Muslimah News, NAFSIYAH — Imam al-Bukhari yang lahir di Bukhara (sekarang Uzbekistan), beliau mengembara hingga ke Khurasan, lalu ke Baghdad lalu Bashrah (Irak), lalu Damaskus, al-Quds, lalu Fusthat (Kairo Lama), lalu Madinah, lalu kembali lagi ke Bukhara dan wafatnya di Samarkand. Artinya, beliau mengunjungi tujuh kota dari berbagai negara saat ini demi menuntut ilmu, padahal saat itu alat transportasi tidak semudah saat ini.
Begitu pun Imam Muslim, beliau mengembara demi menuntut ilmu dari Khurasan ke Bashrah, Madinah, Makkah, Tabuk, Fusthat, Damaskus, Irak, Thibristan, lalu kembali ke Khurasan.
Betul, di zaman sekarang, untuk sekadar memperoleh pengetahuan saja, dengan sekadar duduk di rumah pun bisa mengakses pengetahuan dari berbagai penjuru dunia. Namun ada satu hal yang tidak bisa diperoleh jika hanya berkutat di rumah saja, yakni kerasnya usaha dan berbagai kesulitan saat jauh dari orang tua. Karena itulah Imam al-Syafi’i (w. 204 H) pernah bersyair,
سافر تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ *** وَانْصِبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
“Berpergianlah, akan kau temukan pengganti yang telah engkau tinggalkan *** berusahalah, sungguh kenikmatan hidup itu ada pada kerasnya usaha.”
إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ ***إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
“Sungguh aku melihat berhentinya air (tidak mengalir) akan merusaknya (menjadi kotor) *** jika ia mengalir maka akan bersih, jika tidak mengalir tidak akan bersih.”
والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست *** والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يصب
“Seekor singa jika tidak meninggalkan buminya (mengembara) tidaklah (akan bisa) menangkap (mangsa) *** dan anak panah jika tidak meninggalkan busurnya tidak akan bisa mengenai (sasaran).”
Al-Hafidz Ibnu Hajar menceritakan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya,
رجل يطلب العلم يلزم رجلا عنده علم كثير أو يرحل؟
“Mana yang lebih utama antara seseorang yang mulazamah kepada orang yang memiliki banyak ilmu, ataukah rihlah (bepergian dalam rangka menuntut ilmu).?”
Maka beliau menjawab,
يرحل، يكتب عن علماء الأمصار، فيشام الناس ويتعلم منهم
“(Lebih afdal) rihlah, ia menulis (menuntut ilmu) dari banyak ulama berbagai negeri, lalu ia bergaul, mengenal, meneliti, dan mengungkap banyak hal terkait manusia dan belajar dari mereka.”
Betul, orang tua normalnya sayang anak, tidak ingin berpisah jauh dari anak-anaknya, namun harusnya rasa sayang dan keinginan bersama tersebut di’upgrade’ levelnya; sayang kalau anak-anak tidak mendapatkan pengalaman yang lebih dalam menuntut ilmu dan keinginan bersama kelak di akhirat dalam naungan kasih sayang Allah Taala. Wallahualam. [MNews/Nsy]
Foto sampul: unsplash

Alhamdulillah jadi lebih semangat lagi untuk mencari ilmu meski jauh.