapi dunia Islam. Kita tidak bisa berharap banyak pada penguasa-penguasa dunia Islam, bahkan mereka menerima eksistensi [Zion*s] Yahudi ini dengan normalisasi sehingga bisa hidup berdampingan,” tandasnya. [MNews/IK]
