Penulis: Chusnatul Jannah
Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Di antara sepuluh sahabat yang dijamin surga, nama Utsman bin Affan tidak bisa diabaikan begitu saja. Utsman tercatat sebagai salah satu dari empat orang pertama yang memeluk Islam dan mengikuti seluruh ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Utsman berasal dari Bani Umayyah dan dikenal sebagai salah satu keluarga Quraisy yang dihormati dan berkedudukan tinggi. Selain itu, Utsman dikenal sebagai saudagar Makkah yang kaya dan sukses pada masa itu.
Setelah Umar bin Khaththab ra. wafat, Utsman terpilih sebagai khalifah ketiga kaum muslim. Salah satu prestasi Utsman saat menjadi khalifah adalah melakukan pembukuan terhadap Al-Qur’an. Selain terkenal karena kemurahan hatinya, Utsman juga terkenal karena kemampuan berbahasa dan kefasihan bicaranya. Kedua sifat tersebut rupanya diturunkan kepada putrinya, Aisyah binti Utsman bin Affan.
Sosok Aisyah
Di kalangan tabiin, Aisyah binti Utsman bin Affan dikenal sebagai seorang orator, ahli bahasa, dan pembicara yang fasih. Tidak sekadar itu, ia juga dikenal sebagai sosok dermawan yang tanpa ragu menafkahkan hartanya untuk keberlangsungan dakwah Islam. Aisyah lahir pada akhir masa kenabian, yaitu sekitar 623 Masehi dan pada awal masa pemerintahan Khulafaurrasyidin. Aisyah lahir dari rahim seorang ibu bernama Ramlah binti Syaibah.
Utsman bin Affan menikah dengan Ramlah binti Syaibah setelah Perang Badar. Ramlah kehilangan ayah dan dua saudara laki-lakinya dalam perang besar pertama antara kaum muslim dan kaum kafir Quraisy. Meski demikian, Ramlah tidak menyimpan dendam terhadap umat Islam. Ramlah tergerak hatinya untuk memeluk Islam karena melihat kaum muslim memperlakukan kaum Quraisy yang kafir dengan baik.
Keinginan Ramlah untuk meninggalkan agama nenek moyangnya dan memeluk Islam inilah yang akhirnya mendorong Utsman bin Affan menikah dengan Ramlah. Aisyah binti Utsman dididik di bawah bimbingan Utsman dan Ramlah. Aisyah tumbuh menjadi seorang muslimah yang cerdas dan taat. Aisyah dianggap sebagai sosok perempuan terkemuka di kalangan tabiin saat itu.
Kala itu, Aisyah dikenal sebagai pembicara ulung di kalangan muslimah. Pembicara kondang saat itu seperti Sahban Wail, Qus, dan Aktsam pun mengakui kefasihan Aisyah dalam menyusun dan menyampaikan berbagai materi dalam ceramahnya. Kemampuan ini juga menunjukkan keluasan ilmu dan kecerdasan Aisyah binti Utsman.
Dermawan
Aisyah juga dikenal sebagai sosok yang dermawan dan penyayang terhadap anak-anak. Aisyah disebut-sebut memiliki beberapa anak angkat, yakni anak yang berasal dari mantan budak ibunya. Aisyah pun membesarkan anak angkatnya seperti putra-putrinya sendiri. Setelah menikah dengan Marwan bin Al-Hakam, Aisyah dikaruniai seorang putri bernama Ummu binti Marwan.
Setelah ayahnya wafat, Aisyah binti Utsman mewarisi banyak harta dari ayahnya. Meskipun demikian, Aisyah tidak menimbun harta tersebut. Ia tidak segan menginfakkan hartanya. Ia ingin beramal sesuai tuntunan Islam.
Namun, malapetaka terjadi ketika Utsman bin Affan terbunuh dalam upaya pemberontakan melawan kekhalifahan yang sah. Aisyah mengetahui bahwa ayahnya telah terbunuh dan jabatan khalifah digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Aisyah menerima semuanya. Dengan tegas ia berkata, “Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali. Dirinya (Utsman bin Affan) telah meninggal dengan darah yang mengalir di Haram (tempat yang dimuliakan) Rasulullah ﷺ.”
Selain kemurahan hati dan kecerdasannya, Aisyah juga disebut memiliki paras cantik. Kecantikan wajah Aisyah binti Utsman juga diakui oleh Azzah al-Mila, seorang wanita yang hidup pada masanya. Ia berkata, “Ya Tuhan, aku tidak pernah melihat Aisyah binti Utsman dirasuki oleh wanita mana pun. Ia sepertinya tidak memiliki aib sedikit pun.”
Hikmah
Dari sosok Aisyah binti Utsman bin Affan, kita belajar tentang cara muslimah menjaga kesederhanaannya, yakni dengan ketaatan total kepada Allah Taala. Meskipun ia bergelimang harta, kekayaan tersebut justru menjadi ladang amal untuk turut berperan memperjuangkan Islam. Ia memberikan hartanya di jalan dakwah Islam. Kita harus meneladan Aisyah. Oleh karena itu, mari optimalkan apa pun yang kita miliki untuk dakwah Islam, yakni berkontribusi berupa harta, tenaga, waktu, dan pikiran kita demi tegaknya kehidupan Islam secara kafah. [MNews/YG]
