Penulis: K.H. Hafidz Abdurrahman
Muslimah News, NAFSIYAH — Hidup di dunia adalah perjalanan. Destinasi pertama, setelah kematian saat dalam bentuk sperma dan sel telur di dalam rahim ibu kita.
Setelah itu, ujian demi ujian kita lalui dalam kehidupan untuk menguatkan dan mengantarkan kita menjadi manusia terbaik, kalau kita menjadikan hari-hari kemarin sebagai pengalaman dan hari-hari ini menjadi ibrah.
Hal yang menyedihkan dan melelahkan, kita lupakan dan tinggalkan. Cinta, kemuliaan, integritas, dan kebaikan, kita ambil. Selebihnya, kita serahkan kepada Allah Swt., biarlah Dia yang mengurus seluruh urusan kita.
Dari hidup kita belajar, “Siapa yang menginginkan kemuliaan, ia harus siap mendaki.” Begitulah rumusnya. “Siapa yang banyak kebaikannya, maka temannya banyak.” Begitu pula sebaliknya.
“Siapa yang menggali lubang, maka ia akan terperosok ke lubang yang digalinya sendiri.” Ini karena hidup tidak ada yang gratis. Semua akan dibayar. Jika tidak di sini, pasti di akhirat ada bayarannya.
Oleh karena itu, “Pendengki tidak akan bisa memimpin dan menjadi pemimpin.” Ini karena untuk mendapatkan kepemimpinan harus memberikan dedikasi dan pengorbanan, bukan dengan iri dan dengki dengan kebaikan orang lain.
Itulah pelajaran hidup. Pelajaran yang ditanamkan sejak dini kepada kita oleh orang tua, guru, dan kehidupan kita. Ini pelajaran yang harus kita tanamkan kepada anak-anak kita, agar mereka bisa mengambil pelajaran dalam hidup ini.
Untuk apa? Persiapan menuju destinasi berikutnya, yakni “hidup” di alam Barzakh dan kehidupan abadi di akhirat. Itulah perjalanan panjang hidup kita. Siapa yang menyia-nyiakan waktunya di dunia, ia pasti rugi.
Mari kita amalkan doa ini. “Ya Rabb, jangan Engkau sibukkan akalku dengan apa yang membuatnya gelisah. Juga hatiku dengan siapa saja yang tidak menyayanginya. Juga waktuku dengan apa yang tidak bermanfaat baginya. Rabbi, jadilah penolongku. Selalu bersamaku. Jadikanlah hamba menjadi lebih kuat dan tegar dengan-Mu.”
Ijazah doa dari Al-‘Allamah Syekh Mutawalli Sya’rawi. [MNews/YG]
Sumber: Telegram K.H. Hafidz Abdurrahman
