Muslimah News, NAFSIYAH — Kerap kali saat berdakwah, penolakan dan penerimaan senantiasa menghampiri. Namun pejuang Islam tidak akan disibukkan dengan perkara ditolak atau diterima. Yang menjadi perhatiannya ialah cara meraih kepercayaan umat saat berdakwah.
Ia akan mengupayakan berbagai cara agar dakwahnya diterima dan bisa menggerakkan seseorang untuk turut berjuang bersama dalam barisan dakwah. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan pejuang Islam guna meraih kepercayaan umat.
Pertama, menyatu antara kata dengan perbuatan. Tidak menyatunya antara kata dan perbuatan seorang pejuang Islam, bisa melunturkan kepercayaan orang lain. Misal, menyuruh orang lain untuk menjauhi aktivitas pacaran, tetapi penyerunya justru melakukan interaksi yang terlarang dengan lawan jenis. Jika hal ini terjadi pada seorang pejuang Islam, seketika ia akan kehilangan rasa kepercayaan orang lain. Apalagi Allah Swt. sudah mengingatkan kita sebelumnya, “Mengapa kalian menyuruh orang lain untuk mengerjakan kebaikan, sedang kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Qur’an. Apakah kalian tidak berpikir?” (QS Al-Baqarah: 44)
Dalam firman yang lain, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS Ash-Shaff: 2—3)
Kedua ayat di atas dilihat dari aspek psikologis menunjukkan pentingnya menyatukan antara kata dengan perbuatan.
Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah ra., Rasulullah ﷺ bersabda, “Nanti pada hari kiamat ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka maka keluarlah usus perutnya dan berputar-putar di dalam neraka sebagaimana berputarnya keledai yang sedang berada dalam penggilingan. Lantas, para penghuni neraka berkumpul seraya berkata, ‘Bukankah Anda dahulu menyuruh untuk berbuat baik dan melarang berbuat mungkar?’ Ia pun segera menjawab, ‘Benar, saya dahulu menyuruh untuk berbuat baik tetapi saya sendiri tidak mengerjakannya, dan saya melarang dari perbuatan mungkar tetapi saya sendiri malah melakukannya.’”
Oleh karena itu seorang pejuang Islam akan terus berupaya agar kata dan perbuatannya sama serta menyatu. Jika antara kata dan perbuatan tidak menyatu ia justru menunjukkan sifat kemunafikan (hipokrit) pada orang lain.
Kedua, menjadi orang pertama yang melakukan kebaikan. Rasulullah ﷺ merupakan teladan terbaik bagi manusia termasuk pejuang Islam. Rasul bukan sekadar pintar memerintah, melainkan juga pandai melakukan pertama kali apa yang beliau serukan. Beliau senantiasa berada di garis depan pada medan pertempuran.
Ali ra. menyatakan, “Jika kami dikepung ketakutan dan bahaya, maka kami berlindung kepada Rasulullah ﷺ. Tidak seorang pun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau.”
Dengan demikian, penting untuk diperhatikan oleh pejuang Islam agar memerintah dengan perbuatan, jangan hanya pintar memerintah tanpa berbuat. Jika menjadi orang pertama yang melakukan kebaikan, insyaallah orang lain akan mudah mengikuti dan makin menambah kepercayaannya kepada pejuang Islam.
Sabda Rasulullah ﷺ, “Barang siapa yang pertama melakukan kebaikan dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikan itu sendiri dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama melakukan kejahatan dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu sendiri dan dosa-dosa orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dengan mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (HR Muslim)
Ketiga, menjadikan kata sebagai ikatan. Kepercayaan orang kepada pejuang Islam akan luntur bahkan hancur hanya karena kata-kata. Misal, berbohong/berdusta dan kebohongan itu diketahui oleh orang lain. Dampaknya, seorang pejuang Islam tidak akan mendapatkan kepercayaan lagi. Rasul ﷺ bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga yaitu, bila berkata ia dusta, bila berjanji ia langgar dan bila dipercaya ia berkhianat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Perkataan semestinya menjadi ikatan. Sebab itu, ia tidak mudah membuat janji yang tidak dapat dipenuhi. Tidak juga membuat keputusan yang ia juga tidak dapat mendukungnya. Jangan sekali-kali mengeluarkan perintah yang ia sendiri pun tidak dapat melaksanakannya.
Keempat, berpegang pada nilai hakiki (qimah dzatiyah). Ketika seorang pejuang Islam beramal, ia akan melakukan dengan maksimal bukan minimalis. Ia akan berjuang sekuat tenaga untuk ketaatan kepada Allah Swt. secara total, baik dalam masalah besar maupun dalam masalah kecil.
Pengejawantahan dari hal ini adalah ia akan senantiasa memegang apa yang disebut qimah dzatiyah. Yakni, mendahulukan ‘azimah (hukum dasar) dan banyak menjauhi perkara mubah. Ia tidak mendahulukan rukhsah (keringanan) dengan meninggalkan ‘azimah.
Ia akan berupaya melaksanakan dakwah dengan sekuat tenaga. Hidup dan matinya ia curahkan untuk dakwah Islam. Sekali pun, pada saat yang sama kebutuhan pokoknya tidak terpenuhi, ia dibolehkan untuk sementara waktu meninggalkan dakwah. Namun, ia akan tetap berupaya memenuhi kebutuhan pokoknya sekaligus berdakwah.
Memegang qimah dzatiyah, berarti juga banyak meninggalkan perkara mubah yang tidak perlu. Rasulullah ﷺ menegaskan, “Di antara baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tidak berguna baginya.” (HR At-Tirmidzi)
Saudariku, sabda Rasulullah ﷺ ini sangat penting untuk selalu diingat dan diamalkan, “Seseorang itu tidak dapat mencapai tingkatan muttaqin sebelum ia meninggalkan apa yang tidak berdosa karena khawatir terjerumus pada apa yang berdosa.” (HR At-Tirmidzi)
Mudah-mudahan empat hal di atas bisa dilakukan oleh pejuang Islam untuk meraih kepercayaan umat atas dakwah yang diserukan. Hal itu akan makin mempercepat pula datangnya pertolongan Allah Swt. dengan tegaknya peradaban Islam. Amin. Wallahualam. [MNews/Rndy]
Sumber gambar: unsplash
