Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.
Muslimah News, NAFSIYAH — Anas bin Malik ra. menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ
“Tidak ada keimanan (yang sempurna) bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi seseorang yang tidak memenuhi janji.” (HR Ahmad).
Sesungguhnya, amanah agama Islam ini adalah urusan yang sangat besar sehingga langit, bumi, serta gunung-gunung merasa khawatir dan takut untuk memikulnya. Allah Swt. berfirman,
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya, Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu. Mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya, manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al Ahzab: 72).
Imam Al Qurthubi (w. 671 H) dalam tafsirnya menerangkan,
وَالْأَمَانَةُ تَعُمُّ جَمِيعَ وَظَائِفِ الدِّينِ عَلَى الصَّحِيحِ مِنَ الْأَقْوَالِ، وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ… فَالْأَمَانَةُ هِيَ الْفَرَائِضُ الَّتِي ائْتَمَنَ اللَّهُ عَلَيْهَا الْعِبَادَ
“Menurut perkataan yang sahih, yakni mayoritas ahli tafsir, (yang dimaksud dengan) amanah adalah mencakup semua tugas-tugas (fungsi-fungsi) keagamaan. Amanah adalah segala kefarduan (kewajiban) yang Allah telah mempercayakan kepada hamba (manusia) untuk melaksanakannya.” (Al Jâmi’ li Ahkâmil Qur’an, 14/253).
Al-Qur’an dan Sunah adalah amanah yang harus dilaksanakan semua yang terkandung di dalamnya, bukan sekadar dibaca, lalu diabaikan isinya, apalagi dikriminalisasikan hukum-hukumnya. Imam Al Hasan al Bashri (w. 110 H) berkata,
أنزل القرآن ليعمل به، فاتخذ الناس تلاوته عملا، يعني أنهم اقتصروا عَلَى التلاوة وتركوا العمل به
“Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, maka manusia menjadikan membacanya sebagai amalan, yakni mereka merasa cukup puas dengan membacanya, tetapi meninggalkan mengamalkannya.” (Talbîs Iblîs hlm.101).
Perintah-perintah Allah dalam hal ibadah adalah amanah. Kita bukan sekadar diperintahkan mengaplikasikan dua kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, berhaji ke Baitullah, dan umrah jika mampu. Akan tetapi, kita juga diminta melakukan semua itu semata karena ingin mendapat keridaan-Nya, bukan untuk selain-Nya.
Anak-anak dan istri-istri adalah amanah. Tidak cukup hanya diberi nafkah, tetapi kita juga dituntut mengarahkan, mendidik, dan mengkondisikan mereka agar tidak terjerumus ke dalam neraka.
Harta berupa rezeki dari Allah Swt. adalah amanah. Sudahkah kita nafkahkan di jalan ketaatan? Sudahkah digunakan untuk bisnis sesuai ketentuan Allah? Sudahkah dikeluarkan zakatnya dan hak-hak orang fakir?
Jabatan dan kekuasaan adalah amanah. Jika tidak ditunaikan, ia akan menjadi kehinaan di hari akhir. Ribuan kaum muslim yang dizalimi, dibantai, dan diperkosa secara keji di berbagai negeri akan menuntut tanggung jawab penguasa yang lebih memilih diam atau sekadar mengecam, padahal di tangan mereka ada komando yang mampu menggerakkan militer umat Islam untuk melindungi mereka.
Lihatlah Rasululah saw., saat kondisi negara masih belum begitu stabil, beliau menggerakkan tentara kaum muslim saat mendengar seorang muslimah dilecehkan oleh sekelompok Yahudi Bani Qainuqa’. Beliau bahkan memutuskan perjanjian Hudaibiyyah, lalu memobilisasi pasukan untuk menaklukkan Makkah saat sekelompok kaum muslim Khuza’ah dibantai oleh Bani Bakr yang diprovokasi oleh kaum kafir Quraisy.
Pada intinya, semua yang Allah wajibkan adalah amanah yang harus kita tunaikan dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada kesempatan mengelak dan bersilat lidah saat itu. Sebaliknya, tangan, kulit, kaki, bahkan temboklah yang menjadi saksi di hadapan pengadilan-Nya. [MNews/YG]
Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com
