Muslimah News, DUNIA REMAJA — Hi, Dear! Boleh bantu jawab, seberapa penting sih ngobrol soal cinta? Penting banget, penting aja, atau enggak ada penting-pentingnya? Wah, jadi gaduh ya gara-gara si cinta, ternyata banyak kubunya. Hehehe!
Ketika Allah Swt. menciptakan sesuatu, sudah pasti ada hal penting di sana, termasuk dengan perkara cinta. Yup, cinta adalah sebuah rasa yang Allah Swt. ciptakan untuk kita. Artinya, penting banget bagi kita untuk membincangkannya. Agar apa? Agar kita tidak terjerembab dalam malapraktik cinta. So, jangan skip tulisan ini, ya. Baca dan resapi hingga titik terakhir. Siap, ya!
Reminder tentang Makna Cinta
Kalau remaja lagi bicara soal cinta, kira-kira apa yang menjadi topiknya? Soal rasa deg-degan, berdebar, bahagia, merana, menderita, terluka, atau nestapa? Sepertinya semua rasa ada dalam cinta, ya. Memang aneh, tetapi begitulah realitanya. Hihihii!
Sobat, obrolan kali ini beda, dong. Bukan membahas soal aneka rasa dalam cinta. Akan tetapi pastinya lebih istimewa dari sekadar rasa. Kali ini kita akan kembali mendudukkan makna cinta yang semestinya. Cinta yang sesuai fitrah sehingga kehadirannya bisa membawa berkah, bukan sebaliknya.
Yup, cinta adalah fitrah. Ia ada memang sengaja diciptakan. Allah Swt. yang menciptakannya. Sebagimana yang kita pahami, bahwa Allah Swt. tidak pernah sia-sia dalam menciptakan segala sesuatu, termasuk soal cinta.
Cinta merupakan salah satu potensi naluri yang ada pada setiap manusia. Bukan tanpa sebab adanya cinta. Allah Swt. menghadirkan cinta untuk menjaga kelestarian makhluk yang bernama manusia, yakni kita semua. So, alaminya manusia yang saling jatuh cinta lalu tidak mampu menjaga rasa, maka akan menuju pada sebuah aktivitas yang bisa menyebabkan terjadinya kehamilan.
Gimana, sudah tahu penyebab banyaknya remaja yang bablas alias hamil di luar pernikahan? Ini karena mereka telah terjebak dalam pusaran malapraktik cinta. Salah kaprah alias keliru dalam mendudukkan cinta yang ada. Lantas bagaimana agar tidak salah memaknai cinta?
Agar Tidak Melakukan Malapraktik Cinta
Kenapa disebut malapraktik cinta? Ini karena mereka melakukan kesalahan dalam memperlakukan cinta. Hal ini akan mengakibatkan kerusakan fatal. Bukan hanya kerugian di dunia, tetapi juga kecelakaan besar di akhirat. Seram, kan?
Nah, jadi gimana agar kita tidak menjadi pelaku malapraktik cinta? Tidak ada cara lain, kecuali ikuti syarat dan ketentuan yang telah Allah Swt. tetapkan. Apa saja syarat dan ketentuannya? Catat dan ingat baik-baik, ya, Dear!
Pertama, ingatlah selalu bahwa cinta diciptakan untuk menjaga keturunan umat manusia. Artinya, rasa cinta hanya boleh diekspresikan dalam ikatan yang sah, yakni pernikahan. Nah, kalau sudah kebelet mau mengekspresikan cinta, sudah deh nikah aja! Inilah satu-satunya jalan agar cinta yang ada bisa menumbuhkan takwa, berbuah pahala, dan menjadi jalan untuk menuju surga. Masyaallah!
Lantas bagaimana kalau belum siap untuk menikah? Ok, kita geser ke syarat dan ketentuan yang kedua, ya. Jika belum siap menikah, jangan coba-coba bermain cinta. Simpel banget, bukan?
”Simpel, sih, tetapi cinta itu suka datang tiba-tiba. Gimana caranya agar bisa menghindarinya? Susah!”
Susah bukan berarti enggak bisa, lo, ya. Terus, siapa bilang cinta itu datang begitu saja? Itu tidak mungkin. Harus dibenarkan dan diluruskan mindset-nya. Pasti ada yang mengundang kehadiran cinta sehingga cinta itu datang bertandang. Betul?
Coba cek, macam-macam rasa yang ada di hati kita muncul begitu saja atau ada sebabnya? Pasti ada sebab, bukan? Yup, ini karena memang perasaan kita sangat dipengaruhi oleh faktor rangsangan dari luar, termasuk juga dengan rasa cinta. Ada suatu penampakan, maka rasa itu akan mendera.
Dalam bentuk apa kira-kira penampakan yang dimaksud? Bermacam-macam modusnya. Bisa jadi stalking akun si doi atau bahkan chatting setiap hari. Bisa juga karena sering ngobrol tanpa batas, hangout bareng, bahkan juga modus belajar bareng. Ada juga yang pakai modus menjadi adik-kakak. Ini semua bisa menjadi pintu gerbang masuknya bucin yang meresahkan. Waspadalah!
”Kalau misalnya enggak pernah ketemu, gimana? Cuma berkomitmen aja, begitu. Enggak ngapa-ngapain. Cuma ngobrol lewat chat tanpa pernah sekalipun bertemu. Boleh?”
Kalau enggak ngapa-ngapain ya mengapa harus chatting tiada bertepi, Dear? Coba berhenti chatting, ngaruh enggak ke perasaan? Pasti ngaruh, bukan? Ngaku aja! Sudah deh, intinya setiap adanya interaksi dengan lawan jenis, wajib berhati-hati. Mengapa? Hal ini bisa menyebabkan rasa nyeri di dalam dada alias jatuh cinta.
Kalau sudah terlanjur jatuh, pasti enggak akan mudah untuk bangkit. So, sebaiknya jangan jatuh cinta, tetapi pilihlah untuk bangun cinta. Memang bisa? Bisa, dong!
Membangun Cinta
Ingat, Sobat, bahwa rasa cinta adalah fitrah. Adanya rasa ini sebenarnya tidak salah. Penyebab salah atau benarnya cinta itu terletak pada perbuatan kita sebagai hamba. Ya, tergantung cara kita mengekspresikan rasa cinta yang ada. Amal inilah yang menyebabkan munculnya dosa atau pahala.
Jika cinta bisa mendatangkan dosa dan pahala, sebaiknya kita memilih yang mana? Pasti kita memilih yang akan mendatangkan pahala, dong! Ingat, kita adalah muslim. Sebagai orang yang beriman, tentu kita menginginkan pahala sebagai tiket untuk bisa sampai ke surga-Nya. Sepakat, ya!
Nah, agar urusan cinta bisa mendatangkan pahala, pastikan kitalah yang membangunnya. Bukan justru kita jatuh di dalamnya. Bagaimana caranya?
Pertama, ingatlah selalu bahwa ada Sang Pemilik Cinta yang berkuasa atas cinta itu sendiri. Dia adalah Allah Taala. Sebagai Sang Pemilik Cinta, maka Dia memiliki seperangkat aturan tentang cara memperlakukan cinta. So, jangan sekali-kali melanggarnya.
Kedua, harus dipahami bahwa bicara cinta sebenarnya bukan hanya soal hubungan khusus dengan lawan jenis. Cinta juga mencakup kepada hubungan keluarga, seperti hubungan orang tua ke anak dan sebaliknya, juga kakak ke adik dan sebaliknya, begitu seterusnya. Sudahkah cinta pada keluarga ini dipupuk dan dirawat? Serius, cinta ini akan mendatangkan banyak pahala, lo! Jangan sia-siakan!
Ketiga, jika memang mulai muncul rasa cinta kepada lawan jenis sedangkan diri belum siap menikah, maka patuhi rambu-rambu syariat. Apa saja? Jaga jarak sejauh mungkin. Skip semua pintu interaksi dengan si doi. Sekecil apa pun pintunya, tutup! Hapus, kubur, lenyapkan apa pun tentang dirinya. Jika sudah beres, alihkan segenap pikiran kepada hal lain yang positif dan sibukkan diri dalam kebaikan. Contohnya? Bergabung dengan komunitas remaja Islam. Mengkaji Islam secara kafah. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Belajar, beramal, dan mendakwahkan. Keren banget, bukan!
Insyaallah, jika semua ini dilakukan dengan ikhlas semata karena Allah Swt. dan ditempuh dengan cara yang sesuai syariat-Nya, pasti akan berkah. Kita akan sukses membangun cinta di atas rida-Nya. Cinta hanya kepada keluarga, sahabat taat, dan juga kepada pasangan yang halal dalam pandangan-Nya. Inilah bangunan cinta yang akan menaungi kita sampai ke surga. So, mau jatuh cinta atau bangun cinta? Jangan sampai salah pilih, ya! Sip! [MNews/YG]
Sumber: Buletin Teman Surga, edisi 151
