Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.
Muslimah News, NAFSIYAH — Kalau boleh dibandingkan antara kemerdekaan jiwa dan kemerdekaan raga, maka kemerdekaan jiwa jauh lebih penting daripada kemerdekaan raga semata.
Jiwa yang merdeka tidak bisa dihentikan aktivitas perjuangannya walaupun raganya tersandera. Sebaliknya, raga yang sehat, kuat, dan gagah perkasa, jika jiwanya tersandera, maka jiwanya menjadi budak. Kekuatan fisik itu tidak akan berarti apa-apa.
Bilal bin Rabah ra. adalah seorang budak yang disiksa tuannya karena keimanannya. Mereka meletakkan batu besar di atas dadanya di tengah terik matahari. Kemudian, mereka memerintahkan Bilal supaya menyekutukan Allah. Bilal dengan tegas menolak permintaan mereka. Ia mengucapkan, “Ahad, ahad” (Allah Maha Esa) berkali-kali, sambil mengatakan,
وَاللَّهِ لَوْ أَعْلَمُ كَلِمَةً هِيَ أَغْيَظُ لَكُمْ مِنْهَا لَقُلْتُهَا
“Demi Allah, kalau aku tahu ada satu kata lain yang akan menyebabkan kalian lebih marah, tentulah akan aku katakan!”
Begitu juga Habib bin Zaid Al Anshari ra. yang raganya tersandera. Saat itu, Musailamah Al Kadzdzâb berkata kepadanya,
أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
“Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah?” “Ya, benar,” jawabnya. Kemudian, Musailamah bertanya lagi,
أَتَشْهَدُ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ؟
“Apakah engkau juga bersaksi bahwa aku ini Rasulullah? Dia menjawab,
لَا أَسْمَعُ
“Aku tidak mendengar (hal tersebut).” Kemudian, Musailamah menyiksanya dengan cara memotong-motong tubuhnya hidup-hidup (dicincang), sedangkan Habib bin Zaid tetap teguh dengan sikapnya itu. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/606).
Jika raga yang tersandera tidak mampu menghentikan mereka yang berjiwa merdeka, apalagi jika jiwa sekaligus raga mereka merdeka.
Rib’iy bin ‘Amir, utusan Sa’ad bi Abi Waqqash ra., sebagaimana diceritakan oleh Imam At Thabari (w. 310H) di dalam kitab tarikhnya juz 3 hlm 519 dst. Dengan pakaian yang sangat sederhana, ia menghadapi Rustum, Jenderal Persia dengan segala kemewahannya. Ketika mau masuk, mereka meminta Rib’iy menanggalkan senjatanya. Rib’iy tidak merasa minder dengan kemewahan mereka dan kesangatsederhanaan dirinya. Kemudian, ia menjawab,
إِنِّي لَمْ آتِكُمْ فَأَضَعُ سِلاحِي بِأَمْرِكُمْ، أَنْتُمْ دعوتموني، فان ابيتم ان آتيكم كما اريد رَجَعْتُ
“Sesungguhnya aku mendatangi kalian bukan untuk meletakkan senjataku karena perintah kalian. Kalian yang telah mengundangku. Jika kalian tidak menerima kedatanganku sebagaimana yang aku kehendaki, aku akan kembali pulang.”
Akhirnya, bertemulah Rib’iy dengan Rustum. Ketika Rustum bertanya, ”Apa yang membuat kalian datang ke sini?” Dengan penuh keyakinan, Rib’iy menjawab,
اللَّهُ ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سِعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ…
“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam.”
Berikutnya, terjadilah diskusi di antara mereka. Setelah Rib’iy pulang, Rustum mengumpulkan para petinggi kaumnya. Ia kemudian berkata, ”Pernahkah kalian melihat (walau sekali) yang lebih mulia dan lebih benar daripada perkataan lelaki ini?”
Mereka menjawab, ”Kami minta perlindungan Allah dari (supaya engkau tidak) terpengaruh kepada sesuatu dari (ajakan) ini dan dari menyeru agamamu kepada (agama) anjing ini. Tidakkah engkau melihat kepada pakaiannya?”
Rustum menjawab,
وَيْلَكُمْ لَا تَنْظُرُوا إِلَى الثِّيَابِ، وَانْظُرُوا إِلَى الرَّأْيِ وَالْكَلَامِ وَالسِّيرَةِ. إِنَّ الْعَرَبَ يَسْتَخِفُّونَ بِالثِّيَابِ وَالْمَأْكَلِ، وَيَصُونُونَ الْأَحْسَابَ
”Celaka kalian! Janganlah kalian melihat kepada pakaian. Akan tetapi, lihatlah kepada pendapat, perkataan, dan jalan hidupnya! Sesungguhnya, orang Arab menganggap ringan masalah pakaian dan makanan, tetapi mereka menjaga harga diri mereka.”
==
Pasukan penjajah memang telah pergi dari negeri ini. Secara fisik yang memimpin negeri ini adalah anak-anak negeri sendiri. Namun, sudahkah para penguasa negeri ini mempunyai jiwa yang merdeka, berani menolak hegemoni asing, bahkan menentangnya?
Sungguh menyedihkan, fakta yang terlihat justru sebaliknya. Raga penjajah memang telah pergi. Namun sepertinya justru kita yang tidak merelakan mereka pergi. Kita sudah enjoy dengan penjajahan.
Raga para penjajah memang kita usir, tetapi kita masih menggunakan aturan dan pola pikir mereka. Kita mengundang mereka untuk menguasai lebih dari 70% kekayaan negeri ini atas nama investasi. Akhirnya, rakyat negeri ini menjadi kuli yang bekerja kepada mereka untuk keuntungan mereka. Kita senantiasa berutang kepada mereka hingga kita kesulitan membayar bunganya.
Kasus Tolikara yang pernah terjadi juga membukakan mata kita, saat GIDI (Gereja Injil di Indonesia) melarang umat Islam merayakan hari rayanya. Bahkan mereka membakar masjid saat bendera Entitas Yahudi berkibar jaya di sana. Saat secara nyata presiden GIDI, Dorman Wandikbo mendukung separatisme Papua dengan menyatakan, “Papua merdeka itu hak dasar orang Papua. Orang Papua minta merdeka bukan karena penderitaan, kelaparan, dan kemiskinan, tetapi mau lepas karena ideologi yang harus kita pahami.”
Mengapa kemudian justru digelar karpet merah di istana untuk mereka? Sudah sedemikian rapuhkah kekuatan kita ataukah jiwa penguasa negeri ini yang terjajah dan terjarah? Ini sungguh sangat bertolak belakang dengan sikap kesatria yang dicontohkan oleh para sahabat.
Jiwa akan benar-benar merdeka jika hanya menghamba kepada Allah Swt., Zat Yang Maha Perkasa. Jiwa tidak akan merdeka jika masih bergantung pada manusia, sangat senang dengan pujiannya, dan sangat khawatir dengan celaannya. Jiwa tidak akan merdeka jika masih menghamba pada hawa nafsu dan tidak mau tunduk kepada syariat-Nya. Jiwa seperti inilah penyebab terjadinya kehinaan di atas kehinaan. Umar bin Khaththab ra. pernah berkata,
إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ
“Sesungguhnya kita dulu adalah kaum yang hina, kemudian Allah muliakan kita dengan Islam. Bilamana kita mencari kemuliaan selain dengan yang Allah telah muliakan kita, maka Allah pasti akan menghinakan kita.” (HR Al Hakim). Hadis ini dengan sanad sahih menurut syarat Al Bukhari dan Muslim, disepakati oleh Adz Dzahabi. Allahu A’lam. [MNews/YG]
Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com
