[Nafsiyah] Wahai Umat Islam, Penuhi Hak Nabi Muhammad ﷺ

[Nafsiyah] Wahai Umat Islam, Penuhi Hak Nabi Muhammad ﷺ

Muslimah News, NAFSIYAH — Kekasih Allah Taala ialah Nabi Muhammad ﷺ. Kita mencintai Allah Swt., kita pun juga harus mencintai Nabi melebihi diri kita sendiri. Tidak sah iman seseorang kepada Allah sampai ia beriman pula kepada Rasulullah ﷺ.

Rasul ﷺ bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sampai diriku (Rasulullah ﷺ) lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR Bukhari)

Sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ memiliki hak yang sangat besar atas umatnya karena beliau membawa risalah Islam yang menuntun manusia dari jalan kesesatan menuju kemuliaan. Semua hati manusia berada dalam kegelapan, kecuali hati yang disinari oleh cahaya risalah dan kenabian beliau.

Hak-Hak Nabi yang Harus Kita Penuhi

Pertama, mencintai Nabi ﷺ dengan sebenar-benarnya cinta. Salah satu tanda kebenaran cinta seseorang kepada Nabi ﷺ adalah keinginan mereka untuk dapat melihat beliau. Sebagaimana sabdanya, “Yang paling cinta kepadaku di antara umatku adalah orang-orang yang hidup sesudahku, seorang di antara mereka ingin melihatku walau harus mengorbankan keluarga dan harta benda.” (HR Muslim)

Allah Taala berfirman, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS Ali Imran: 31)

Ayat di atas merupakan ayat ujian bagi manusia. Karena banyak orang yang menyatakan beriman kepada Allah, tetapi mereka tidak mau beriman kepada Nabi ﷺ. Padahal, jika manusia telah mengikuti Nabi ﷺ, ia akan mendapatkan ampunan dan kasih sayang dari Allah Taala.

Mengikuti Nabi ﷺ bukan karena selera kita atau seperti prasmanan. Melainkan konsekuensi ketika kita mengimani Allah Taala. Mencintai Nabi itu berat, karena kita diperintahkan mencintai seseorang yang belum pernah ditemui dan melihatnya secara langsung.

—

Kedua, menyakini bahwa tidak ada kebahagiaan dan kebaikan melainkan hanya dengan mengikuti Nabi ﷺ. Sesungguhnya manusia tidak akan mendapatkan hidayah kecuali hanya dengan mengikuti Nabi ﷺ. Firman Allah Taala, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad) agar kalian diberikan rahmat.” (QS Ali Imran: 132)

Iman itu adalah kepatuhan tanpa syarat dan ketaatan tanpa tetapi. Hal ini yang menjadikan umat Islam harus mengimani Allah dan Rasul-Nya tanpa bisa menawar. Kemudian membuktikan kebenaran Islam dengan perbuatan. Apabila kita mendengar perintah atau larangan Nabi ﷺ, kita pun mengatakan, “Kami mendengar dan kami menaati wahai Rasulullah.”

Salah satu bukti kecintaan salah seorang shahabiyah kepada Nabi ﷺ adalah ketika Nabi tengah duduk di antara para sahabat yang terbunuh dan terluka pada Perang Uhud. Beliau melihat seorang wanita berlari menuju sahabat yang terbunuh. Nabi ﷺ berkata, “Cegahlah wanita itu, cegahlah wanita itu.” Berkatalah Zubair bin Awwam, “Ketika itu, terbetiklah di dalam pikiranku bahwa wanita itu adalah ibuku, Shafiyyah binti Abdul Muthallib. Aku pun berusaha mencegahnya, tetapi dia memukulku dan menyingkirkanku. Aku berkata, ‘Sesungguhnya Nabi melarangmu untuk pergi.’ Dia pun berhenti dan memberikan kain kafan seraya berkata, “Pergilah engkau dan kafanilah Hamzah.’” (HR Ahmad)

Inilah kisah seorang shahabiyah yang patuh kepada Nabi ﷺ, meski pun ia merasakan kesedihan yang sangat mendalam karena kehilangan saudara laki-lakinya.

Jika kita menginginkan surga, sebenarnya jalan menuju surga terbuka lebar. Jalan menuju surga adalah dengan mengikuti sunah Nabi ﷺ, yaitu memenuhi secara sempurna semua perintah Nabi ﷺ.

Namun, apabila kita memilih jalan lain, jalan menuju neraka, semua pilihan ada pada kita. Sabda Nabi ﷺ, “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.” Mereka bertanya, “Siapa yang enggan wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Siapa yang taat kepadaku, akan masuk surga, dan siapa yang tidak taat kepadaku, akan masuk neraka.” (HR Bukhari)

—

Ketiga, Tidak menambahkan sesuatu (yang tidak diajarkan) Nabi ﷺ kepada umatnya. Seorang ulama bernama Said bin Musayyib pernah menegur seseorang yang menunaikan salat Subuh lebih dari dua rakaat. Ia berkata, “Tidak, Allah Taala tidak akan mengazabmu karena salat, tetapi engkau akan mendapatkan azab karena engkau menyelisihi Sunah.” Disebabkan ia menambah-nambahi bilangan rakaat salat Subuh.

Oleh karena itu, kita kembali diingatkan oleh Nabi ﷺ, “Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah kitabullah. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang tidak mempunyai landasan syarak. Karena setiap perkara tersebut adalah bidah dan setiap bidah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

—

Keempat, memperjuangkan risalah Islam seperti halnya yang dilakukan oleh Nabi ﷺ. Hal ini semata-mata menjadikan Islam sebagai satu-satunya aturan kehidupan yang diterapkan di tengah umat manusia. Apalagi aktivitas memperjuangkan Islam, melakukan dakwah amar makruf nahi mungkar merupakan aktivitas mulia yang diwarisi para nabi.

Saudariku, janganlah kita menyesal di akhir nanti ketika tidak mengikuti jalan Nabi ﷺ. Sebagaimana firman-Nya, “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit kedua tangan mereka, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, ‘Wahai! Sekiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.’” (QS Al-Furqan: 27)

Wahai umat Nabi Muhammad ﷺ, penuhilah hak-hak Nabi atas kita. Jika benar kita mencintai dan meneladan Nabi ﷺ, kita pun tidak membenci syariat yang telah disampaikan Nabi ﷺ, tidak pula mengkritik hadis yang sahih. Wallahualam. [MNews/Rindy-Rgl]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *