[Tanya Jawab] Fikriyun

[Tanya Jawab] Fikriyun

Oleh: Syekh ’Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

Muslimah News, TANYA JAWAB — Soal:

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuhu.

Dinyatakan di buku Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah juz 1 pada topik “Kebutuhan Umat Hari Ini kepada Mufasir” baris kesembilan belas, “Seperti buku pemikiran yang mendalam, pemikiran yang cemerlang”, apakah kata al-mustanîrah (cemerlang) benar? (Abu Abdullah Sulaiman)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuhu.

Kata al-mustanîrah adalah benar, sebab pemikiran itu ada tiga jenis, yaitu pemikiran yang dangkal, mendalam, dan cemerlang, dan rincian hal itu dapat Anda temukan di buku At-Tafkîr halaman 86—92, dan saya kutipkan darinya:

[Dan pemikiran itu adakalanya dangkal, mendalam, dan cemerlang. Pemikiran yang dangkal adalah pemikiran orang umum, dan pemikiran mendalam ada pada para ulama. Adapun pemikiran cemerlang pada galibnya merupakan pemikiran pemimpin dan orang-orang cemerlang dari para ulama dan orang umum.

Pemikiran yang dangkal adalah hanya memindahkan fakta saja ke otak tanpa membahas selainnya dan tanpa upaya mengindra apa yang berhubungan dengannya, dan mengaitkan pengindraan ini dengan informasi-informasi yang berkaitan dengannya, tanpa upaya mencari informasi-informasi lainnya yang berkaitan dengannya, kemudian mengeluarkan keputusan/penilaian yang dangkal. Ini yang dominan terjadi pada kelompok-kelompok, orang yang pemikirannya rendah, dan orang-orang yang tidak terpelajar dan tidak terdidik di antara orang-orang berakal cerdas.

Adapun pemikiran mendalam maka itu adalah pendalaman dalam pemikiran, yakni pendalaman dalam pengindraan dan pendalaman dalam informasi-informasi yang terkait dengan pengindraan ini untuk memahami fakta. Pemikiran mendalam itu tidak cukup sekadar pengindraan dan sekadar informasi-informasi awal untuk mengaitkan pengindraan, sebagaimana keadaan dalam pemikiran yang dangkal. Namun, mengulangi pengindraan atas fakta dan berupaya mengindranya dengan lebih dari apa yang diindra, adakalanya melalui eksperimen dan adakalanya dengan mengulangi pengindraan, dan mengulangi pencarian tentang informasi-informasi lainnya bersama dengan informasi-informasi awal, dan mengulangi pengaitan informasi dengan fakta lebih dari pengaitan yang terjadi, adakalanya dengan pengamatan dan pengulangan dan adakalanya dengan mengulangi lagi pengaitan itu.

Lalu dari jenis pengindraan dan jenis pengaitan ini, atau jenis informasi ini dikeluarkan pemikiran-pemikiran yang mendalam, baik berupa hakikat atau bukan hakikat. Dengan pengulangan dan pembiasaannya, terwujud pemikiran yang mendalam.

Jadi pemikiran yang mendalam adalah tidak mencukupkan dengan pengindraan awal, tidak mencukupkan dengan informasi awal, dan tidak mencukupkan dengan pengaitan awal. Jadi pemikiran yang mendalam itu merupakan tahap kedua setelah pemikiran yang dangkal. Ini adalah pemikiran para ulama dan pemikir, dan belum tentu merupakan pemikiran orang-orang yang terpelajar. Jadi pemikiran yang mendalam adalah pendalaman dalam pengindraan, informasi, dan pengaitan.

Adapun pemikiran cemerlang maka itu adalah pemikiran yang mendalam itu sendiri ditambah dengan memikirkan apa yang ada di sekitar fakta dan apa yang berkaitan dengannya untuk sampai kepada hasil-hasil yang benar. Yakni bahwa pemikiran yang mendalam adalah pendalaman pemikiran itu sendiri. Akan tetapi, pemikiran yang cemerlang adalah di samping pendalaman berpikir itu, ditambah berpikir tentang hal di sekitarnya dan hal yang berkaitan dengannya, untuk tujuan yang dimaksudkan, yaitu sampai ke hasil-hasil yang benar.

Oleh karena itu, setiap pemikiran yang cemerlang adalah pemikiran yang mendalam. Pemikiran yang cemerlang tidak dapat dicapai dari pemikiran yang dangkal. Hanya saja, tidak setiap pemikiran yang mendalam merupakan pemikiran yang cemerlang.

Misalnya, ketika ahli atom membahas tentang pemecahan atom, dan ahli kimia membahas tentang struktur partikel sesuatu, dan seorang fakih membahas tentang istinbat hukum-hukum dan penetapan undang-undang, mereka dan semisalnya ketika membahas sesuatu dan perkara, tidak lain mereka membahasnya secara mendalam.

Seandainya tidak mendalam, niscaya mereka tidak sampai kepada hasil-hasil yang mengesankan itu. Namun, mereka bukan pemikir pemikiran yang cemerlang. Pemikiran mereka tidak dinilai sebagai pemikiran yang cemerlang. Oleh karena itu, jangan heran ketika Anda mendapati seorang ahli atom berdoa kepada kayu atau salib. Padahal kecemerlangan paling sederhana sekalipun memperlihatkan bahwa kayu tersebut tidak memberi manfaat dan tidak memudaratkan, dan bahwa itu bukan sesuatu yang layak disembah.

Jangan heran ketika Anda mendapati seorang ahli hukum berpengalaman yang percaya akan keberadaan orang-orang suci dan menyerahkan dirinya kepada orang seperti itu agar dosa-dosanya diampuni. Karena ilmuwan atom, ahli hukum, dan orang-orang seperti mereka itu berpikir secara mendalam dan tidak berpikir secara cemerlang.

Seandainya pemikiran mereka cemerlang, niscaya mereka tidak akan berdoa kepada kayu, dan niscaya mereka tidak akan percaya akan keberadaan orang-orang suci, dan niscaya mereka tidak akan meminta pengampunan dari orang-orang seperti mereka itu. Memang benar bahwa seorang pemikir pemikiran yang mendalam tidak lain mendalam dalam apa yang dipikirkannya dan bukan yang lain. Dia mungkin mendalam ketika berpikir tentang pemisahan atom atau penetapan undang-undang, tetapi dia “bodoh” dalam hal lainnya jika dia berpikir tentangnya.

Ini benar, tetapi kebiasaan pemikir itu atas pemikiran yang mendalam membuatnya mendalami lebih dalam hal yang dipikirkannya, terutama hal-hal yang berkaitan dengan kompleksitas besar atau pandangan hidup. Namun, tidak adanya kecemerlangan dalam pemikirannya membuatnya terbiasa berpikir mendalam, terbiasa berpikir dangkal, dan bahkan berpikir konyol.

Oleh karena itu, pemikiran yang mendalam saja tidak cukup untuk membangkitkan manusia dan mengangkat taraf pemikirannya, melainkan hal itu harus tercapai melalui kecemerlangan dalam berpikir agar terwujud ketinggian dalam berpikir.]

Jika Anda ingin lebih banyak lagi maka merujuklah ke buku yang disebutkan, dan semoga Allah bersama Anda. [MNews/Rgl]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *