Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.
Muslimah News, OPINI — Ramadan adalah bulan untuk memupuk takwa. Hal ini jelas tercantum dalam firman Allah Taala, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2]: 183).
Namun tentu saja capaian takwa tersebut membutuhkan atmosfer positif. Pasalnya, banyak godaan sepanjang perjalanan kehidupan, terlebih saat luar Ramadan. Satu hal yang pasti, kita mengharapkan agar ketakwaan tersebut senantiasa kondusif dan terjaga.
Betapa besar dan beratnya godaan kehidupan hendaknya membuat kita juga harus mengingat firman Allah yang lain, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (QS Thaha [20]: 124—127).
Kesempitan Ekonomi
Kesempitan ekonomi adalah ujian kaum beriman perihal rezeki. Pada era digital dan serba modern ini, transaksi keuangan begitu lekat dengan teknologi. Uang kripto, pinjaman online (pinjol), sistem bunga (riba), kredit digital (pay later), serta akad transaksi di marketplace ataupun e-commerce, memberikan godaan besar akan munculnya perilaku konsumtif. Jika tidak melandaskan setiap amal perbuatan dengan akidah Islam serta mengikatkannya dengan syariat muamalah, maka masyarakat malah berpeluang terjebak.
Di sisi lain, kesempitan ekonomi juga tidak sedikit yang berupa nestapa para pencari kerja. Upah minimum regional (UMR) para pekerja/buruh sering kali tidak sepadan dengan inflasi ekonomi, terkhusus untuk kebutuhan pangan dan belanja energi. Melambungnya harga bahan-bahan pangan serta liberalisasi energi dengan naiknya harga BBM dan elpiji, sejatinya mematikan ekonomi rumah tangga, perlahan namun pasti.
Ini semua masih belum kisruh tentang mahalnya biaya pendidikan, kesehatan, dan transportasi umum yang sedikit demi sedikit mengalami pencabutan subsidi. “Jer basuki mawa bea” jargonnya, tetapi sesungguhnya adalah wujud makin lepas tangannya penguasa akan tanggung jawab mengurus rakyatnya.
Kesempitan Menjalani Akidah Sahih
Sejatinya, bukanlah akidah Islam yang keliru. Namun penguasalah yang memosisikannya keliru sehingga masyarakat muslim yang hendak melaksanakan syariat Islam secara kafah justru menjadi sasaran persekusi. Pengajiannya dibubarkan di sejumlah tempat, para ulama dan ustaznya menjadi bulan-bulanan aparat, bahkan tidak sedikit para peserta pengajiannya yang dikuntit dan diawasi.
Dalihnya, ide Islam kafah itu radikal dan ekstrem. Padahal, tidakkah menghalangi manusia dari jalan Allah itu lebih zalim? Bukankah perintah untuk melaksanakan Islam kafah itu juga berasal dari Allah?Allah Taala berfirman, “… tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh…” (QS A-Baqarah [2]: 217).
Ayat ini turun ketika kaum kafir Quraisy melancarkan propaganda kepada kaum muslim di tengah-tengah bangsa Arab. Mereka melancarkan tuduhan di berbagai tempat bahwa Rasulullah saw. Dan para sahabatnya telah menghalalkan bulan haram untuk berperang, menumpahkan darah, merampas harta, dan menawan orang.
Pada era modern ini, upaya-upaya untuk mengaborsi ide Islam kafah sebagaimana yang pernah dilakukan kafir Quraisy itu justru datang dari penguasa sendiri. Buktinya, penguasa mensponsori secara resmi berlakunya moderasi beragama.
Penguasa hendak menggebuk para pengemban dakwah Islam ideologis dengan harapan para pengemban dakwah itu menjadi takut dan ciut. Mereka juga berupaya sungguh-sungguh dengan memaksa mencangkokkan ide-ide moderasi beragama dalam sistem pendidikan, baik di sekolah-sekolah, pondok pesantren, serta berbagai kampus.
Kesempitan Berinteraksi Sosial
Selanjutnya, kesempitan berinteraksi sosial juga sangat terasa. Berinteraksi dengan masyarakat di sekitar tempat tinggal sering kali membuahkan rasa kurang nyaman, karena kurang kondusif untuk kehidupan yang mencita-citakan ketaatan. Perilaku maksiat dan liberal muncul di sana-sini. Tetangga yang nyinyir, sinis, juga gemar ghibah, ibarat musuh yang layak dijauhi.
Tantangan lainnya yakni ketika marak kaum laki-laki/perempuan yang tidak menutup aurat. Ketika pada gilirannya ada yang berpakaian menutup aurat secara sempurna, langsung saja mendapatkan label “sok suci” atau “sok taat”. Padahal menutup aurat adalah syariat untuk menjaga hubungan dengan diri kita sendiri. Kondisi ini tentu mengharuskan upaya menundukkan pandangan (ghadhul bashar) juga harus lebih keras.
Namun sejauh mana benteng diri bisa bertahan jika sistem aturan kehidupan yang diterapkan adalah aturan yang juga sekuler dan liberal? Tidak heran, kesempitan berinteraksi sosial juga makin menjadi. Rendahnya motivasi dakwah yang ihsanul amal turut mempengaruhi sikap individu muslim. Lemahnya iman membuat mereka lebih senang beruzlah (mengasingkan diri) daripada harus berinteraksi tetapi merasa risih.
Keberkahan Hidup di Bawah Naungan Khilafah
Allah Taala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 208).
Khilafah adalah satu-satunya sistem kehidupan yang mampu menyelenggarakan penerapan syariat Islam secara kafah. Khilafah berperan penuh untuk menjaga akidah Islam warganya beserta kelurusannya. Khilafah justru berkepentingan untuk mengedukasi dan membina warganya perihal aturan Islam, karena Islam ibarat nafas dan darah bagi kehidupan sehari-hari. Jelas, kehidupan berlandaskan akidah Islam bukanlah kehidupan sempit layaknya kehidupan sekuler. Islam akan membuat hidup para pemeluknya menjadi hidup yang lapang dan tenang, karena Islam sesuai fitrah manusia.
Di bidang ekonomi, Khilafah akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang tentu saja sangat berbeda dengan ekonomi kapitalisme saat ini. Ekonomi Islam adalah ekonomi yang menyejahterakan karena meniscayakan distribusi ekonomi sebagaimana ketetapan Allah Taala. Tindak kecurangan, muamalah berlandaskan riba, jual-beli mata uang, serta berbagai transaksi digital yang diharamkan, tentu tidak akan diberi ruang untuk berkembang.
Di bidang pergaulan dan interaksi sosial, Khilafah menerapkan aturan tegas untuk menutup aurat secara sempurna bagi seluruh warganya. Khilafah juga menyuburkan atmosfer untuk ghadhul bashor sehingga penglihatan manusia aman dari pandangan-pandangan syahwat. Kondisi ini jelas berbeda dengan kapitalisme yang malah memfasilitasi berbagai perilaku yang memicu liberalisasi seksual, bahkan menjadikan industri media sebagai jalan utama untuk menyebarkan ide-ide sekuler dan liberal.
Khatimah
Allah Taala berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl [16]: 97).
Juga dalam ayat, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf [7]: 96).
Ayat-ayat ini semestinya menjadi hujah (argumentasi) kita ketika di sisi lain ada peringatan mengenai sempitnya hidup akibat jauh dari takwa. Takwa bukan hanya buahnya Ramadan, tetapi juga harus kita jadikan kunci kesuksesan dalam kehidupan, agar sempitnya hidup tidak menghantui seolah hidup harus usai detik itu juga. Na’udzubillahi. Sungguh, hanya keberkahan di bawah naungan Khilafah sajalah yang layak kita cita-citakan dalam kehidupan. Wallahualam bissawab. [MNews]
