Abdullah bin Qais, Dai dan Hakim Umat Rasulullah ﷺ

Abdullah bin Qais, Dai dan Hakim Umat Rasulullah ﷺ

Penulis: Chusnatul Jannah

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Setelah Khalifah Umar bin Khaththab ra. mengutusnya ke Basrah menjadi panglima dan Gubernur Basrah, ia mengumpulkan warganya dan berpidato di depan mereka lalu berkata, “Sesungguhnya Khalifah Umar mengirimku kepada kalian agar mengajarkan Kitabullah dan Sunah Rasulullah, serta membersihkan jalan untuk kalian.”

Seluruh warga terheran. Mengajarkan Islam memang menjadi tanggung jawab seorang pemimpin, tetapi sejak kapan membersihkan jalan juga menjadi tanggung jawab gubernur? Bagi warga, ini adalah hal baru yang penuh tanda tanya, takjub, dan rasa heran.

Siapakah sosok gubernur ini? Hasan al-Basri pernah mengungkap sosoknya, “Tidak ada seorang pengendara yang datang ke Basrah, yang lebih baik bagi penduduknya, selain ia.” Ia adalah Abdullah bin Qais atau lebih tenar dengan nama kunyah-nya Abu Musa al-Asy’ari. Kisahnya sangat menginspirasi.

Sosok Abu Musa

Abu Musa lahir di Yaman. Ibunya adalah seorang perempuan Makkah yang bernama Zhabiyyah binti Wahb. Sang ibu memeluk Islam dan wafat di Madinah. Abu Musa adalah seorang laki-laki Arab yang pendek, badannya kurus, dan janggutnya tidak lebat. Ia meninggalkan tanah kelahirannya setelah mendengar munculnya seorang Rasul yang menyerukan ketauhidan di Makkah dan mengajak menyembah Allah dengan argumentasi yang tepat dan berakhlak mulia.

Selama pindah ke Makkah, Abu Musa menghabiskan waktu berada di majelis Rasulullah ﷺ untuk menerima petunjuk dan keimanan kepada Allah Taala. Selang beberapa waktu tinggal di Makkah, Abu Musa kembali ke kampung halamannya untuk menyebarluaskan Islam di Yaman.

Di Yaman, Abu Musa al-Asy’ari berhasil mendakwahi beberapa orang dari kaumnya. Ia kembali ke Madinah usai Perang Khaibar, bersamaan dengan datangnya Ja’far bin Abi Thalib dan sahabat lainnya dari Habasyah. Abu Musa tidak datang sendiri ke Madinah. Ia berhasil membawa 50 lebih laki-laki Yaman yang masuk Islam, juga bersama dua saudaranya bernama Abu Ruhm dan Abu Burdah.

Rasulullah menyebut golongan ini sebagai Kabilah Asy’ari dan memberi pujian untuk mereka sebagai kelompok yang berhati lembut. Tidak hanya itu, Rasul memberi perumpamaan perihal kepribadian mereka yang lembut, “Orang-orang Asy’ari ini jika mengalami paceklik atau kekurangan makanan dalam satu peperangan, mereka mengumpulkan makanan yang mereka miliki pada selembar kain. Lalu, mereka bagi rata. Mereka bagian dariku dan aku bagian dari mereka.”

Kedudukan Abu Musa

Sejak masuk Islam, Abu Musa ada dalam barisan terdepan kaum muslim. Ia merupakan sahabat sekaligus murid Rasulullah serta juru dakwah andal bagi perjuangan menyebarluaskan Islam ke seluruh dunia. Abu Musa adalah seorang prajurit tangguh dan berani di setiap medan perang yang ia ikuti. Rasulullah menyebut tentang dirinya, “Pahlawan pasukan berkuda ialah Abu Musa”. Sifatnya ramah, baik, dan mengutamakan perdamaian.

Selain itu, Abu Musa juga memiliki keahlian di bidang fikih, berpikiran cerdas, mudah mencari solusi dalam setiap permasalahan, dan keputusannya menjadi rujukan bagi sahabat dan umat Islam. Keutamaannya inilah yang membuatnya memiliki kedudukan penting di mata Rasulullah, para sahabat, dan orang-orang yang dipimpinnya. Ada satu ungkapan yang cukup mewakili kedudukannya, “Hakim umat ini ada empat orang, [yakni] Umar, Ali, Abu Musa, dan Zaid bin Tsabit.”

Dalam menjalankan tugas yang diemban, Abu Musa sangat bertanggung jawab. Di antara semboyan hidupnya yang dapat menginspirasi kita adalah, “Yang penting Ikhlas! Apa pun yang akan terjadi setelah itu, terjadilah”.

Dalam peperangan melawan imperium Persia, Abu Musa berjasa besar. Dalam pertempuran di Tustar, yang merupakan benteng perlindungan terakhir bagi Hurmuzan dan pasukannya yang berjumlah besar, Abu Musa menjadi pahlawan dan bintang kemenangan kaum muslim. Kala itu, Khalifah Umar bin Khaththab ra. mengirim bala bantuan pasukan yang cukup besar dipimpin oleh Ammar bin Yasir, Bara’ bin Malik, Anas bin Malik, Majza’ah al-Bakri, dan Salamah bin Raja’. Berkat taktik dan kecerdikan Abu Musa, pasukan Islam berhasil mengepung Tustar dan berhasil menguasai benteng pertahanan mereka.

Selain cerdik dalam medan perang, Abu Musa juga cerdas dalam membaca Al-Qur’an. Pada satu malam, Rasulullah ﷺ mendengar Abu Musa melantukan ayat Al-Qur’an. Beliau ﷺ takjub dengan keindahan suara Abu Musa dan bersabda, “Sungguh, Abu Musa telah diberi Allah seruling-seruling dari keluarga Daud.”

Peran Abu Musa juga sangat tampak tatkala terjadi pertikaian antara Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan saat Ali secara sah diangkat menjadi khalifah. Ia menjadi peredam di antara kaum muslim. Bagi Abu Musa, menjauhkan sebab-sebab pertikaian dan peperangan adalah titik tolak mencapai penyelesaian. Meski ia berada di pihak Khalifah Ali, ia tidak serta merta memperkeruh suasana dengan memperuncing perbedaan pendapat di kalangan kaum muslim dan para sahabat.

Khatimah

Kelihaian Abu Musa sebagai pendakwah ikhlas, prajurit perang yang berani, dan hakim yang adil menjadikannya salah satu sahabat yang dipercaya Nabi ﷺ dan kaum muslim. Semoga keikhlasannya memberi motivasi bermakna bagi kita. Siapa saja yang memilih hidup di jalan dakwah yang penuh tantangan, rintangan, dan berbagai ujian semoga senantiasa menggenggam bara perjuangan Islam hingga Allah memanggil kita pulang. Wallahualam.[MNews]

*Dinarasikan ulang dari berbagai sumber

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *