Penulis: Shezan Adzkayra Gerung
Muslimah News, DUNIA REMAJA – Beberapa waktu lalu tersiar kabar adanya siswi yang merasa tertekan karena dipaksa berjilbab (baca: berkerudung) di sekolah. Buntutnya, sebagaimana yang ramai media kabarkan, siswi tersebut jadi ingin bunuh diri. Waduh! Kok, bisa? Apa iya sampai segitunya bisa bikin crazy sampai pengin bunuh diri? Wah wah wah, bagaimana menyikapinya, ya?
Ada Udang di Balik Batu
Sobat, dalam merespons pemberitaan seperti ini, butuh kemampuan kita untuk memetakan ini fakta atau opini. Terlebih di tengah gelombang hijrah kaum remaja. Tidak sedikit pihak yang mewacanakan bahwa jilbab dam kerudung adalah simbol radikalisme.
Padahal, jilbab dan kerudung kan simbol ketaatan pada perintah Allah. Lagian, banyak kok yang anteng pakai hijab syar’i tanpa beban. Jadi, aneh jika tiba-tiba hadir berita miring seperti di atas.
Makanya, sangat beralasan jika ada yang mengatakan berita tersebut ingin membajak semangat hijrah generasi muslim. Tidak ingin dikatakan mengidap islamofobia, tetapi narasinya menunjukkan kebencian pada syariat Islam.
Sebagai generasi muslim, menunjukkan identitas sebagai umat Muhammad saw. dengan menutup aurat harusnya mendapat apresiasi, bukannya diberitakan secara tendensius. Betul, tidak?
Apalagi, jika dibandingkan dengan serangan budaya Barat juga budaya K-pop yang menyerang generasi muslim. Anehnya, itu semua tidak dipermasalahkan. Padahal, daya rusak dari budaya tersebut sudah terbukti. Ya pergaulannya, gaya hidupnya, gaya berpakaian yang mengumbar aurat, pokoknya banyak! Anehnya, tidak dipermasalahkan.
Beda kasus dengan pakaian sesuai standar syariat Islam. Narasi radikalisme terus hadir untuk mengikis identitas generasi muda Islam. Di sisi lain, wacana Islam moderat ditawarkan sebagai pilihan. Walhasil, generasi muda jadi takut terhadap agamanya sendiri. Menyedihkan banget, iya kan?
Iringi dengan Pemahaman
Sobat, berjilbab adalah kewajiban yang Allah perintahkan untuk para muslimah. Siapa pun yang telah balig, wajib banget mengenakan dua pakaian untuk menutup aurat mereka, yakni jilbab dan kerudung.
Pakaian perempuan di dalam Islam itu sebenarnya tidak ribet. Saat ke ruang publik, jilbab dan kerudung adalah pakaian syar’i yang harus muslimah kenakan.
Apa itu jilbab? Dalam kitab kamus Al Mu’jamul Wasith, disebutkan jilbab adalah baju yang menutupi seluruh tubuh (al-tsaub al musytamil ‘ala al jasadi kullihi). Jilbab juga diartikan apa-apa yang dipakai wanita di atas baju-bajunya seperti milhafah (mantel/baju kurung). (Al-Mu’jamul Wasith, hlm. 126).
Senada dengan itu, menurut Syekh Rawwas Qal’ah Jie, jilbab adalah suatu baju yang longgar yang dipakai wanita di atas baju-bajunya (baju kerja/rumah) (tsaub wasi’ talbasuhu al mar`ah fauqa tsiyaabiha) (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al Fuqaha`, hlm. 126). Demikian juga menurut Syekh Wahbah Zuhaili dalam kitabnya At-Tafsir Al-Munir fi Al-‘Aqidah wa Al-Syari’ah wa Al-Manhaj, beliau memberikan makna serupa untuk kata jilbab.
Jilbab menurut Syekh Wahbah Zuhaili adalah baju panjang (al mula`ah) yang dipakai perempuan seperti gamis, atau baju yang menutup seluruh tubuh. (Wahbah Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir, 22/114).
Yang kedua, kerudung. Dalam Al-Qur’an disebut dengan istilah “khumur” (plural dari khimaar) bukan dengan istilah ”jilbab”. Kata “khumur” terdapat dalam firman Allah Swt. (artinya), ”Dan hendaklah mereka (para wanita) menutupkan kain kerudung ke dada mereka.” (TQS an-Nuur [24] : 31).
Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “khimaar” adalah apa-apa yang digunakan untuk menutupi kepala (maa yughaththa bihi ar ras`su) (Tafsir Ibnu Katsir, 4/227). Dengan kata lain, jilbab berbeda dengan kerudung.
Ketiga, untuk menyempurnakan hijab syar’i-mu, kamu kudu memperhatikan beberapa hal yang bisa jadi luput dari perhatian. Misalnya, ujung lengan jilbab kamu yang bisa saja melorot dan menampakkan aurat yang lebih dari pergelangan tangan. Siasati dengan lengan jilbab yang lebih aman, atau pakai aksesori tambahan seperti manset.
Selain itu, kaos kaki adalah pelengkap hijab syar’i-mu. Kaki adalah aurat, jangan sepelekan. So, biar aman, lengkapi dengan kaos kaki, ya. Kalau sudah seperti ini, tidak akan ada aktivitas mempertontonkan bagian tubuh secara sengaja.
Taat Bareng, Yuk!
Di tengah tren hijab dan gempuran konten yang mengumbar syahwat seperti saat ini, memang sayang banget jika tidak disertai dengan pemahaman. Konsekuensinya ya menutup aurat sekadar formalitas. Bahkan, ada yang menutup aurat dalam kondisi formal saja seperti ke pesta, ke sekolah, acara kampus dan sejenisnya. Di luar aktivitas itu, melepasnya seolah perkara biasa. Jangan seperti itu, ya!
Pertahankan identitasmu dan tunjukkan bahwa menggunakan jilbab dan kerudung adalah simbol ketaatan terhadap syariat Allah. Jika saat ini ada teman di circle kamu yang masih belum berhijab syar’i, ajak dia untuk taat bareng-bareng. Bukankah teman yang baik adalah yang senantiasa mengajak pada kebaikan? So, jangan sendiri, dong, masuk surganya. Ajak siapa pun dengan senantiasa melakukan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Termasuk sahabat-sahabatmu. Oke? [MNews/Rgl]

Masalah berpakaian itu hukumnya mutlak. Mari kita taati dgn keyakinan bahwa hukum itulah yg terbaik bagi tatanan hidup manusia