Muslimah News, NAFSIYAH — Salah satu hal yang patut kita teladani dari Rasulullah saw. ialah Rasul sering mengunjungi rumah sahabatnya. Baik sahabat yang tergolong besar dan para pemimpin atau sahabat yang terdiri dari kaum lemah serta miskin. Bahkan para pembantu rumah tangga.
Rasul rutin mengunjungi rumah Ummu Aiman, seorang pendamping keluarga Nabi sejak Nabi masih kanak-kanak. Kebiasaan Rasul berkunjung ke rumah-rumah orang saleh diikuti juga oleh para sahabat. Berkunjung merupakan salah satu adab dalam menjalin persaudaraan yang Islam ajarkan. Terdapat anjuran untuk saling ziarah atau saling mengunjungi saudara semuslim apalagi di antara pengemban dakwah.
Rasulullah saw. bersabda, “Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya, ‘Engkau mau kemana?’ Ia menjawab, ‘Aku Ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini.’ Malaikat bertanya, ‘Apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?’ Orang tadi mengatakan, ‘Tidak ada kecuali karena aku mencintainya karena Allah Taala.’ Malaikat mengatakan, ‘Sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.’” (HR Muslim)
Masyaallah, bagi seorang muslim yang mengunjungi saudaranya karena-Nya, Allah akan mencintainya. Selain mendapatkan kecintaan dari Allah, mereka yang saling mengunjungi karena-Nya akan meraih posisi mulia di akhirat. Hal itu bahkan membuat para Nabi dan orang saleh iri dengan tempat mereka.
Sabda Rasul saw., “Berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling mencintai karena Aku. Berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling menasihati karena Aku, berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling mengunjungi karena Aku. Berhak mendapatkan kecintaan-Ku, orang yang saling memberi karena Aku. Mereka akan berada di mimbar-mimbar dari cahaya yang membuat iri para Nabi dan orang-orang saleh terhadap tempat mereka itu.” (HR Ibnu Hibban)
Tidakkah para pengemban dakwah menginginkan posisi mulia tersebut di akhirat kelak? Ini adalah adab dalam Islam yang membawa kebaikan jika kita melakukannya.
Rasul juga mengabarkan pada kita, “Barang siapa yang menjenguk orang sakit, atau mengunjungi saudaranya karena Allah. Kelak akan diserukan kepadanya, ‘Engkau telah beruntung dan telah beruntung pula langkahmu, dan dibangunkan rumah di surga.’” (HR at Tirmidzi)
Tidak berhenti kita berdecak kagum dengan balasan yang Allah berikan kepada mereka yang senang melakukan kebaikan. Mengunjungi orang-orang saleh akan semakin menambah keimanan kita dan mengingatkan kita pada akhirat. Sampai-sampai Hasan Al Bashri pernah mengatakan, “Saudara-saudara kami (yang saleh) lebih kami cintai dari istri dan anak-anak kami. Karena keluarga kami mengingatkan kami akan dunia, sedangkan saudara-saudara kami mengingatkan kami akan akhirat.” (Quutul Qulub, 2/367).
Saudariku, berkunjung dapat mempererat ukhuwah di antara pengemban dakwah. Juga menguatkan ikatan hati di antara mereka. Dengan berkunjung akan mengingatkan orang yang lupa dan menggugah orang yang lalai. Juga akan mampu memberi pengajaran kepada orang yang jahil. Masih banyak lagi kebaikan yang bisa dipetik dari aktivitas mengunjungi.
Dengan demikian, sebagai pengemban dakwah, kita sebaiknya senantiasa menghidupkan adab ini di antara mereka. Jika terjadi perselisihan akan mudah segera diredam dengan berkunjung. Bahkan mampu membangun hubungan harmonis sesama pengemban dakwah. Sudahkah kita saling mengunjungi? Wallahualam. [MNews/Rndy-Rgl]
