Mempersiapkan Keluarga Muslim Menghadapi Tantangan Dakwah

Mempersiapkan Keluarga Muslim Menghadapi Tantangan Dakwah

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, KELUARGA — Setiap keluarga muslim harus memahami bahwa dakwah merupakan aktivitas mulia, sekaligus kewajiban yang harus ditunaikan. Oleh karenanya, anggota keluarga muslim harus saling mendukung dan menyemangati. Dengan demikian, apa pun kondisi dan tantangan dakwah yang menerpa keluarga, aktivitas dakwah dapat terus berjalan sesuai harapan.

Dakwah adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak akan pernah sepi dari rintangan dan cobaan. Ini adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Namun, harus kita sadari bahwa cita-cita besar memang membutuhkan curahan tenaga, perhatian, dan pengorbanan. Tanpa itu semua, keinginan menggapai kemuliaan hanyalah mimpi.

Faktanya, rintangan atau tantangan dakwah tidak hanya muncul dari luar, tetapi bisa jadi muncul dari diri kita atau orang-orang di sekitar kita, yakni anggota keluarga. Bagaimanapun, seorang pengemban dakwah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bersama keluarganya. Seorang pengemban dakwah yang juga sebagai ayah adalah penanggung jawab keluarga. Ia berkewajiban mengemban dakwah, menafkahi keluarganya, serta membimbing istri dan anak-anaknya sehingga menjadi pengemban dakwah yang handal.

Demikian halnya seorang pengemban dakwah yang sekaligus sebagai istri dan ibu. Ia berkewajiban sebagai partner suaminya, serta pengasuh dan pembimbing anak-anaknya sehingga menjadi para pengemban dakwah yang tangguh. Ikatan keluarga yang kukuh ini akan menghasilkan tim dakwah yang solid. Mereka menjadi pejuang Islam yang tangguh, kuat memikul tanggung jawab di tengah umat, dan bergerak bersama melawan segala macam rintangan yang menghadang. Semua ini akan membawa umat Islam menjadi khairu ummah, sebaik-baik umat di tengah manusia.

Rintangan Dakwah adalah Sunatullah

Sesungguhnya, tantangan dan rintangan dalam dakwah merupakan hal yang alami. Sudah menjadi sunatullah bahwa setiap amal yang baik dan mulia akan menemui rintangan dan halangan, bahkan karena kepentingan pribadi. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menyatakan, “Kesulitan lain yang menghadang laju dakwah adalah sulitnya mengorbankan kehidupan dunia, berupa harta, perdagangan, dan sejenisnya di jalan Islam dan dakwah Islam.

Ulama besar lainnya, Syekh Abdul Qodim Zallum menyatakan, “Seseorang tidak akan sanggup mengorbankan kepentingannya demi menerapkan pemikiran dan mengemban dakwah, serta mengalami kondisi yang jungkir balik, kecuali orang pilihan. Orang yang tidak memenuhi syarat dan karakter yang dibutuhkan akan berguguran dan pasti berguguran bagaimanapun mereka menyembunyikan kelemahan mereka. Benturan antara mengemban dakwah dengan kepentingan pribadi tidak bisa dihadapi oleh semua orang. Bagaimanapun dalamnya pemikiran seseorang, tetapi jika nafsiyah tidak seiring dengan jenis pemikirannya, orang itu pasti akan goyang dan berguguran seperti buah yang tidak bisa matang. Kebutuhan dakwah terhadap orang-orang yang memiliki nafsiyah mumpuni dan disertai kesadaran merupakan sesuatu yang sangat jelas. 

Sungguh luar biasa pesan kedua ulama besar ini. Semoga Allah selalu merahmati keduanya. Amin. Kita harus memahami bahwa ujian dan rintangan dakwah akan bisa dilalui oleh setiap muslim dengan kekuatan pemahaman Islam yang kukuh dalam diri setiap keluarga muslim. Oleh karenanya, kita harus menanamkan dalam diri dan anak-anak, serta keluarga besar kita untuk bersama memahami pentingnya dakwah sebagai poros kehidupan.

Menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan merupakan proyek besar dan membutuhkan perjalanan panjang. Ini karena resiko dakwah bukan sekadar dihadapi oleh para pengembannya, melainkan juga oleh keluarganya. Anak dan istri harus turut menanggung beban sosial dari masyarakat apabila suami, serta ayah atau ibunya yang pengemban dakwah dicap negatif sebagai radikal, bahkan dipersekusi oleh rezim. Keluarga harus menjadi orang pertama yang membela dakwah dan terus memompakan semangat perjuangan.

Jika mengingat kembali perjalanan dakwah Rasulullah saw., tampak bahwa beliau menjadikan keluarga dan sahabat dekatnya sebagai objek dakwah pertamanya. Semua ini dilakukan untuk memudahkan langkah dakwah beliau. Senantiasa lekat dalam ingatan kita, bahwa Bunda Khadijah ra. ikhlas menyumbangkan hartanya untuk mendukung dakwah suaminya. Beliau adalah orang yang beriman saat orang lain kufur kepada Rasulullah, mencintainya ketika orang lain membencinya, dan membela Rasulullah saat kaum Quraisy berupaya membunuhnya.

Keluarga Yasir, Sumayah, dan putra mereka, Amar bin Yasir adalah keluarga pejuang tepercaya di jalan Allah. Tantangan sebesar apa pun akan dihadapi bersama oleh keluarga ini sekuat tenaga sehingga resiko yang dirasakan lebih ringan. Di sinilah pentingnya setiap keluarga muslim mencontoh Rasulullah dan para sahabatnya dalam mempersiapkan seluruh anggota keluarganya menghadapi berbagai tantangan dakwah yang menghadang.

Mempersiapkan Keluarga Menghadapi Tantangan Dakwah

Terwujudnya keluarga dakwah yang tangguh tentu saja butuh persiapan yang baik. Sebaliknya, tanpa mempersiapkan keluarga dalam satu barisan dakwah Islam, boleh jadi tantangan justru datang dari dalam keluarga. Kita harus banyak belajar dan meneladan perilaku Rasulullah saw. dan keluarganya, serta para sahabat dan orang-orang saleh. Berbagai tantangan akan selalu menghadang perjalanan dakwah. Apa yang harus dilakukan agar kita dan keluarga tetap istikamah, bahkan makin semangat menjalankan aktivitas dakwah?

1. Memahamkan keluarga bahwa dakwah membawa misi mulia.

Penting untuk menyampaikan kepada seluruh anggota keluarga bahwa dakwah selain merupakan kewajiban bagi setiap muslim, juga merupakan misi yang agung dan mulia. Ini karena dakwah merupakan misi para nabi dan Rasul yang mulia. Dakwah merupakan amal terbaik. Dakwah akan mengajak manusia menuju iman yang lurus dan menjadikan umat muslim sebagai umat terbaik di muka bumi. Dengan dakwah, amal islami di dalam pribadi dan masyarakat akan terpelihara.

Ketika telah memahami dengan benar bahwa dakwah adalah kewajiban dan misi mulia, anggota keluarga muslim akan menjadikan dakwah sebagai pilihan dan poros kehidupannya. Kita dapat meneladan cara Rasulullah saw., para sahabat, dan keluarganya menjadikan dakwah sebagai poros hidup. Ketika para pembesar Quraisy mendatangi pamannya untuk meminta beliau menghentikan aktivitas dakwah, beliau menyatakan dengan tegas, “Andai mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwah ini, maka hingga Allah memenangkannya atau aku binasa di jalannya, aku tidak akan meninggalkan dakwah ini.” (Ibnu Hisyam, Sîrah Ibnu Hisyâm, I/266).

Sebagai orang tua, kita harus menanamkan hal ini kepada anak-anak sejak dini sehingga mereka menjadi para pembela dakwah. Dengan demikian, rintangan, tantangan, dan hambatan apa pun di jalan dakwah akan disikapi sebagai resiko atau konsekuensi perjuangan.

2. Senantiasa mengkaji tsaqafah Islam dalam barisan dakwah.

Mengkaji tsaqafah Islam secara rutin dan intensif merupakan bagian terpenting dalam membentuk kepribadian Islam keluarga pengemban dakwah. Akan dibangun pola pikir (aqliyah)Islam yang sangat dibutuhkan untuk dakwah, juga akan ditata pola sikap (nafsiyah) setiap pengemban dakwah agar selaras dengan pemikiran Islam yang dipahami. Akan tetapi, pengkajian ini tidak boleh sekadar mentransfer tsaqafah, melainkan juga mentransfer energi dakwah. Dengan demikian, semangat berjuang dapat terus dikobarkan.

Dengan berada dalam barisan dakwah, semangat dakwah akan terus terpelihara. Sesama pengemban dakwah akan saling mengingatkan ketika mulai lengah dan lupa, menguatkan untuk istikamah di jalan dakwah, meluruskan jalan yang salah sehingga kita akan sampai di tujuan dengan selamat. Demikian pula yang dilakukan Rasulullah saw. saat membangun sebuah kutlah (kelompok) bagi para sahabat di Makkah.

3. Memahamkan kepada keluarga bahwa tidak ada perjuangan tanpa risiko.

Sudah merupakan sunatullâh bahwa jalan dakwah itu terjal. Ini juga harus kita sampaikan kepada keluarga tanpa bermaksud membuat mereka takut. Kita harus terus menguatkan mereka. Dahulu, Rasulullah saw. dan para sahabat juga ditimpa kesulitan, kesempitan, dan bahaya luar biasa dalam dakwah. Begitu beratnya hingga mereka mempertanyakan datangnya pertolongan Allah Taala. Kemudian, Allah berfirman, “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al-Baqarah: 214). Para sahabat lalu bersabar dan menyadari bahwa tidak ada perjuangan tanpa risiko.

Sikap ini pula yang harus kita pupuk dalam keluarga. Dengan demikian, tantangan apa pun yang menghadang tidak akan menyurutkan langkah dalam perjuangan demi tegaknya syariat Islam di muka bumi. Tentu dengan keyakinan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menimpa, kecuali hal tersebut adalah yang terbaik dari Allah Taala. 

4. Mengajak keluarga selalu takarub kepada Allah Taala.

Tantangan dakwah akan dapat dihadapi dengan makin mendekatkan diri kepada Allah Taala. Takarub kepada Allah Swt. akan menjadikan kita sebagai kekasih-Nya. Makin kita mendekat kepada Allah, Dia pun makin dekat kepada kita. Pada saat itulah pertolongan, bantuan, dan kemudahan akan diberikan oleh Allah Rabbul ‘alamîn.

Dengan takarub kepada Allah, berarti kita telah mengundang bantuan, pertolongan, dan pemeliharaan-Nya. Baginda Rasulullah saw. juga bersabda, “Pada setiap malam, Rabb kami turun (ke langit dunia) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman, ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, Aku akan memperkenankan doanya. Siapa saja yang meminta kepada–Ku, Aku akan mengabulkan permintaannya. Siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku pun akan mengampuninya.’” (HR Bukhari Muslim).

Pada saat tahajud inilah setiap orang bisa mengadukan kesulitan hidupnya kepada Allah Swt. dan Dia akan memberikan solusi. Insyaallah. Kita dapat memanjatkan doa khusus, memohon kepada-Nya agar keluarga kita istikamah mengkaji Islam, berdakwah, dan berjuang bersama .  Tantangan dakwah ke depan diyakini akan makin berat. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kuat dari orang-orang di sekitar kita, khususnya orang-orang terdekat, seperti pasangan hidup dan anak-anak. Keridaan dan dukungan mereka penting dalam semua aktivitas kita. Takarub kepada Allah juga dapat berupa amalan sunah, seperti salat Duha, memperbanyak zikir, saum sunah, tilawah Al-Qur’an, dan banyak muhasabah.

5. Bersabar dan tawakal menghadapi berbagai tantangan dakwah.

Tantangan dakwah akan dapat diatasi dengan sikap menerima apa yang ada (qana’ah), syukur, sabar, dan tawakal. Ketika kesulitan dan tantangan menghampiri, hadapi dengan sabar. Dengan demikian, Allah akan membantu sehingga kesulitan dan tantangan dapat diselesaikan. Jika menggunakan logika, boleh jadi sulit dipahami hubungan sabar dengan solusi. Sesungguhnya, bukan sabar yang menjadi solusi, melainkan dalam keadaan sabar tersebut Allah Swt. akan memberikan pertolongan-Nya dan mendatangkan solusi. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan salat. Sesungguhnya, Allah bersama orang yang sabar.”  (QS Al-Baqarah: 153).

Kita harus siap menghadapi berbagai keadaan dalam dakwah. Jangan takut dan gentar terhadap ancaman apa pun. Ingatlah, tidak ada seorang pun bisa mendatangkkan bahaya (dharar) kepada kita, kecuali dengan izin Allah Taala. Kita harus menyerahkan semua urusan kepada-Nya. Yakinlah bahwa Allah tidak akan membiarkan dan menelantarkan hamba-Nya yang berjuang menegakkan agama-Nya. Besarnya tantangan dan rintangan justru akan membuat keimanan kita dan keluarga makin meningkat. Pahalanya pun makin besar, insyaallah.

Khatimah

Keluarga muslim harus meluruskan kembali keikhlasan diri, memantapkan langkah, dan menata diri agar lebih semangat menapaki jalan dakwah. Lihatlah, umat membutuhkan uluran dakwah kita. Yakinlah bahwa Allah Swt. tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan dan perjuangan hamba-hamba-Nya. Pertolongan dan keberkahan hidup akan dilimpahkan kepada mereka yang bersungguh-sungguh menegakkan agama-Nya.

Rasulullah saw. telah memberi teladan dalam dakwah. Keluarga pengemban dakwah harus senantiasa teguh dalam dakwah, sabar tanpa batas, istikamah dengan fikrah dan thariqah dakwah. Dengan demikian, setiap benturan dakwah tidak mengurangi keberaniannya berdakwah hingga tercapainya tujuan. Sebaliknya, setiap benturan dakwah justru menjadikan kita makin gencar berdakwah seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. dan para sahabat. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *