Penulis: M. R. Kurnia dkk.
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Objektivitas Berita, Pertanyaannya Adalah: Adakah Berita yang Objektif?
“Pada 29 Juli 1999, Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menyampaikan pidato politiknya di depan ribuan kadernya dan khalayak. Lima stasiun televisi swasta mengadakan siaran langsung.”
Pidato Megawati ini adalah peristiwa yang cukup unik. Ini karena tokoh yang satu ini, pada masa itu, sama sekali tidak terdengar suara dan komentar-komentarnya, sedangkan hampir semua politikus dan pengamat politik nyaring berkoar-koar di berbagai forum yang diliput media massa.
Namun, meski peristiwanya sama, pidato yang didengarkan juga sama, ternyata berita yang muncul di berbagai media massa berbeda-beda nadanya.
Sebuah berita tidak mungkin menyajikan seluruh fakta sosial dalam halaman surat kabar yang terbatas. Dari penjelasan tentang perjalanan sebuah peristiwa menjadi berita, jelas menunjukkan bahwa ada proses seleksi terhadap fakta-fakta yang akan disajikan dan tidak, bahkan seleksi terhadap dimuat dan tidaknya sebuah berita. Proses seleksi ini tentu saja sangat subyektif tergantung pada wartawan dan redaktur yang mengisi berita tersebut, juga tergantung pada surat kabar itu sebagai sebuah organisasi.
Dampak Pemberitaan, Ilusi atau Nyata?
Benarkah berita di media massa memiliki dampak yang sangat besar? Benarkah berita di media massa mampu menggulingkan seorang presiden atau membuat seseorang memuja dan membenci seorang tokoh? Mengapa di Indonesia pada era awal Orde Baru, pers begitu kuat, tetapi tidak menghasilkan apa-apa?
Semula, karena pengaruh mesin propaganda Inggris dan Jerman dalam dua kali perang dunia, terkenal dengan teori jarum hipodermis yang mengagungkan rumusan media massa dalam mempengaruhi khalayak. Teori ini mengasumsikan khalayak seperti objek yang pasif ketika disuntik dengan informasi.
Teori ini banyak dikritik karena pada praktiknya orang tidak begitu saja hanya percaya pada informasi yang dibawa media massa. Selain mendapatkan informasi dari media, khalayak juga mencari informasi lewat teman atau media komunikasi yang lain (telepon, internet).
Lalu orang berpaling kepada teori pembentukan agenda (agenda setting). Teori ini menganggap khalayak sebagai penerima yang tidak lagi pasif. Namun demikian, media massa tetap menjadi acuan bagi apa yang dibicarakan dan didiskusikan khalayak. Teori pembentukan agenda banyak dipakai orang. Meski tidak menganggap media punya kuasa terhadap segalanya, tetapi teori ini percaya bahwa media memiliki pengaruh, setidaknya dalam membentuk agenda khalayak. [MNews/Rgl]
