Penulis: Fatma Sunardi
Muslimah News, ANALISIS — Kunjungan Ketua Kongres Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi ke Taiwan memicu peningkatan ketegangan hubungan AS-Cina. Militer Cina (PLA) menggelar latihan militer besar-besaran di sekeliling Taiwan pada saat Pelosi ke Taipei.
Tindakan ini merupakan pencegahan serius terhadap eskalasi besar baru-baru ini dari tindakan negatif AS soal isu Taiwan dan peringatan serius bagi pasukan kemerdekaan Taiwan yang mencari “kemerdekaan”. Demikian disampaikan Kolonel Shi Yi, juru bicara Komando Militer Teater Timur Cina, melalui pernyataan yang dikutip CNN.[1]
Meskipun Cina bereaksi keras, tetapi Chu Shulong (seorang profesor ilmu politik dan hubungan internasional di Universitas Tsinghua di Beijing) menyatakan, “Cina tidak mungkin akan memulai perang. Cina tidak menginginkan konflik langsung dengan Amerika dan secara ekonomi kecil kemungkinan Cina akan memutuskan hubungan. Sejujurnya, Cina tidak memiliki banyak kartu di tangannya.”[2]
Cina memang terlihat menahan diri. Kuo Yujen, seorang profesor ilmu politik di Universitas Nasional Sun Yat-sen di Taiwan Selatan, kepada New York Times menyatakan, “Jika Cina bereaksi berlebihan, membawa tindakan balasan dari AS atau Jepang untuk Xi Jinping, kerugiannya akan lebih besar daripada keuntungannya.”
Presiden Cina Xi Jinping sendiri sedang bersiap menjelang Kongres Partai Komunis utama akhir tahun ini, di tengah segudang masalah lain, termasuk penguncian virus korona yang masih ada dan ekonomi yang melambat. Xi dan sekutunya mungkin tidak ingin disalahkan.[3]
Di sisi lain, tuduhan berbagai pihak bahwa kunjungan Pelosi ada kaitannya dengan dukungan pada kemerdekaan Taiwan, telah tertolak. Pelosi menyatakan bahwa kunjungannya ke Singapura, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang bukanlah tentang mengubah status quo di Taiwan.[4]
Jika AS tidak ingin mengubah status quo Taiwan, pastilah kunjungan Pelosi punya maksud yang lebih besar, mengingat risiko diplomasi atas kunjungan tersebut telah memunculkan eskalasi ketegangan hubungan AS-Cina.
AS dan Perang Ukraina-Rusia
Kunjungan Pelosi, orang terkuat ketiga di jajaran Partai Demokrat AS, menuai banyak kritik sebagai tindakan provokatif yang sangat berbahaya bagi meningkatnya ketegangan diplomatik dan geopolitik kawasan. Namun, kunjungan ini sepertinya memang harus dilakukan demi kepentingan AS sekarang dan nanti. AS tengah menghadapi tantangan memenangkan tujuan politiknya terhadap Rusia di Ukraina.
AS telah terlibat jauh dalam Perang Ukraina-Rusia. Keterlibatan ini telah memunculkan debat publik berminggu-minggu di dalam negeri yang penuh dengan ketakpastian dan kekhawatiran atas niat dan metode AS dalam konflik itu.
Ketakpastian dan kekhawatiran itu telah dijawab oleh Presiden AS Joe Biden melalui esainya tentang Perang Ukraina-Rusia di New York Times, Selasa (31/05/2022). “Tujuan Amerika sangat mudah,” tulisnya. “Kami ingin melihat Ukraina yang demokratis, independen, berdaulat, dan makmur dengan sarana untuk menghalangi dan mempertahankan diri dari agresi lebih lanjut,” tuturnya.
Ini adalah tujuan positif yang ia tekankan, yakni pemulihan kemerdekaan Ukraina dan kemampuan untuk menentukan masa depannya yang akan memajukan kepentingan vital AS dan sekutunya dalam perlindungan demokrasi, kedaulatan, dan supremasi hukum.
Biden juga menekankan bahwa ia tidak akan menekan Ukraina—secara pribadi atau di depan umum—untuk membuat konsesi teritorial sebagai bagian dari proses kesepakatan perdamaian apa pun dengan Rusia.
Sebaliknya, ia menyebut bantuan militer AS dimaksudkan untuk membantu Ukraina mempertahankan diri dengan cukup baik untuk berada di posisi terkuat di meja perundingan.
Saat Biden menyatakan tujuan AS di Ukraina, yakni untuk mencegah dan mempertahankan diri dari agresi lebih lanjut, ia juga mengisyaratkan metode untuk mencapainya, yaitu memasok Ukraina dengan senjata pertahanan yang sangat mumpuni.[5]
Jika mengaitkan dengan kepentingan AS dalam Perang Ukraina-Rusia, AS punya kepentingan untuk menyudahi perang tersebut sebelum masuk musim dingin Oktober. Hal ini untuk meningkatkan kepercayaan Eropa pada AS karena musim dingin akan menjadi titik kritis kemenangan pasukan Rusia dan kelemahan Eropa, di tengah krisis energi yang melanda Eropa.
Variabel lain, para pejabat AS mengakui bahwa stok senjata AS dan Eropa akan menipis pada titik tertentu, sedangkan AS telah mengesahkan $54 miliar bantuan militer dan bantuan lainnya, tetapi kemungkinan tidak akan ada lagi.
“Saya khawatir tentang faktor kelelahan publik di berbagai negara karena biaya ekonomi dan karena ada kekhawatiran mendesak lainnya,” kata Senator Chris Coons, Partai Demokrat dari Delaware dan sekutu dekat Biden yang menghadiri NATO pertemuan puncak di Madrid, Juni 2022.
Oleh sebab itu, Pemerintahan Biden harus mengambil langkah demi langkah untuk mengakhiri perang, tetapi tetap bisa mendapat tujuan politiknya, yakni bisa membangun kesepakatan dengan Rusia dengan imbalan Rusia bisa berjalan bersama AS untuk membendung tumbuhnya Cina di Indo Pasifik.
Akan tetapi, Rusia tidak mudah untuk diajak berkompromi, butuh kekuatan lain yang berpengaruh. Oleh karenanya, Biden sedang berfokus untuk memenangkan dukungan negara-negara penyeimbang, seperti Brasil, Cina, India, dan negara-negara lain yang belum bergabung dengan kampanye oleh AS dan Eropa untuk mengisolasi Moskow.
Dilihat dari aspek mana pun, Cina lebih berpotensi memengaruhi Rusia. Orkestrasi memengaruhi Cina perlu disusun hingga bisa menarik Cina ikut dalam upaya penghentian Perang Ukraina-Rusia.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sedang mencari kesempatan untuk berbicara langsung dengan Presiden Cina Xi Jinping untuk membantu mengakhiri perang. Zelensky mendesak Cina untuk menggunakan pengaruh politik dan ekonominya yang besar atas Rusia untuk mengakhiri pertempuran. Menurutnya, Cina adalah negara yang sangat kuat ekonominya sehingga dapat memengaruhi Rusia. Apalagi Cina juga adalah anggota tetap Dewan Keamanan PBB.[6]
Inisiatif Zelensky akan menjadi jalan mudah bagi AS untuk mengembangkan narasi bahwa di tengah kesulitan global akibat Perang Ukraina-Rusia, krisis pangan, dan isu kemanusiaan korban perang. Pembicaraan ke arah perdamaian menjadi opsi yang mendesak.
Selain itu, respons Cina yang enggan, akan menguntungkan AS, mendorong opini global untuk menyalahkan Cina, sekaligus menuduhnya sebagai pihak yang menghambat perdamaian. Prakiraan kondisi ini akan menjadi pertimbangan bagi Cina—meskipun sulit—untuk menerima pembicaraan dengan Zelensky, seraya berusaha bergeser sedikit ke arah keinginan AS.
Di dalam negeri, Biden telah mendapat dukungan bipartisan (Partai Demokrat dan Partai Republik) untuk menambahkan Finlandia dan Swedia ke aliansi NATO.[7] Makin kuatnya NATO akan memberi tekanan psikologis bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mempertimbangkan pembicaraan damai.
AS harus terus meningkatkan upaya dari segala arah, membangun suasana kegentingan untuk menyelesaikan perang. AS masih membutuhkan langkah penting, khususnya segera memperoleh respons dukungan dari Cina.
Taiwan, Alat AS Menekan Cina
Upaya membuat Cina merapat di sisi AS dalam upaya menyelesaikan Perang Ukraina-Rusia, mengharuskan back up langkah. Cina perlu ditekan lebih keras, tetapi tetap terukur agar tidak menimbulkan respons berlebihan yang merugikan AS pada waktu mendatang.
AS butuh kartu untuk dimainkan dengan manis, mengirim bahasa diplomatik yang tegas agar Cina bisa bersikap yang dibutuhkan untuk mendukung AS, yakni memengaruhi Rusia mengakhiri perang. Isu Taiwan adalah jawabannya.
Ketegangan Cina dan Taiwan yang makin meningkat menjadi alasan untuk dimanfaatkan. Pelosi, pada saat kedatangannya, mengatakan bahwa kunjungan delegasinya ke Taiwan dalam rangka menghormati komitmen teguh AS untuk mendukung demokrasi Taiwan yang dinamis.
“Diskusi kami dengan kepemimpinan Taiwan menegaskan kembali dukungan kami untuk mitra kami dan mempromosikan kepentingan bersama kami, termasuk memajukan kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” katanya.[8]
AS telah mengapitalisasi isu demokrasi Taiwan untuk mengusik Cina guna mengalihkan perhatian Cina, seraya memaksa Cina membaca pesan tegas AS agar Cina bersikap lebih moderat dalam konflik Ukraina-Rusia, serta mengurangi dukungan pada Rusia.
Ketegangan di Selat Taiwan akibat kedatangan Nency Pelosi akan sepadan dengan hasil besar, manakala Cina bisa mengubah sikapnya terhadap konflik Ukraina; setidaknya meninggalkan Rusia atau mendorong pelan Rusia agar berdamai dengan Ukraina.
AS, Adidaya yang Penuh Tipu Daya
Langkah politik AS untuk meraih target politik dalam Perang Ukraina-Rusia tidak bisa dipisahkan dari arogansi AS sebagai penguasa dunia, dan tentunya kawasan Indo-Pasifik.
Dalam Panduan Strategis Sementara untuk Strategi Keamanan Nasional AS 2021 disebutkan, “… yang mencakup arahan bagi pemerintahan baru untuk badan-badan keamanan nasional,” sehingga mereka dapat bekerja untuk memenuhi tantangan global. Dalam dokumen yang ukurannya tidak melebihi 20 halaman itu, Cina disebutkan 15 kali.
AS juga dengan jelas menyatakan ketakutannya terhadap ekspansi Cina. Biden berkata, “Jika kita tidak bergerak, Cina akan memakan makan siang kita.”
Sekali lagi, untuk membendung Cina, AS membutuhkan dukungan negara-negara berpengaruh seperti Rusia. Pertarungan untuk mendapatkan dukungan Rusia telah mengorbankan banyak nyawa di Perang Ukraina-Rusia.
Belum lagi, dampak perang bagi perekonomian global dan penderitaan jutaan pengungsi. Belum cukup dengan itu, harus ditambah ketegangan di kawasan yang berimbas pada gangguan jalur pelayaran dan penerbangan akibat aktivitas militer Cina merespons kunjungan Pelosi ke Taiwan.
Akan tetapi, bagi AS, semua itu hanyalah bagian dari hal yang dikorbankan untuk sebuah tipu daya memenangkan kepentingannya, yaitu mengukuhkan hegemoni, menjajah bangsa lain, dan dengan arogannya mengganggu kedamaian bangsa lain. Inilah wajah AS, pemimpin dunia yang penuh tipu daya.
Khilafah Islamiah, Adidaya yang Mulia
Sungguh, wajah AS saat ini sangat berbeda dengan Khilafah Islamiah. Khilafah merupakan negara adidaya, penakluk dunia. Namun, futuhat (penaklukan) yang dilakukan Khilafah bukanlah penjajahan sebagaimana dilakukan AS dan negara Barat lainnya.
Berbagai negeri taklukan Khilafah dihimpun dalam satu kesatuan dengan negara Khilafah, mendapatkan jaminan kesejahteraan dan keamanan; serta terlindungi harta, jiwa, dan kehormatannya.
Futuhat membuat taraf hidup negeri-negeri tersebut meningkat, hal yang tidak mungkin terwujud dalam penjajahan Barat. Perbedaan yang paling utama dengan penjajahan Barat adalah futuhat menjadikan negeri-negeri tersebut berada dalam naungan syariat dan keberkahan Allah Swt., menjadikan penduduknya menghamba kepada-Nya semata. Wallahualam. [MNews/Gz]
Referensi
[1] https://www.cnnindonesia.com/internasional/20220803091706-113-829577/marah-lawatan-pelosi-china-kepung-taiwan-dengan-simulasi-perang
[2] https://www.washingtonpost.com/world/2022/08/03/pelosi-taiwan-visit-china-response-military/
[3]https://www.washingtonpost.com/world/2022/08/01/stakes-pelosi-taiwan/
[4]https://www.dw.com/id/nancy-pelosi-as-tidak-akan-biarkan-cina-isolasi-taiwan/a-62717918
[5]https://www.usip.org/publications/2022/06/united-states-speaks-clearly-russias-ukraine-war
[6] https://www.reuters.com/world/europe/zelenskiy-seeking-direct-talks-with-chinas-xi-help-end-ukraine-war-scmp-2022-08-03/
[7]https://www.cnbc.com/2022/08/03/russia-ukraine-live-updates.html
[8]https://www.thehindu.com/news/international/us-house-speaker-pelosi-arrives-in-taiwan-defying-beijing/article65717821.ece
