Amanah Mulia Seorang Istri

Amanah Mulia Seorang Istri

Penulis: Ummu Nashir N.S.

Muslimah News, KELUARGA — Ketika seorang muslimah sudah mencapai usia siap menikah, merupakan hal lumrah jika kebanyakan mereka berharap ada laki-laki saleh yang siap mengkhitbahnya, lalu menikahinya. Terlebih jika didorong pertanyaan seputar kapan akan menikah oleh orang-orang terdekatnya. Namun di sisi lain, muncul pula ketakutan untuk menikah. Muncul kekhawatiran terhadap kondisi jika ia sudah menikah, menjadi seorang istri, lalu biidznillaah akan menjadi seorang ibu.

Duhai para Perempuan Salihah, sesungguhnya berumah tangga, lalu menjadi istri dan ibu merupakan hal alamiah yang akan dihadapi.  Namun di sisi lain, ini adalah amanah dan tanggung jawab yang harus dipikul sebaik-baiknya. Kita telah memahami bahwa amanah apa pun tidak boleh dilakukan serampangan atau sesuka hati. Akan tetapi, kita harus selalu ingat bahwa amanah merupakan tanggung jawab yang akan ditanya  oleh Allah di akhirat kelak. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis,

“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Amir yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya. Seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan ia akan ditanya tentangnya. Seorang budak adalah pemimpin pada harta tuannya dan ia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah, setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.” (HR Bukhari Muslim).

Sungguh, Allah telah menjanjikan pahala besar bagi orang-orang yang senantiasa memelihara amanah yang dipikulnya. Merekalah orang-orang yang berhak mewarisi surga Firdaus dan akan kekal di dalamnya. Allah Swt. berfirman,

وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ.َٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمْ يُحَافِظُونَ. أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْوَٰرِثُونَ. ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara salatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni yang akan mewarisi Jannah Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Mu’minuun: 8—11).

Para Istri Salihah, menjadi istri memang bukanlah tugas dan tanggung jawab yang ringan. Melaksanakannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan pemahaman yang benar terkait hak dan kewajibannya, termasuk kesiapan mental dan pemahaman Islam yang benar ketika ujian dan rintangan muncul silih berganti. Bahkan terkadang, rasa letih dan bosan datang mendera. Tentu ini semua harus dihadapi dengan ikhlas dan penuh kesungguhan. Dengan demikian, apa pun yang kita lakukan akan memberikan kebaikan dan keberkahan bagi kita dan keluarga, serta berbuah pahala.

Oleh karenanya, seberat apa pun tugas dan tanggung jawabnya, bila kita lakukan penuh keikhlasan, kegembiraan dan harapan, serta menyambutnya dengan senyuman, niscaya tugas yang berat akan terasa ringan. Lebih dari itu, dengan keikhlasan hati, semua jerih payah dan setiap tetesan keringat akan bernilai pahala di sisi Allah Taala. Inilah keberuntungan di atas keberuntungan. Jika kita melaksanakan tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya, niscaya suami akan merasa senang dan semakin cinta kepada kita. Anak-anak pun akan semakin menyayangi kita. Tentu semua ini akan menghadirkan kebahagiaan bagi kita dan keluarga di dunia. Di akhirat kelak, kita akan mendapat keberuntungan yang jauh lebih besar. Allah akan membalas segala usaha kita dengan balasan terbaik, yaitu surga.

Rasulullah saw. bersabda, “Dan maukah aku tunjukkan kepada kalian perempuan ahli surga? Yaitu, setiap istri yang penuh cinta kepada suami, serta penyayang kepada anaknya, yang ketika suaminya marah kepadanya, ia berkata, ‘Inilah tanganku berada di tanganmu. Aku tidak bisa tidur memejamkan mata hingga engkau rida kepadaku.’” (HR An-Nasa’i).

Seorang istri sekaligus ibu harus kuat dan tegar meski kadang sedang lelah dan sakit. Ini karena ia adalah penyemangat suami dan anak-anak ketika mereka lelah atau sedih. Ia juga harus selalu tegar agar anak-anaknya kuat menjalani kehidupan dunia.

Rasulullah saw. bersabda, “Seorang suami yang pulang ke rumah dalam keadaan gelisah dan tidak tenteram, kemudian sang istri menghiburnya, maka ia akan mendapatkan setengah dari pahala jihad.” (HR Muslim).

Rasulullah saw. pernah berpesan kepada putrinya, Fatimah ra. agar senantiasa tersenyum dan menjaga raut muka berseri-seri di hadapan suami. Pasalnya, senyum seorang istri terhadap suaminya memiliki ganjaran besar dari AllahTaala. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Fatimah, tiada seorang istri yang tersenyum di hadapan suaminya, kecuali Allah akan memandangnya dengan pandangan kasih (rahmat).”

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan putus ganjaran dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya.” (HR  Muslim).

Seorang istri memang akhirnya tidak bisa dipisahkan dengan peran dan amanahnya sebagai ibu. Ia berperan penting dalam pendidikan anak. Ia menjadi sekolah pertama dan utama bagi anak. Seorang ibu harus mampu mendidik anaknya dengan baik sesuai syariat Islam dan Al-Qur’an agar terwujud anak yang saleh dan salihah. Proses mendidik anak tidak bisa dilakukan ibu dalam waktu singkat, melainkan hingga akhir hayatnya. Proses ini juga membutuhkan banyak kesabaran dan ketakwaan yang tinggi.

Amanah menjadi seorang istri sekaligus ibu memang berat, tetapi pahala dan balasan dari Allah Swt. sangat besar. Tepat sekali jika Islam memberi kedudukan mulia dan tinggi kepada kaum perempuan yang menjadi istri dan ibu. Ini telah dijelaskan dalam suatu hadis. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi saw. menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian, siapa lagi?’ Nabi saw. menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian, siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian, siapa lagi?‘ Nabi saw. menjawab, ‘Kemudian, ayahmu.‘”  (HR Bukhari).

Di dalam hadis tersebut, nama ibu disebutkan sebanyak tiga kali dan ayah satu kali. Ini artinya, anak wajib menghormati ibu tiga kali lebih baik ketimbang ayah. Bukan berarti ayah tidak harus dihormati. Akan tetapi, seorang ibu lebih besar pengorbanannya. Ibu menduduki posisi tersendiri dalam keluarga. Posisi ini tidak dapat digantikan, bahkan oleh seorang istri ketika anak laki-lakinya telah menikah. Oleh karena itu, meskipun sudah beristri, seorang anak laki-laki diajarkan tetap mengutamakan ibunya.

Amanah mulia bagi seorang istri masih ada lagi. Ini artinya, ladang pahala terbuka lebar untuknya. Seorang istri yang melakukan pekerjaan rumah tangga penuh keikhlasan adalah muslimah istimewa. Ia mendapatkan pahala setara dengan upaya para mujahid yang berjihad di jalan Allah Taala.

Ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis. Anas bin Malik ra. mengatakan bahwa beberapa perempuan pernah mendatangi Rasulullah. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, para lelaki mempunyai keistimewaan dapat pergi berjihad di jalan Allah, sedangkan kami tidak punya pekerjaan yang pahalanya setara dengan para mujahid di jalan Allah.” Setelah mendengar penuturan para perempuan itu, Rasulullah saw. bersabda, “Pekerjaan rumah tangga seorang di antaramu, pahalanya setara dengan jihadnya para mujahid di jalan Allah.”

Asma’ pernah mendatangi Rasulullah saw. bersama para sahabatnya. Kemudian, ia berkata kepada Rasulullah, “Engkau bagaikan ibu dan sekaligus ayahku, wahai Rasulullah. Keberadaanku di sini adalah untuk mewakili para wanita. Bahwasanya Allah telah mengutusmu untuk segenap laki-laki dan perempuan. Kami mengimanimu dan juga Tuhanmu. Bahwa kami tidak mempunyai gerak yang leluasa sebagaimana laki-laki. Amal perbuatan kami sebatas perbuatan yang bersifat rumah tangga saja, melayani kalian, sekaligus mengandung dan melahirkan anak-anak kalian pula.

Ini berbeda dengan kalian semua. Kalian melebihi kami dalam hal berjemaah, menjenguk orang sakit, mengantarkan mayat ke kuburan, berhaji, dan yang lebih utama lagi adalah kemampuan kalian untuk melakukan jihad di jalan Allah. Amal perbuatan kami di saat kalian pergi haji atau melakukan jihad sebatas menjaga harta, mencuci pakaian, dan mendidik anak-anak kalian pula. Oleh karena itu, kami ingin bertanya, apakah amal perbuatan kami itu pahalanya bisa disetarakan dengan amal perbuatan kalian?”

Mendengar pertanyaan tersebut, lantas Rasulullah saw. menghadap kepada para sahabat, lalu bersabda, “Apakah kalian pernah mendengar pertanyaan dari seorang perempuan tentang agama yang lebih baik dari apa yang baru saja ia tanyakan?” Para sahabat menjawab bahwa mereka belum pernah mendengarnya.

Kemudian, Rasulullah saw. bersabda, “Kembalilah, wahai Asma’. Sampaikan kepada para perempuan yang ada di belakangmu, bahwasanya merawat dan berperilaku baik terhadap suami mereka, usahanya untuk mendapatkan rida suaminya, dan ketundukkan mereka untuk selalu taat pada suami mereka, itu semua akan mengimbangi pahala dari amalan yang telah kamu sebutkan.” Kemudian, Asma’ kembali sembari bertahlil dan bertakbir karena merasa gembira mendengar sabda Rasulullah saw. tersebut.

Sungguh, Allah Maha Rahman dan Rahim. Ketika seorang istri melayani suaminya sepenuh hati, Allah akan memberikan pahala untuknya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. menilainya sebagai perempuan terbaik. Ini sebagaimana sabda beliau saw., “Perempuan terbaik yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, tidak menyelisihi pada diri dan hartanya, melayani suami sebaik mungkin, dan menjauhkan suami dari benci.” (HR Ahmad).

Dalam hadis lain, Rasulullah saw. juga bersabda, “Pemeliharaan yang baik terhadap anak-anak menjadi benteng neraka, pandangan yang baik dan harmonis pada suami menjadi tasbih (zikir).” (HR Muslim).  

Dalam banyak hadis diungkapkan bahwa seorang istri yang menyediakan makanan atau minuman untuk suaminya, serta menjaga harta suaminya, ia akan mendapatkan posisi mulia. Rasulullah saw. bersabda, “Sekali suami minum air yang disediakan isterinya, itu lebih baik dari berpuasa setahun.” (HR Muslim). Dalam hadis lain dinyatakan, “Makanan yang disediakan oleh isteri kepada suaminya adalah lebih baik daripada isteri itu mengerjakan haji dan umrah.” (HR Muslim). “Sebaik-baik istri adalah yang apabila kamu pandangi akan menyenangkan hatimu. Bila kamu perintah, ia menaatimu. Bila kamu sedang tidak ada, ia menjaga dirinya untukmu dan juga menjaga hartamu.”(HR Al-Hakim).

Berkaitan dengan hubungan suami-istri, ada beberapa hadis Rasul yang juga menyatakan bahwa Allah Swt. memberikan amanah mulia dan pahala berlimpah bagi seorang istri. Di antaranya, sabda Rasulullah saw., “Mandi junub si isteri disebabkan jimak dengan suaminya, lebih baik baginya daripada mengorbankan seribu ekor kambing sebagai sedekah kepada fakir miskin.” (HR Muslim). Dalam hadis lain dinyatakan, “Dan apabila isteri hamil, ia dicatat sebagai seorang syahid dan khidmat kepada suaminya sebagai jihad.” (HR Muslim). Rasulullah saw. juga bersabda, “Apabila meninggal dunia seorang isteri dan suaminya rida, niscaya ia masuk surga.” (HR Tirmidzi).

Khatimah

Demikianlah beberapa amanah mulia bagi seorang istri yang menuntut kita untuk menunaikannya secara penuh. Ketika ikhlas menunaikannya, limpahan pahala akan turun untuk kita. Bahkan, Allah akan menyediakan surga bagi kita di yaumil akhir kelak. Insyaallah.

Semoga Allah menganugerahkan kekuatan dan kemudahan kepada kita untuk memelihara dan melaksanakan amanah-Nya ini, serta memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Aamiin Yaa Mujiib As-saailiin. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

One thought on “Amanah Mulia Seorang Istri”

  1. Makanan yang disediakan oleh isteri kepada suaminya adalah lebih baik daripada isteri itu mengerjakan haji dan umrah.” (HR Muslim).

    Boleh tahu ini no hadits berapa di Shohih Muslim?

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *