Maulid dan Kepemimpinan Rasulullah ﷺ

Maulid dan Kepemimpinan Rasulullah ﷺ

Penulis: Dr. Rini Syafri

Muslimah News, FOKUS — Maulid Rasulullah ﷺ haruslah dimaknai sebagai kelahiran insan mulia yang ditugaskan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai suri teladan kepemimpinan dunia. Sebabnya, beliau ﷺ diutus tidak hanya sebagai penyampai risalah, tetapi juga pelaksana fungsi dan tugas negara.

Berhubung selain satu-satunya yang layak dijadikan qa’idah dan qiyadah fikriyyah (tata cara dan kepemimpinan berpikir), Islam juga harus diwujudkan secara praktis melalui keberadaan negara dan peradaban. Hal ini tampak dari aktivitas politik beliau, baik selama berdakwah di Makkah maupun Madinah. 

Di Madinah ditunjukkan oleh aktivitas politik bahwa beliau ﷺ adalah pemilik wewenang dan tanggung jawab pada level negara. Bahkan, beliau adalah pelaksana langsung fungsi asli negara dengan sifatnya sebagai negara adidaya lagi penyejahtera, yakni sebagai junnah (pelindung) bani insan dari berbagai kezaliman dan kerusakan.

Di sisi lain, beliau sebagai raa’in, yaitu pihak yang paling bertanggung jawab dalam pengurusan kemaslahatan publik di samping urusan agama.  Perkara ini begitu menonjol dalam semua aspek kemaslahatan insan, termasuk aspek pemenuhan kebutuhan dasar mereka, seperti kesehatan, pendidikan, dan pangan. Demikian juga sandang, perumahan serta pemukiman, transportasi dan energi. 

Perkara ini tidak pernah dilalaikan sedikit pun.  Ini karena di samping sahihnya visi kepemimpinan dan pola unik kehidupan masyarakat dengan tujuannya, juga didukung oleh keseluruhan sistem kehidupan Islam itu sendiri, khususnya sistem pemerintahan dan ekonomi Islam. Ini tampak antara lain pada konsep kekuasaan yang bersifat sentralisasi. 

Alhasil, negara memiliki wewenang yang memadai untuk pengambilan berbagai keputusan politik sesegera mungkin. Pada saat yang sama, konsep administrasi bersifat desentralisasi yang mengacu pada tiga prinsip, yaitu kesederhanaan aturan, cepat dalam pelaksanaan, dan dilakukan oleh individu yang kapabel. Juga kemampuan finansial negara yang memadai dengan penganggaran mutlak berbasis baitulmal. 

Tidak hanya itu, keberadaan beliau ﷺ suri teladan pemimpin negara juga begitu jelas dari karakter personal beliau, seperti takwa, berkepribadian pemimpin, tetapi bersifat lemah lembut. Relasinya dengan rakyat diliputi nasihat, kehati-hatian dari menyentuh harta rakyat, serta hanya menerapkan Islam. Semua ini meniscayakan setiap individu publik terpelihara akan kemaslahatan mereka, yakni ketika syarak diposisikan sebagai pemilik kedaulatan. 

Setelah beliau ﷺ wafat, model kepemimpinan istimewa itu dilanjutkan oleh para khalifah hingga berlangsung selama 13 abad. Kesejahteraan menjadi ciri kehidupan masyarakat. Kelestarian lingkungan pun begitu terjaga. Bandingkan dengan kondisi hari ini. Di bawah kepemimpinan sekularisme kapitalisme dengan sistem politik demokrasi, yang ada tersisa hanyalah kesengsaraan dunia. 

Matinya fungsi asli negara adalah realitas. Kelalaian negara dalam mewujudkan kemaslahatan masyarakat, utamanya dalam pemenuhan hajat hidup asasi, menjadi karakter dan sudah berada pada puncaknya. Dicerminkan oleh dehumanisasi dan krisis iklim yang mengglobal. 

Oleh karenanya, kehadiran kembali kepemimpinan Islam hari ini adalah perkara urgen yang tidak perlu diperdebatkan lagi. Lebih dari itu, ia merupakan kewajiban dari Allah Swt. kepada kita semua. Allahualam. [MNews/GZ]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *