Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Masjid Enam Puluh Kubah atau Masjid Saith Gunbad menjadi saksi bisu kegemilangan peradaban Islam di Bangladesh. Masjid ini disebut-sebut sebagai one of the most impressive muslim monuments in the whole of south Asia. Wajar jika masjid yang terletak di Kota Bagerhat ini dicanangkan sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO.

Bangladesh, yang artinya negara Bangla, dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbesar ke-4 di dunia, setelah Indonesia, Pakistan, dan India. Sebelum terbentuk sebagai negara tersendiri, Bangladesh disebut Benggala.
Pada 2021 lalu, penduduk muslimnya tercatat 153,7 juta dari total penduduk 169,4 juta jiwa. Dengan demikian, proporsi penduduk muslim di negara tersebut adalah 90,73%, sedangkan sisanya beragama Hindu, Buddha, dan Kristen.

Identitas Islam
Berbeda dengan India, agama Islam memang menjadi pilihan utama sekaligus identitas diri masyarakat Bangladesh. Sejak awal kehadirannya, Islam diterima dengan tangan terbuka, nyaris tanpa penolakan sedikit pun.
Konon penduduk Bangladesh telah mengenal Islam sejak abad ke-8 Masehi, tepatnya sejak masa Khulafaurasyidin. Perdagangan yang sudah terjalin sejak lama antara Arab dengan Asia Selatan telah menjadi salah satu jalan penyebaran Islam secara kultural di wilayah ini. Apalagi, terdapat Pelabuhan Chittagong yang merupakan salah satu pintu masuk ke wilayah timur, seperti Cina, Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
Selain itu, keislaman penduduk Bangladesh konon terkait pula dengan Raja Cherumol Perumol dari Kerajaan Chera yang ada pesisir Malabar Tamilnadu, wilayah India Selatan, yang diketahui telah memeluk Islam sejak Nabi Muhammad saw. masih hidup.
Kisah keislamannya dibenarkan oleh Ath-Thabari. Beliau menyebutkan keislaman Raja Chera terkait peristiwa terbelahnya bulan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Para pedagang Arab yang datang ke Malabar mengabarkan bahwa peristiwa itu merupakan mukjizat seseorang bernama Muhammad yang mengaku nabi di Kota Makkah. Kabar itulah yang mendorongnya untuk datang menemui Nabi lalu menyatakan beriman. Saat itu, Nabi pun memberinya gelar Tajjudin (mahkota agama).
Kisah ini pun tidak ada yang bisa membantah. Bahkan, tertulis dalam kronik-kronik Brahmana Hindu seperti Keralolpatti. Konon sekembalinya dari Makkah itulah, wilayah Chera berubah menjadi pusat dakwah Islam.
Aktivitas dakwah ini makin menguat ketika pasukan Malik bin Dinar masuk ke wilayah India Selatan sekitar 748 M, hingga beliau wafat di sana. Saat itu, Tajjudin, Raja Chera terakhir menggabungkan wilayahnya ke dalam kekuasaan Islam. Dari sinilah, banyak dai yang datang ke wilayah Bangladesh menyebarkan dakwah Islam di sana.
Kegemilangan
Sejarah Islam di Bangladesh memang mengalami pasang surut, sejalan dengan pasang surutnya cahaya Islam di Asia Selatan termasuk Anak Benua India. Sebelum era penjajahan kaum kafir terjadi di kawasan ini, wilayah Bangladesh dipersatukan oleh sebuah kesultanan di bawah Khilafah Utsmani (1299—1922) bersama wilayah-wilayah lainnya di dunia.
Kesultanan yang paling kuat di wilayah Anak Benua India ini bernama Kesultanan Mughal (1526—1858) yang didirikan panglima perang asal Uzbekistan, Zaharuddin Muhammad Babur, cucu dari Timor Lenk, sekaligus keturunan penguasa Mongolia, Jengis Khan. Ia berhasil merebut kekuasaan dari Sultan Delhi, Ibrahim Lodi yang kala itu kondisinya sudah melemah.

Pada era kekuasaan cucu Babur atau anak Nashirudin Humayun bernama Jalaluddin Akbar (Akbar Khan, 1556—1605 M), wilayah kekuasaan Mughal tidak hanya meliputi India saat ini, tetapi juga meliputi wilayah Afganistan, Lembah Indus di Himalaya, Bolochistan, Pakistan, Kashmir, dataran tinggi Dekkan, Srilanka, Myanmar, Nepal, dan Bangladesh.
Kemudian kejayaan ini dilanjutkan oleh penerus Akbar, yakni Jahangir (Nuruddin Muhammad Salim, 1605—1628 M) dan Shah Jahan (Shahabuddin Muhammad Khurram, 1628—1658 M) dan Aurangzeb (1658—1707 M). Sayangnya pada akhir kekuasaan Aurangzeb ini, Kesultanan Mughal mengalami kemunduran. Selain akibat konflik internal yang merasuk sejak lama, kondisi ini juga dipicu berbagai upaya kafir Barat yang ingin menggoyah kekuatan umat Islam dan menjadikannya sebagai target penjajahan.
Di Bawah Kaki Penjajah
Seperti diketahui, sejak abad ke-15, para pedagang Eropa, khususnya Inggris, sudah banyak berdatangan ke kawasan Anak Benua India, termasuk ke wilayah Benggala. Namun, pengaruh Inggris makin kuat terutama ketika perusahaan dagangnya, yaitu English East India Company (EEIC) yang selanjutnya disebut United EIC, diberi hak konsesi oleh Sultan Akbar untuk membuka kantor mereka di Surat, Bombay, dan Ahmadabad.
Sejak itulah, migrasi pedagang Inggris makin masif. Sampai-sampai pada 1784, parlemen Inggris memperluas kewenangan EIC, yakni tidak lagi sekadar menjalankan kegiatan dagang, tetapi juga melaksanakan kepentingan pemerintahan kolonial Inggris di India. Kemudian, diutuslah para gubernur jenderal yang mewakili kekuasaan politik Inggris di India.
Tentu saja kebijakan politik Inggris di pusat India ini turut berpengaruh terhadap kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan keberagamaan warga muslim di Benggala. Hingga pada 1757, EIC benar-benar menguasai Benggala secara politik. Hal ini sejalan dengan penguasaan seluruh Anak Benua India oleh imperialis Inggris dan melemahnya kekuasaan politik Islam (Khilafah) yang berpusat di Turki.

Di bawah telapak kaki penjajah, kehidupan kaum muslim benar-benar menderita. Bencana kelaparan beberapa kali melanda berbagai wilayah di kawasan Anak Benua India. Bahkan pada 1943, Benggala dilanda kelaparan yang menewaskan 3 juta orang sehingga pemberontakan demi pemberontakan pun berkobar dimana-mana.
Untuk melemahkan kekuatan perlawanan kaum muslim, Inggris pun berusaha memecah belah wilayah ini—yang kemudian disebut India British—berdasar religiusitas. Ada India yang Hindu, Benggala Barat (kelak menjadi Pakistan) yang Islam, dan Benggala Timur (kelak menjadi Bangladesh) yang juga Islam. Antara Benggala Barat dan Timur terpisah oleh teritori India yang dominan beragama Hindu.
Kondisi tersebut membuat wilayah ini sangat rawan konflik karena isu agama. Perang antara ketiga pihak pun terjadi berkali-kali sejak semuanya menjadi wilayah penjajahan Inggris. Begitu pun perang antara wilayah yang bersisian, baik antara Pakistan dengan India, Pakistan Barat dan Pakistan Timur atau Bangladesh, maupun antara Bangladesh dengan India. Semua ini tentu ada dalam desain Inggris yang punya agenda untuk memecah kekuatan umat Islam dengan menanamkan paham nasionalisme.
Di Bawah Naungan Sekularisme
Pakistan akhirnya berhasil “merdeka” dari India pada 14 Agustus 1947, sedangkan India “merdeka” dari Inggris pada 15 Agustus 1947. Namun, kemerdekaan itu tidak menyebabkan konflik berakhir. Barat tetap memelihara situasi panas di kawasan Anak Benua India, termasuk ketika kepemimpinan dunia jatuh pada Amerika. Selain target penguasaan sumber daya, ini juga terkait target mengukuhkan hegemoni di hadapan lawan politiknya, yakni Cina dan Rusia.
Bangladesh sendiri akhirnya memang “dimerdekakan” pada 1971 di tengah setting perang besar antara India dan Pakistan. Namun, kemerdekaan ini tidak lantas membuat Bangladesh mampu keluar dari problem politik, ekonomi dan sosial. Pengadopsian sistem sekularisme dalam kepemimpinan menjadi biang problem yang muncul tidak berkesudahan.
Hingga saat ini, Bangladesh tidak terhitung sebagai negara yang punya pengaruh di kancah internasional. Secara ekonomi pun bisa dikatakan rentan. Pada 2022, bahkan terancam bangkrut karena utang, seperti Sri Lanka. Bahkan tahun ini, kondisi lebih buruk lagi. Inflasi sangat tinggi, krisis energi, perdagangan defisit hingga makro ekonominya melemah.

Dalam konteks sosial, kerusakan moral pun merajalela. Baru-baru ini, negara yang dipimpin presiden perempuan tersebut melegalkan berdirinya madrasah bagi 1,5 juta pelaku seks menyimpang. Hal ini sejalan dengan masifnya pengarusan moderasi dan deideologisasi Islam yang memang telah menjadi desain global.
Khatimah
Meski Islam tidak lagi kental mewarnai kehidupan bangsa Bangladesh, tetapi bukan berarti benih-benih kebangkitan Islam tidak tumbuh di tempat ini. Pelan, tetapi pasti, dakwah Islam kafah menyeruak dari tempat yang rakyatnya menerima Islam secara damai sejak permulaan dakwah ini. Dengan izin Allah, tanah Bangladesh akan kembali ke pangkuan kepemimpinan Islam suatu saat nanti. [MNews/Ruh]

