[Dunia Remaja] Healing ke Luar Negeri, Apa iya Stres Jadi Hilang?

[Dunia Remaja] Healing ke Luar Negeri, Apa iya Stres Jadi Hilang?

Penulis: Shezan A. Gerung

Muslimah News, DUNIA REMAJA – Sobat muslimah, saat ini healing seakan menjadi kebutuhan. Penatnya tubuh, banyaknya aktivitas, ditambah rutinitas harian yang monoton membuat sebagian besar orang merasa wajib untuk healing. Ya, jalan-jalan dijadikan cara untuk meredakan rasa mumet.

Seiring pesatnya teknologi, dunia pariwisata pun berinovasi. Media sosial menjadi medium yang tepat untuk promosi wisata. Seakan memahami pasar, tidak sedikit konten kreator yang membuat konten bertema wisata. Menyaksikan keindahan alam dan keunikan masyarakat dari berbagai penjuru dunia, membuat sebagian warganet mulai bermimpi pengin jalan-jalan ke luar negeri.

Meski menikmati indahnya alam termasuk perkara mubah, tetapi banjirnya penawaran pada dunia pariwisata ini juga disambut dunia bisnis. Kalau dunia bisnis, sih, jelas menawarkan skema pendanaannya, guys. Hem, kalau begini, kudu ada pertimbangan masak-masak, nih.

Stres atau Sekadar Self Diagnosis?

Nah, hati-hati, ya, sobat. Jangan sampai healing kamu hanya karena ikut-ikutan tren. Terpengaruh konten para selebritas dan konten kreator, atau karena gaya hidup. Ini sih bisa parah dampaknya.

Jalan-jalan menikmati pemandangan alam yang awalnya mubah bisa jatuh pada transaksi haram. Lo, kok, bisa? Ya, hanya karena pengin ke luar negeri, tidak sedikit orang yang biayanya bersumber dari utang. Wah, wah, wah. Hitung-hitungannya bagaimana, tuh?

Ya, dana awal untuk healing ke luar negeri itu bisa jadi modal. Selanjutnya tinggal membuat konten healing. Tahu, kan, kalau beberapa media sosial menyediakan pilihan monetisasi atau afiliate. Nah, di situlah konten kreator menghasilkan uang. Wah, bisa ditiru, nih.

Eit, tetapi jatuh utangnya bisa riba, lo. Skema utang hari ini rawan “berbunga”. Sementara “bunga” bank sudah jelas keharamannya, sobat. Makanya, jangan sampai, deh, demi healing ke luar negeri, sobat sekalian menghalalkan berbagai macam cara.

Lagian, apa iya benaran stres atau sekadar self diagnosis doang? Jangan-jangan, pulang dari healing malah makin pening. Stres enggak reda, malah tagihan yang berjibun. Wadidaw!

Filter Gaya Hidup

Sobat sekalian tentu update dengan berita maraknya anak muda yang terjerat pinjaman online. Mengejutkannya, jeratan pinjaman online ini sebagian besar mereka gunakan untuk membiayai gaya hidup doang. Maklum, promosi gaya hidup di dunia maya benar-benar meneror kaum muda.

Terlebih lagi, kehadiran promosi digital berbagai produk ada nyaris di semua platform. Permainan algoritma juga seakan menjadi pemandu untuk menjerat pembeli. Rasanya, lari ke platform manapun tetap saja bertemu iklan yang sama. Aduh, sampai segitunya, lo.

Sobat muslimah kudu paham, lo, bahwa saat ini apapun bisa menjadi bisnis, termasuk gaya hidup. Coba deh, lihat di sekitar kita. Betapa banyak kebutuhan hadir yang pada dasarnya hanya keinginan. Hanya saja, iklan yang sedemikian masif memiliki daya pengaruh yang besar. Apalagi bagi kawula muda. Mulai dari outfit, printilan, kosmetik, makanan dan minuman cepat saji, ticket war, property, hingga godaan healing.

Pertanyaannya, apa ada yang memikirkan bahwa gaya hidup kini berubah menjadi industri gaya hidup? Ada enggak yang melakukan filter antara kebutuhan dan keinginan? Jangan-jangan semuanya dijabanin semata karena godaan gaya hidup. Wah, kalau seperti ini sobat sekalian perlu menyalakan alarm. Jangan sampai bablas yang justru berbuah stres berkepanjangan. Bakal masuk rumah sakit jiwa kalau begini.

Menurut Islam, Gimana, ya?

Sobat, Islam memberikan tuntunan cara menikmati alam ciptaan Allah. Menikmati keindahannya bukanlah sekadar mengamati alam, tetapi juga melibatkan pemahaman yang mendalam. Pemahaman ini merupakan refleksi dari makna tanda-tanda kebesaran Allah yang tampak dari ciptaan-Nya.

Jika saat ini istilah yang lebih dikenal adalah “healing”, Islam mengenalkan konsep tadabur. Menadaburi alam semesta, artinya mengajak manusia untuk memperhatikan, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari segala hal yang Allah ciptakan. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Imran: 190—191,

“Dan sungguh, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'”.

Demikian juga dalam QS Al-Jatsiyah: 13,

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tujuan tadabur alam seorang hamba. Tidak perlu mengeluarkan bujet besar hingga terlilit utang. Di mana pun di bumi ini, terdapat maha karya Sang Khalik. Senantiasa hadirkan rasa syukur terhadap nikmat yang telah Allah beri. Apalagi kondisi saat ini, seluruh aktivitas manusia cenderung dipandang melulu dari sudut pandang bisnis. Kudu pandai menimbang prioritas.

Tujuan tadabur alam sederhana saja, yakni menambah keimanan karena tujuannya untuk memuji ciptaan Allah. Sayangnya, sistem kehidupan hari ini yang jauh dari suasana keimanan membuat sudut pandang manusia berubah. Makanya, tidak sedikit yang niat awalnya healing berubah jadi pusing. Alih-alih stres hilang. Yuk, sekali lagi bijaklah menakar keinginan dan kebutuhan. Jangan mudah tergoda dan senantiasa jadikan Islam sebagai sandaran kehidupan. Setuju? Wallahualam. [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *