[Telaah Kitab] Cara Mengemban Dakwah

[Telaah Kitab] Cara Mengemban Dakwah

Muslimah News, TELAAH KITAB — Allah Swt. berfirman,“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia yang Maha Mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An Nahl: 125).

Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Ubadah Bin Shamid. Ia berkata, “Kami membaiat Rasulullah saw. untuk setia mendengarkan dan menaati perintahnya, baik dalam keadaan yang kami senangi maupun kami benci dan kami tidak akan merebut kekuasaan dari seorang pemimpin dan kami akan berbuat dan berkata benar di mana saja kami berada. Kami tidak pernah takut karena Allah atas celaan orang yang mencela.”

Ayat tersebut menjelaskan cara mendakwahkan Islam. Sedangkan hadis di atas menjelaskan bahwa perkataan yang benar (qaulul haq) adalah bagian dari apa yang dibaiatkan kaum muslim kepada Rasulullah saw., sekaligus menjelaskan keadaan qaulul haq tersebut.

Tentang dakwah mengajak manusia kepada Islam, ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia dapat diajak kepada agama Allah dengan tiga cara, salah satunya adalah dakwah dengan hikmah. Hikmah adalah al-burhan al-aqli (argumentasi logis). Maksudnya, argumentasi yang masuk akal, tidak dapat dibantah, dan memuaskan. Inilah yang bisa memengaruhi jiwa (pikiran dan perasaan) siapa saja. Ini karena, manusia tidak akan dapat menutupi akalnya di hadapan argumentasi-argumentasi yang pasti serta pemikiran yang kuat.

Oleh karena itu, berdakwah dengan argumentasi dan hujah ini dapat memengaruhi para pemikir maupun bukan pemikir. Ia ditakuti oleh orang-orang kafir dan orang-orang atheis, sebagaimana juga ditakuti oleh orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Sebabnya, ia dapat membongkar rekayasa kebatilan, menerangi wajah kebenaran, menjadi api yang mampu membakar kebobrokan, dan menjadi cahaya yang dapat menyinari kebenaran.

Dari sini kita menemukan bahwa Al-Qur’an telah mendatangkan hujah-hujah yang jelas dan argumentasi-argumentasi logis. Ia merupakan bentuk ungkapan yang paling dalam, serta argumentasi-argumentasi dan hujah-hujah yang paling jelas.

Demikianlah, maka menjadikan salah satu metode berdakwah dengan hikmah atau dengan argumentasi logis dan memuaskan akalbadalah wajib. Allah Swt. berfirman, “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan) sehingga apabila angin itu telah membawa awan, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS Al A’raf: 57).

Merupakan kekeliruan apabila seseorang mengira bahwa hikmah adalah kebijaksanaan, kelemahlembutan, atau keramahan. Makna tersebut sama sekali tidak terdapat dalam ayat di atas. Hikmah memang kadangkala berarti menempatkan persoalan pada tempatnya dan kadangkala berarti hujah dan argumentasi. Dalam ayat ini, tidak mungkin ditafsirkan dengan menempatkan persoalan pada tempatnya. Jelaslah kemudian, bahwa makna hikmah adalah hujah dan argumentasi.

Sedangkan cara berdakwah yang kedua adalah mauizhah hasanah atau peringatan yang baik. Itu berarti memengaruhi perasaan manusia ketika menyeru akal mereka dan memengaruhi pemikiran mereka ketika menyeru perasaannya. Dengan demikian, pemahaman mereka terhadap apa yang mereka dakwahkan senantiasa diliputi oleh semangat melaksanakannya, serta beramal untuk meraihnya. Al-Qur’an telah melakukan hal itu, maka saat ia menyeru pemikiran, ia pun memengaruhi perasaan.

Firman Allah Swt., “Sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahanam itu kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai pikiran, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS Al A’raf [7]: 179).

Allah Swt. telah berfirman, “Sesungguhnya neraka jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai, lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula (mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah sebagai pembalasan yang setimpal.” (QS An Naba’: 21–26).

Adapun metode yang ketiga adalah Al Jidal (bantahan) dengan cara yang lebih baik, yaitu berdiskusi yang terbatas dengan ide. Kemudian menyerang dan menjatuhkan argumentasi-argumentasi batil, lalu memberikan argumentasi-argumentasi yang jitu dan benar dengan meneliti hingga sampai pada suatu kebenaran. Oleh karena itu, ia mengandung dua sifat.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah)? Karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan), ketika Ibrahim mengatakan  ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan’, orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’, Ibrahim berkata, ‘Allah bisa menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dari barat’, lalu diam dan terdiamlah orang-orang kafir itu.”(QS Al Baqarah: 257).

Allah Swt. juga berfirman, “Fir’aun bertanya, ‘Siapa Tuhan alam semesta itu?’, Musa menjawab, ‘Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa saja yang ada pada keduanya (itulah Tuhanmu) jika kamu sekalian (orang-orang) yang memercayainya.’ Berkata Fir’aun kepada orang-orang di sekelilingnya, ‘Apakah kamu tidak mendengarkan?’ Musa berkata (pula), ‘Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek kamu terdahulu.’, Fir’aun berkata, ‘Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila.’ Musa berkata, ‘Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.’ Fir’aun berkata, ‘Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.’ Musa berkata, ‘Datangkanlah sesuatu (keterangan) yang nyata itu, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.'” (QS Asy Syu’ara: 23–31).

Di sana terdapat banyak cara membantah yang telah disampaikan oleh Al-Qur’an. Inilah bantahan dengan cara yang lebih baik. Merupakan kekeliruan adanya dugaan bahwa makna bantahan dengan cara yang lebih baik adalah bantahan dengan kelembutan dan keramahan. Cara yang benar justru sebagaimana cara-cara membantah yang ada di dalam Al-Qur’an.

Inilah ketiga metode berdakwah yang semuanya harus dipakai untuk menyatakan kebenaran di mana pun (pengemban dakwah) berada, baik di hadapan penguasa atau di hadapan masyarakat biasa. Dalam hal ini, pengemban dakwah harus memberikan pemikiran yang benar. Ia juga wajib menantang, agresif, serta yakin terhadap kebenaran yang didakwahkannya. Ia akan menantang dunia dan seisinya, serta menantang penguasa dan centeng-centengnya. Ia juga akan memaklumkan perang terhadap orang yang berkulit hitam maupun merah, tanpa memperhitungkan pertimbangan adat, tradisi, agama-agama, akidah-akidah, penguasa-penguasa, atau rintangan-rintangan apa pun. Ia tidak akan berpaling sedikit pun kepada sesuatu, selain risalah Islam.

Rasulullah saw. telah mengawali (berdakwah) kepada orang Quraisy dengan mencela, memaki-maki tuhan-tuhan mereka, menentang, dan menghina kepercayaan-kepercayaan mereka. Ketika itu, beliau sendirian, tidak ada sejumlah orang bersama beliau, tidak ada pendukung, dan tanpa senjata (pedang), kecuali keimanan yang amat dalam terhadap Islam yang beliau dakwahkan. Beliau sama sekali tidak memedulikan kebiasaan, tradisi, serta kepercayaan-kepercayaan bangsa Arab.

Beliau saw. juga tidak bermanis muka, serta sama sekali tidak memenuhi kepentingan dan kebutuhan mereka. Beliau membacakan firman Allah Swt. kepada mereka, “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah menjadi bahan bakar api jahanam. Kamu pasti masuk ke dalamnya.” (QS Al Anbiyaa: 98).

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa.” (QS Al Lahab: 1).

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela yang kian kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain itu yang terkenal kejahatannya.” (QS Al Qalam: 10–13).

Orang-orang Quraisy berandai-andai agar beliau dapat bersikap lunak. Firman Allah Swt., “Maka mereka menginginkan supaya kamu lunak, lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS Al Qalam: 9). Akan tetapi Rasulullah saw. tetap menyerang dengan sengit hingga kekafiran tersebut lenyap. Demikian halnya bagi para pengemban dakwah, mereka wajib menyampaikan dakwah dengan agresif dan menantang dengan mencurahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya hingga berkibarlah bendera Lailaha illallah Muhammadur Rasulullah. [MNews/RR-YG]

Sumber: Hadits Shiyam

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *