Kesabaran Umair bin Sa’ad Menghadapi Orang Munafik

Kesabaran Umair bin Sa’ad Menghadapi Orang Munafik

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Pada suatu hari ketika Umair bin Sa’ad sedang berada di rumah kerabatnya, ia mendengar seorang dari mereka yang bernama Julas bin Suwaid bin Shamit berkata, “Seandainya Muhammad itu berkata benar, tentu kita ini lebih buruk dari keledai.” Julas sudah masuk Islam, tetapi hanya sebagai pelarian.

Mendengar ucapan itu, ada kemarahan dan kebingungan dalam diri Umair. Ia marah karena ada orang yang mengaku muslim, tetapi menghina Rasulullah ﷺ seperti itu. Ia pun bingung, apa yang harus dilakukan? Apakah ia harus memberitahu Nabi ﷺ? Bukankah ini pembicaraan antarkeluarga? Apakah ia harus merahasiakan ucapan itu? Lantas, di mana kesetiaannya kepada Rasulullah ﷺ yang telah mengentaskannya dari kesesatan?

Namun, kebingungannya tidak berlangsung lama. Umair berkata kepada Julas, “Julas, demi Allah, engkau termasuk orang yang aku hormati dan paling baik kepadaku. Aku sangat tidak rela ada bahaya yang menimpamu. Baru saja engkau mengucapkan kata-kata yang jika aku sebarkan, pasti kata-kata itu mencelakaimu. Akan tetapi jika aku diamkan, berarti aku merusak keimananku sendiri. Aku tidak akan merusak janji setiaku kepada Rasulullah. Aku akan sampaikan ucapanmu yang kudengar kepada beliau.”

Julas justru menanggapinya dengan kesombongan. Ia tidak mau meminta maaf. Umair meninggalkan kerabatnya dan berkata, “Akan kusampaikan kepada Rasulullah ﷺ sebelum Allah menurunkan wahyu yang melibatkan diriku dalam dosamu.”

Setelah mendapat laporan Umair, Rasulullah ﷺ memanggil Julas. Namun, Julas menyangkal pengaduan Umair, bahkan ia bersumpah dengan nama Allah. Pada saat itu Allah menurunkan wahyu berupa QS At-Taubah: 74 yang menjelaskan hal yang benar dan salah, “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”

Akhirnya Julas terpaksa mengakui perbuatannya dan meminta maaf atas kesalahannya. Terlebih, firman Allah di atas benar-benar memosisikan dirinya pada pihak yang salah dan hina. Namun, pada saat yang sama, ayat di atas menjanjikan rahmat Allah jika ia mau bertobat. Tindakan Umair ternyata membawa kebaikan bagi Julas. Ia bertobat dan menjadi muslim yang taat. Nabi ﷺ memegang telinga Umair dan berkata, “Hai anak muda, telingamu telah melaksanakan tugasnya dengan baik dan Allah telah berpihak kepadamu.” (Khalid Muhammad Khalid, 60 Sirah Sahabat Rasulullah ﷺ)

Hikmah

Pada setiap masa akan selalu ada orang-orang seperti Julas. Dari luar ia tampak beriman kepada Islam, tetapi perilakunya tidak mencerminkan seorang muslim yang sesungguhnya. Orang-orang munafik seperti Julas pada masa kini ibarat bermuka dua. Di depan, mereka tampak membela Islam, sebaliknya di belakang justru menjatuhkan kemuliaan Islam.

Lain di mulut, lain di hati. Mereka mengaku beriman, tetapi menolak hukum Islam diterapkan. Mereka malah berbangga dan mati-matian membela hukum buatan manusia yang lemah. Namun, siapa pun orangnya, selama ia masih menyandang predikat seorang muslim, pintu tobat masih terbuka lebar. Sebanyak apa pun kesalahannya, Allah memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan menebusnya dengan ketaatan kepada Islam. Contoh nyatanya ialah Julas. Dari kisah ini, kita dapat memetik beberapa hikmah yang luar biasa.

Pertama, bersikap berani membela kebenaran ketika ada orang yang melecehkan Nabi ﷺ dan Islam. Lihatlah keberanian Umair membela Nabi ﷺ, meski awalnya ia sempat bimbang dan serba salah.

Kedua, muslim yang memiliki ciri-ciri munafik harus dihadapi dengan kesabaran, argumentasi kuat, serta tidak terpancing amarah dan emosi. Tujuannya agar saudara kita tercerahkan dengan penjelasan yang santun, sabar, tegas, dan argumentatif sehingga ia dapat menerimanya dengan baik.

Ketiga, tidak ada yang mustahil jika Allah menghendaki seseorang tertunjuki dengan hidayah-Nya. Seseorang sekelas Umar bin Khaththab saja yang dulunya begitu membenci Islam menjadi pembela Islam nan berani dan lantang. Oleh karenanya, jadikan prinsip ini sebagai pegangan dalam mendakwahkan seseorang. Tidak menutup kemungkinan orang yang dulunya munafik bisa berubah haluan menjadi orang yang taat dan mencintai Islam sepenuh hati.

Dakwahkan dan doakan mereka. Demikianlah yang Nabi ﷺ contohkan kepada kita. Semoga Allah Taala senantiasa menetapi kesabaran, keberanian, dan lisan yang menggugah kepada kita dalam mendakwahkan dan menyebarluaskan Islam kepada siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Wallahualam. [MNews/CJ-YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *