[Nafsiyah] Allah Tidak Pernah Salah Memilih “Pundak”

[Nafsiyah] Allah Tidak Pernah Salah Memilih “Pundak”

Muslimah News, NAFSIYAH — Insecure, yakni perasaan kurang percaya diri bisa melanda siapa saja, termasuk para pengemban dakwah. Ketika amanah dakwah ditujukan kepadanya, kadang ia justru menganggap dirinya tidak layak dan kurang pantas. Akhirnya menyulitkan karena dakwah tidak bisa berjalan dengan baik.

Terkadang mereka saling lempar tanggung jawab. Sebuah perkara dianggap bukan urusannya, padahal ia mengetahui keberadaannya bisa memudahkan dakwah. Kewajiban dakwah ialah perkara yang dibebankan kepada seluruh kaum muslim, apalagi para pengembannya. Sesuatu yang harus diyakini oleh para pengemban dakwah bahwa Allah tidak pernah memproduksi produk gagal dalam kehidupan makhluk-Nya.

Begitu pula pada para pengemban dakwah, ketika Allah telah memilih mereka berada dalam barisan perjuangan, dengan izin-Nya, Allah jadikan mereka mampu menanggung berbagai kesulitan dakwah. Mereka pula yang mampu menjadi wasilah tersebarnya pemikiran Islam di tengah umat. Allah tidak pernah salah memilih pundak manusia ketika Dia memberikan beban kepadanya.

Ketika Allah memilih pundak kita, berarti ada hal istimewa yang hendak Allah berikan. Kita hanya menjalani peran dari apa yang Allah kehendaki. Jadilah support system dalam menunaikan berbagai amanah dakwah di tengah perjuangan.

Pegang Tangan Sahabat Dakwahmu

Saat menunaikan berbagai perkara dakwah bersama jemaah harus dipahami dengan benar bahwa persahabatan yang dibangun dilandasi akidah Islam. Oleh sebab itu, semestinya para pengemban dakwah saling mendukung, bukan menikung. Harus memudahkan, bukan menyulitkan. Sebaiknya menutupi aib saudarinya, bukan menyebarkannya hingga terjadi perpecahan.

Memperjuangkan Islam ialah kerja sama atas asas akidah Islam, bukan asas manfaat seperti rekan bisnis yang mementingkan untung rugi. Tidak ada keuntungan materi yang hendak diraih, tetapi kepentingan umat dan agama-Nya. Tentu tidak ada kata “lawan” kepada sesama pengemban dakwah, tetapi saling setia kawan karena dorongan keimanan.

Saudariku, jangan sampai hati kita gersang atau kering. Ketahuilah, “keringnya” hati para pengemban dakwah akibat tidak sering disirami dengan nasihat dari Allah dan Rasul-Nya. Mereka sedikit sekali membersihan hati, lebih utama memerhatikan tampilan fisik dengan segala kelebihan yang dimiliki. Selanjutnya menjadi lupa daratan dan jatuh pada kesombongan atau keakuan diri.

Pegang erat tangan sahabat dakwahmu. Jangan pernah melepaskannya, apalagi membiarkannya pergi dari perjuangan Islam. Jika ia mengalami insecure, segera sadarkan dan katakan, “Engkau bisa menjadi yang terbaik dalam perjuangan, maka tetaplah ikhlas dan sabar menapakinya. Aku akan berada di sisimu dan Allah selalu membersamaimu.”

Kekuatan Iman

Saudariku, para pengemban dakwah menyimpan kekuatan iman laksana benteng kokoh di dalam jiwa dan raganya. Sebagaimana sosok para pemuda Kahfi yang dinyatakan Allah lewat firman-Nya, “Kami mengisahkan cerita mereka kepada kamu dengan benar, sesungguhnya mereka itu adalah para pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (QS Al-Kahfi: 13).

Pengemban dakwah haruslah bergerak dan bertindak dengan koordinasi, perhitungan yang matang, dan penuh kesolidan. Ketahuilah, kejayaan Islam yang kita dambakan tidak akan terwujud tanpa keikhlasan, kucuran keringat, perasaan dan pikiran, ketundukan kepada Allah, dan tetesan air mata tobat serta penyesalan.

Sebagaimana perjuangan Nabi saw. dan para sahabatnya. Kemenangan yang diraih karena mengikuti petunjuk Allah dan ketegaran. Sesungguhnya perjuangan yang mengantarkan generasi pendahulu umat ini menuju kejayaan karena Allah Taala melihat hati-hati mereka. Allah menemukan bahwa hati mereka bersih dari ketergantungan kepada selain-Nya.

Abdullah bin Mas’ud ra mengatakan, “Sesungguhnya Allah melihat hati para hamba. Dan Allah dapati hati Muhammad adalah sebaik–baik hati manusia maka Allah pun memilihnya untuk diri-Nya dan Allah bangkitkan dia sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati hamba-hamba yang lain setelah hati Muhammad saw., kemudian Allah dapati bahwa hati para sahabatnya adalah sebaik-baik hati manusia. Maka Allah pun menjadikan mereka sebagai pembantu Nabi-Nya dan berperang bersama beliau untuk membela agama-Nya.” (HR Ahmad).

Teruslah membenahi diri untuk dakwah. Jauhi sikap insecure yang akan memalingkan kita dari berbagai kebaikan. Bangun rasa percaya diri yang termasuk perkara penting bagi para pengemban dakwah. Yakinlah, Allah tidak pernah salah memilih pundak. Pengemban dakwah memiliki keistimewaan dari Allah Taala, tetapi mungkin kita tidak mengetahuinya. [MNews/Rndy-YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *