Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS —Selain Haramain dan Syam, Yaman merupakan negeri yang banyak mendapat pujian. Banyak hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan negeri Yaman dan penduduknya. Bahkan, bukan hanya hadis, beberapa ayat Al-Qur’an pun turun berkenaan dengan penduduk Yaman.
Imam Al-Qurthubi dan At-Thabari misalnya menyebutkan bahwa QS Al-Maidah ayat 54 dan An-Nashr ayat 1-2 turun berkenaan dengan kaum As’ariyin yang berasal dari Yaman. Mereka memang dikenal sebagai kaum yang lemah lembut dan sangat mudah menerima kebenaran.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Suatu ketika, saat Nabi berada di Madinah, lalu beliau bersabda,
الله أكبر الله أكبر جاء نصر الله و الفتح, و جاء أهل اليمن : قوم نقية قلوبهم ليّنة طباعهم, الإيمان يمان و الفقه يمان و الحكمة يمانية.
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar! Telah datang pertolongan Allah dan telah datang penduduk Yaman, kaum yang bersih hatinya, lembut tabiat mereka. Iman itu ada pada Yaman, fiqih itu ada pada Yaman dan hikmah itu ada pada Yaman.” (HR Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)
Dalam hadis-hadis yang lain juga disebutkan bahwa penduduk Yaman adalah kaum yang pertama kali akan meminum air dari telaga Rasululullah saw. di surga. Beliau saw. pun mendoakan keberkahan bagi penduduk Yaman, sebagaimana beliau mendoakan penduduk Syam.
Pada kesempatan lain beliau saw. menyebut penduduk Yaman sebagai sebaik-baik penduduk bumi, dan paling utama dalam hal ketaatan. Bahkan, di akhir zaman, penduduk Yaman beliau sebut akan menjadi salah satu pasukan pilihan setelah tentara Syam.
Keislaman Bangsa Yaman
Secara geografis, Yaman masuk dalam kawasan Jazirah Arab. Posisinya ada di Asia Barat Daya, terletak memanjang hingga ke ujung selatan Semenanjung Arabia. Jarak dari Shan’a, ibu kota Yaman, ke kota Madinah adalah sekitar 1.565 km. Sementara dari Shan’a ke kota Makkah sekitar 1.132 km.
Adapun secara politik, negeri Yaman saat pra-Islam merupakan wilayah kekuasaan Sasanid Persia. Saat itu Yaman sudah dikenal sebagai pusat peradaban tertua di Jazirah. Kota Saba (Sheba), Shan’a, dan Hadramaut adalah kota-kota penting yang sudah dikenal sebagai pusat perdagangan dan perekonomian.

Yaman sejak pra-Islam juga dikenal sebagai produsen kopi, rempah-rempah, dan tekstil terbaik level dunia. Tidak heran jika Ptolemy, seorang ahli geografi asal Yunani, pernah menjuluki wilayah itu dengan Eudaimon Arabia atau Arabia yang beruntung.
Kisah kemakmuran negeri Saba, bahkan diabadikan di dalam Al-Qur’anul Karim. Sementara Hadramaut sejak lama dikenal sebagai tempat asal pelaku perdagangan pada jalur sutra laut. Mereka lah yang menghubungkan bagian timur benua Afrika (Sudan, Somalia, Eritrea) dengan bagian selatan benua Asia, mulai dari India, hingga Malaysia dan Indonesia.
Ini semua terus berlangsung hingga Yaman berada dalam pangkuan kekuasaan Islam. Saat awal sekali Islam didakwahkan, yakni ketika pada 630 M Rasulullah saw. mengutus Sayyidina Ali mendakwahkan Islam ke Shan’a, negeri ini sedang dipimpin oleh Gubernur Persia yang bernama Badhan.
Namun, dengan semua karakter yang telah disebutkan, tidak sulit mengislamkan penduduk Yaman. Islam benar-benar diterima dengan tangan dan hati yang terbuka.
Saat itu pulalah, baginda Rasulullah saw. langsung menggabungkan Yaman dengan kekuasaan negara Islam di Madinah. Beberapa kali beliau mengirim sahabatnya untuk menjadi penguasa wilayah dan hakim di sana. Di antara mereka adalah Muaz bin Jabal ra., Abu Musa Al-Asy’ari dan Sayidina Ali bin Abi Thalib.

Penduduk Yaman sangat berjasa dalam penyebarluasan Islam ke berbagai wilayah melalui aktivitas dakwah dan jihad fi sabiilillah. Tidak hanya sekitar Jazirah Arab, tetapi pembebasan Mesir, Irak, Persia, Levant, Anatolia, Afrika Utara, Sisilia, bahkan Andalusia tidak luput dari peran tentara-tentara Yaman.
Perdagangan pun makin masif dilakukan karena menyatu dengan target dakwah Islam. Para pedagang kosmopolitan Yaman tidak sedikit yang memutuskan tinggal di daerah-daerah yang menjadi tujuan.
Wajar jika banyak keturunan Yaman—khususnya dari Hadramaut—ditemukan beranak pinak di negeri-negeri Islam, tidak terkecuali di Indonesia. Marga mereka antara lain Al-Bawazier, Alaydrous, Badjubier, Al-Katiri, Al-Habsyi, dan lain-lain.
Pada masa Khilafah, Yaman makin dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Islam. Bidang ekonomi, perdagangan, pendidikan, budaya, bangunan-bangunan berkembang pesat di bawah naungan Khilafah Islam. Sisa-sisa peradabannya pun, bisa kita lihat hingga sekarang.
Terjebak Fitnah
Saat kepemimpinan silih berganti, wilayah Yaman tetap menjadi bagian provinsi penting bagi kekhilafahan Islam. Dari dinasti ke dinasti, Yaman tetap dalam keadaan demikian.
Hanya saja pada abad ke-9 M fitnah itu mulai datang. Kisruh politik berbalut isu Sunni-Syiah mulai memecah kesatuan Yaman. Negeri yang sarat pujian, berubah menjadi medan konflik horizontal. Ada poros Shan’a di utara dan Aden di selatan.
Namun, di masa kekhilafahan, konflik ini tidak menyebabkan terampasnya kemuliaan Islam. Umat Islam di Yaman masih tegak sebagai sebuah entitas yang menyatu dengan umat Islam di belahan bumi lainnya. Hanya saja benih-benih konflik tetap terpelihara seperti api dalam sekam. Saat kekuasaan lemah dan umat Islam lengah, api itu bisa dengan mudah terbakar.
Terlebih saat era penjajahan Eropa dimulai. Yaman yang punya daya tarik ekonomi, politik dan ideologi, tidak luput dari incaran bangsa Eropa khususnya Inggris. Mereka begitu rakus untuk menjajah dan menghancurkan kekuatan politik Islam dengan spirit agama dan ideologi kebebasan.
Melalui racun nasionalisme dan isu sektarian, penjajah Inggris berhasil memecah kekuatan Yaman. Khilafah Utsmani yang mulai lemah tidak mampu lagi menyelamatkan Yaman.
Maka dengan berbagai intrik, pada 1839 berdirilah daerah perlindungan Inggris di sekitar pelabuhan selatan Aden. Lalu pada 1918 Yaman resmi terlepas dari Khilafah Utsmani dan benar-benar jatuh menjadi jajahan Inggris.
Saat dimerdekakan pada tahun 1962, Yaman tidak benar-benar merdeka. Sebagaimana negeri-negeri muslim lainnya, Yaman pun menjadi salah satu medan persaingan politik antara Inggris dan Amerika.
Bahkan, seluruh konflik horizontal yang terjadi di sana hingga sekarang bisa dipastikan merupakan perang proksi di antara keduanya. Perang konspiratif ini dibungkus dengan narasi isu terorisme dan diktatorisme, isu Sunni-Syiah atau perang saudara, juga isu perbatasan dan keamanan nasional negara tetangga, dan sejenisnya.
Mengembalikan Kemuliaan Yaman
Hari ini negeri Yaman identik dengan konflik dan bencana kelaparan. Sejak perang saudara pecah lagi pada 2014, Yaman berubah menjadi negara termiskin di jazirah Arab. Kehidupan penduduknya sangat bergantung pada bantuan internasional yang kadang tersendat-sendat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, pada akhir tahun 2021 jumlah korban jiwa dari Perang Yaman hingga 377 ribu orang. Sebanyak 21 juta orang (80 % dari total penduduk) memerlukan bantuan kemanusiaan. Di antara mereka ada lebih dari 2,2 juta anak yang menderita kekurangan gizi akut. Diperkirakan angkanya akan terus meningkat hingga beberapa tahun mendatang.
Situasi seperti ini tentu tidak pernah terbayangkan akan terjadi pada sebuah kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam. Namun kelemahan internal, termasuk hilangnya payung penjaga umat, yakni Khilafah Islam membuat kaum muslim Yaman begitu mudah dipecah belah, hingga terus berkubang dalam penderitaan.
Bahkan, hari ini saudara-saudara. muslim mereka yang bertetangga, seperti Iran di satu sisi, dan Saudi Arabia, UEA, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, dan Senegal di sisi yang lain, justru turut membantu Barat dalam menghancurleburkan kemuliaan penduduk Yaman. Mereka beraliansi menambah penderitaan muslim Yaman demi meraih keridaan tuan-tuan Barat mereka.
Apa yang terjadi di Yaman, begitu telanjang menampakkan busuknya gagasan negara bangsa, nasionalisme dan kesepakatan-kesepakatan internasional buatan negara-negara adidaya. Dengan semua gagasan batil itu, umat Islam kehilangan persaudaraan dan kebanggaan sebagai khairu ummah dan ummatan wasathan.
Para penguasa mereka justru saling berebut kursi kekuasaan dan batas-batas imajiner bernama “negara”. Sementara kepentingan agama dan jutaan rakyat mereka dikorbankan dengan cara licik dan penuh kehinaan.
Dengan demikian, tidak ada cara lain untuk mengembalikan kemuliaan Yaman, kecuali dengan mencampakkan ideologi dan sistem yang meniscayakan penjajahan yakni ideologi dan sistem sekuler kapitalisme neoliberal yang diusung negara-negara adidaya.
Pada saat yang sama, umat di seluruh dunia harus bergerak bersama mengembalikan Islam dalam kehidupan. Lalu menegakkan institusi politik Khilafah yang akan menyatukan potensi seluruh umat Islam dunia untuk menolong kaum muslim Yaman, dan muslim lainnya yang terjajah, baik secara ekonomi, politik maupun militer.
Perjuangan inilah yang kini sedang menjadi momok menakutkan bagi Barat dan antek-anteknya hingga mereka terus berupaya mencegahnya dengan segala cara dan daya.
Namun seberapa keras mereka berusaha, takdir tegaknya kembali Khilafah tidak akan mampu mereka lawan. Tawa kemenangan yang mereka tunjukkan saat ini pasti akan berujung tangisan. Bahkan akan menjadi sesalan tidak berujung di hari-hari yang akan datang.
Sungguh, selain soal Khilafah, Rasulullah saw. pun telah menubuwatkan masa-masa di mana bangsa Yaman akan kembali bangkit berjaya. Bahkan kelak penduduknya akan kembali tampil sebagai salah satu tentara Khilafah terbaik yang siap melawan kekuatan musuh-musuh Islam di akhir zaman.
Abdullah bin Hawalah mengatakan, Nabi saw. bersabda,
سيصير الأمر إلى أن تكونوا جنودا مجندة جند بالشام و جند باليمن و جند بالعراق عليك بالشام فإنها خيرة الله من أرضه يجتبي إليها خيرته من عباده فإن أبيتم فعليكم يمنكم و اسقوا من غدركم فإن الله قد توكل لي بالشام و أهله
“Pada akhirnya umat Islam akan menjadi pasukan perang, satu pasukan di Syam, satu pasukan di Yaman, dan satu pasukan lagi di Iraq. Hendaklah kalian memilih Syam. Karena ia adalah negeri pilihan Allah. Allah kumpulkan di sana hamba-hamba pilihan-Nya. Jika tak bisa, hendaklah kalian memilih Yaman dan berilah minum (hewan kalian) dari kolam-kolam (di lembahnya). Karena Allah menjamin untukku negeri Syam serta penduduknya.” (HR Abu Dawud, Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban. Disahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albani)
Wallahualam.[MNews/Has]
Sumber foto: Wikipedia


Maasyaalloh..:'(
Yaman akan terselamatkan oleh Syariah dan Khilafah..tolong kami..mudahkan kami ya Robb d memperjuangkan institusi yg Engkau Ridhoi..aamiin