Muslimah News, NAFSIYAH — Ali bin Ali Thalib pernah mengatakan, “Alangkah cepatnya jam demi jam dalam satu hari. Alangkah cepatnya hari demi hari dalam satu bulan. Alangkah cepatnya bulan demi bukan dalam satu tahun. Alangkah cepatnya tahun demi tahun dalam umur manusia.”
Firman Allah Taala, “…sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS Al-Ahqaf: 15).
Saudariku, dalam hidup manusia terdapat tonggak-tonggak umur yang sangat penting, di antaranya umur empat puluh tahun. Rasulullah saw. bersabda, “Bila seseorang sudah mencapai usia empat puluh tahun, lalu kebaikannya tidak mengatasi kejelekannya, setan mencium di antara kedua matanya dan berkata, ‘Inilah manusia yang tidak beruntung.’”
Kemudian, dalam hadis yang lain, “Barang siapa umurnya sudah melebihi empat puluh tahun sedang kebaikannya tidak lebih banyak dari kejelekannya, hendaklah ia mempersiapkan keberangkatannya ke neraka.”
Hadis-hadis di atas menjadi pengingat bagi kita untuk memeriksa amal perbuatan setiap kali menyadari umur kian bertambah. Umur merupakan aset berharga yang harus dipertanggungjawabkan. Kita bisa beruntung dan celaka dengan umur yang panjang.
Sudah Berapa Lama?
Kita perlu menanyakan pada diri sendiri, apakah semangat iman terus bergelora seiring pertambahan umur? Apakah kita tetap tenang dan tenteram meski cobaan datang bertubi-tubi? Sudah berapa lama kita hidup di dunia? Apakah sisa umur dimanfaatkan dalam kebaikan dan keimanan?
Rasulullah saw. mengingatkan kita, “Manusia yang paling baik ialah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya. Manusia yang paling buruk ialah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.”
Saudariku, siapa saja yang telah melewati usia 40 tahun hingga akhir hayatnya, sesungguhnya ia telah berada dalam fase-fase terakhir kehidupan menuju sisa jatah usia yang tidak terlalu lama lagi. Rasulullah saw. bersabda, “Usia umatku (umat Islam) antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit dari mereka yang melewatinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Jika sudah mulai muncul uban di kepala, berarti kita termasuk ke dalam ayat Al-Qur’an ini, “Allahlah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat. Kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.” (QS Ar-Rum: 54).
Dalam ayat yang lain, “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu pemberi peringatan? Rasakanlah (azab Kami). Bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.” (QS Fathir: 37).
Anak muda pun seharusnya tidak berpikir waktunya masih panjang karena belum sampai pada usia senja. Sesungguhnya, umur yang tersisa tidak ada yang mengetahui, kapan dan di mana jatah hidup di dunia ini akan habis.
Ini sebagaimana firman-Nya, “Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS Lukman: 34).
Semestinya kita menyadari bahwa usia kita terbatas. Oleh karenanya, kita harus berupaya memanfaatkan sisa umur untuk melakukan ketaatan kepada Allah Taala.
Bertanggung Jawab terhadap Umur
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Setiap muslim hendaknya memelihara Islam saat dalam keadaan sehat agar mati di atas Islam. Sesungguhnya, Allah Swt. akan memperlakukan seseorang sesuai kebiasaannya. Orang yang memiliki kebiasaan tertentu dalam hidupnya, ia akan mati sesuai kebiasaannya tersebut. Siapa yang mati dalam kondisi tertentu, ia akan dibangkitkan sesuai kondisi matinya.”
Sungguh, kelak setiap orang akan mempertanggungjawabkan umur yang telah Allah Swt. berikan. Sungguh, manusia akan menyesali keadaanya selama di dunia. Allah Taala berfirman, “Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan), datanglah Tuhanmu dan malaikat berbaris-baris. Pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu. Ia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini.’” (QS Al-Fajr: 21—24).
Semoga kelak kita menghadap Allah Swt. bukan dalam kondisi menyesali diri atas kehidupan di dunia, sebab telah berupaya sungguh-sungguh beramal saleh. Memperjuangkan agama-Nya juga bagian dari amal saleh yang akan memudahkan jalan kita menuju surga. Saat Allah bertanya tentang umur yang diberikan, lisan ini bisa menjawab, “Sisa umurku dimanfaatkan untuk menolong agama-Mu. Semoga aku termasuk orang-orang yang beruntung.” Amin. Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy-YG]
