Muslimah News, DUNIA REMAJA –
“Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga”
Hem, kena banget ya, liriknya. Yakin tidak meneteskan air mata saat membayangkan kehangatan keluarga? Ramadan dan Syawal saat kaum muslim bersuka cita, sudah terbayang akan berkumpul bersama keluarga tercinta. Ada haru, saking bahagianya merasakan kehangatan keluarga.
Sobat muslimah, di media sosial tidak sedikit konten bertema keluarga yang terkesan sederhana, tetapi jejaknya dalam banget hingga ke lubuk hati. Contoh kecil, nih, visual seorang ayah yang menyuapi anaknya. Ada pula konten anak rantau yang pulang kampung dan membuat kejutan dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Menyimaknya membuat air mata merembes juga melihat konten-konten sejenis ini.
Di tengah banyaknya kisah keluarga yang bikin miris, konten ini mampu menghadirkan makna keluarga bagi milenial. Sobat muslimah pasti ingat cerita Tito yang viral beberapa waktu lalu. Tito tinggal bersama ibunya yang mengalami tekanan psikologis. Menariknya, kisah Tito ini menghadirkan profil sosok anak yang berbakti kepada orang tua.
Tentu banyak kisah mengharukan tentang anak remaja lainnya. Kalau mau mengulik lebih jauh, di sekitar kita bisa jadi ada. Ini menunjukkan betapa keluarga memiliki arti bagi kehidupan.
Arti Keluarga
Sobat muslimah, Islam memiliki sejumlah aturan yang menghadirkan hubungan harmonis antaranggota keluaga. Dari seorang anak kepada kedua orang tua, orang tua terhadap anak, kakak kepada adik, maupun anggota keluarga lainnya.
Keluarga merupakan tempat seluruh proses kehidupan kita bermula. Dari keluarga juga, seseorang mulai merespons dan belajar mengekspresikan keinginan-keinginannya. Keluarga pulalah yang menjadi wadah menumpahkan keluh kesah, tangis, dan tawa yang membuat ikatan antaranggota keluarga kian lekat.
Sejauh apa pun seseorang melangkah, ada rumah tempat dia kembali. Kadang tebersit rasa kecewa dan marah pada orang tua karena sesuatu hal. Ada emosi yang ingin tumpah dari diri seorang anak, terlebih pada usia remaja yang masih labil dan cenderung emosional.
Hanya saja, bahasa cinta orang tua ke kita wujudnya bisa bermacam-macam, Sobat. Namun, selama masih berada dalam tuntunan syariat, tidak menjadi masalah.
Lantas, apa yang menjembatani perbedaan ini? Jawabannya satu, komunikasi.
Ya, membangun komunikasi itu penting. Oleh karenanya, berilah jeda bagi diri kalian untuk bersosialisasi dan berinteraksi. Entah dengan keluarga maupun lingkungan.
Islam punya seperangkat aturan, lo, yaitu berupa bimbingan bagi remaja untuk berinteraksi dengan anggota keluarganya. Sudah tahu, belum? Yuk, kita cek.
Bimbingan Syariat
Sobat muslimah, untuk mewujudkan keharmonisan keluarga, terdapat sejumlah aturan syariat. Ada yang berlaku untuk orang tua, ada pula bagi sang anak. Penyebab kerenggangan orang tua dan anak sedikit banyak berawal dari tidak pahamnya kedua pihak terkait ini. Apalagi hidup pada zaman sekuler seperti saat ini.
Keluarga-keluarga muslim mengadopsi nilai-nilai Barat dalam berkeluarga. Nilai serba bebas yang membuat orang tua memberi kebebasan anak dan melepas tanggung jawabnya. Anggota keluarga lainnya seakan gagu untuk saling menasihati.
Tidak sedikit anak merasa bebas untuk mendudukkan orang tua dan anggota keluarga lainnya pada posisi sesukanya. Tidak tampak budaya saling menasihati, yang ada saling memberi kebebasan. Walhasil, hubungan anggota keluarga kering dari suasana keimanan.
Dalam Islam, terdapat aturan yang mengatur sekaligus menjadi sarana harmonisasi hubungan keluarga. Bagi anak, terdapat sejumlah syariat yang membuatnya wajib menghormati dan memuliakan kedua orang tuanya. Kewajiban itu antara lain:
Pertama, seorang anak wajib untuk selalu berbakti kepada kedua orang tua alias birrul walidain. Birrul walidain merupakan bagian dari akhlak Islam yang menunjukan bakti anak kepada kedua orang tua. Berbakti kepada orang tua ini hukumnya wajib bagi setiap muslim, meskipun seandainya kedua orang tuanya adalah nonmuslim.
Bagi seorang muslim, berbakti kepada orang tua bukan sekadar untuk memenuhi tuntunan norma kesopanan yang menjadi budaya di negeri ini. Lebih dari itu, kewajiban berbakti pada orang tua merupakan bagian dari ketaatan pada perintah Allah.
Kedua, syariat mengajarkan bahwa seorang anak wajib untuk selalu bertutur kata yang baik pada orang tuanya. Mungkin kamu pernah memiliki perbedaan pendapat atau bertengkar dengan orang tua dan berselisih paham dengan keduanya. Namun, Islam menganjurkan agar seorang anak tetap menjaga tutur kata di hadapan orang tuanya.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Isra: 23, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”
Ali bin Abi Thalib berkata, “Janganlah engkau menggunakan kefasihan bicaramu (mendebat) di hadapan ibumu yang dahulu telah mengajarimu berbicara.”
Di zaman sekuler saat ini, mudah banget kita menemukan seorang anak yang bertutur kata kasar kepada kedua orang tua. Beberapa kasus yang pernah viral menunjukkan betapa anak-anak brutal yang minus akhlak hadir di sistem sekuler saat ini.
Ketiga, hendaknya seorang anak senantiasa mendoakan kedua orang tuanya, baik di kala mereka masih hidup maupun telah kembali kepada Allah Swt. Jamak kita melafazkan doa untuk keduanya yang artinya, “Tuhanku ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku pada waktu aku kecil.”
Keempat, hendaknya seorang anak selalu memprioritaskan orang tua, terutama ibu, dan selalu berbuat baik pada orang tua. Rasulullah saw. bersabda, “Berbuat baiklah kepada ibu, karena surga berada di bawah kedua telapak kakinya.”
Kelima, hendaknya seorang anak merekatkan ikatan cinta dan kasih sayang kepada seluruh anggota keluarga dengan berbagai cara. Bisa dengan saling mengunjungi dalam rangka menjaga silaturahmi, saling memberi hadiah, saling menasihati dan mengingatkan dalam perkara kebaikan.
Khatimah
So, banyak banget yang Islam ajarkan agar di tengah-tengah keluarga terwujud kehangatan. Jika itu terimplementasi dari suasana keimanan, mewujudkan kehangatan keluarga tidak anya menjadi rutinitas, tetapi juga bukti keimanan kita kepada Allah Swt..
Agar lebih paham tentang tuntunan syariat terkait keluarga, yuk, belajar Islam kafah bareng keluarga. Inilah arti hakiki keluarga “sehidup sesurga”. Insyaallah! [MNews/Rgl]
