[Fikrul Islam] Sang Pemberi Rezeki

[Fikrul Islam] Sang Pemberi Rezeki

Penulis: M. R. Kurnia

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Ada sebagian orang yang menganggap bahwa rezeki itu merupakan hasil usaha manusia. Bila seseorang dinaikkan gajinya, ia merasa bahwa semua itu diakibatkan kerja kerasnya dan prestasi kerjanya. Ia merasa rezeki yang berupa kenaikan gajinya itu berasal dari dirinya.

Demikian pula apabila seorang pedagang beruntung. Kadang kala ia menganggap bahwa rezeki yang berupa keuntungan yang diperolehnya itu berasal dari dirinya. Padahal, dengan mendalami akidah Islam, akan ditemukan bahwa pendapat tadi bertentangan dengan akidah Islam.

Pengamatan secara mendalam terhadap ayat-ayat Al-Qur’an menyimpulkan bahwa rezeki itu ada di tangan Allah Swt. dan berasal dari-Nya. Siapa yang dikehendaki oleh Allah Swt. diberi rezeki, ia akan mendapatkannya, demikian pula sebaliknya. Firman Allah Swt.,

لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى

“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.”(QS Thaha: 132).

وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْٓ اَنْتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ

“Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS Al-Maidah: 88).

اَللّٰهُ لَطِيْفٌۢ بِعِبَادِهٖ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ

“Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS Asy-Syura: 19).

Ayat-ayat di atas, juga Surah Al-An’am: 142, 151; An-Nahl: 114; Al-Baqarah: 212; Ali Imran: 27; Ath-Thalaq: 3; Hud: 6, menunjukkan satu pengertian (qath’i dilalah) bahwa Allah Swt. adalah pemberi rezeki (Ar-Razaq), Dialah yang memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki oleh-Nya dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Ini adalah perintah Allah untuk diyakini.

Berdasarkan ayat-ayat tegas di atas, jelaslah bahwa Allah memberi rezeki pada siapa saja yang dikehendaki, baik atas usaha orang tersebut atau tanpa usahanya. Sering kali ditemui seseorang mendapatkan rezeki tanpa usaha dia.

Contoh kasus, seseorang yang sedang enak-enak naik bis antarkota. Saat kondektur datang, orang tadi akan membayar ongkos. Namun, apa yang terjadi? “Ongkos Bapak sudah dibayar oleh Bapak yang memakai baju batik,” ujar kondektur sambil menunjuk orang yang dimaksud. Saat orang tadi melihat ke orang berbaju batik, ternyata ia teman lamanya.

Banyak contoh-contoh yang menunjukkan bahwa tanpa usaha seseorang mendapat rezeki, misalnya orang yang mendapatkan harta melalui jalan warisan, mustahik yang berhak mendapatkan zakat, hadiah yang diberikan oleh seseorang, anak yang menjadi tanggungan orang tua, atau dalam pemerintahan Islam orang yang tidak dapat berusaha diberi negara tanpa usaha yang dilakukannya. Rezeki yang diperolehnya tanpa usaha tersebut bukan terjadi secara kebetulan, melainkan rezeki tersebut berasal dari Allah.

Walaupun demikian, bukan berarti tidak perlu berusaha, sebab sering juga terjadi, meski sudah melakukan usaha, seseorang tidak mendapatkan rezeki apa pun. Tanpa melakukan usaha, kadang-kadang seseorang mendapat rezeki, kadang-kadang tidak. Dengan kata lain, tanpa usaha atau tanpa kerja merupakan keadaan atau jalan Allah memberikan rezeki kepadanya.

Seperti halnya tanpa usaha atau tanpa kerja, orang yang bekerja dan berusaha pun kadang-kadang mendapatkan rezeki, kadang-kadang tidak. Misalkan, seorang pedagang berusaha sekuat tenaga, tetapi hasilnya kadang kala beruntung, tetapi sekali-sekali rugi pula.

Contoh lain, seorang pengusaha yang telah menginvestasikan kekayaannya, sekalipun telah berusaha sekuat tenaga, boleh jadi suatu saat mengalami kerugian, bahkan sampai bangkrut setelah sekian lama mendapatkan keuntungan. Atau seorang pekerja yang baru gajian, tiba-tiba sesampainya di rumah merasa heran karena uang gajiannya ludes dengan dompet-dompetnya digasak copet, atau mungkin saja tanpa disangka-sangka ia di-PHK.

Demikian pula seorang sopir sekali-kali mendapat banyak uang, tetapi pada lain waktu hanya sedikit, bahkan untuk membayar setoran pun tidak cukup, sekalipun sudah menarik mobil dari pagi hingga malam hari. Ini semua menunjukkan bahwa bekerja boleh jadi mendatangkan rezeki, boleh jadi tidak.

Dengan demikian, bekerja bukanlah ‘sebab’ datangnya rezeki, sebab bila bekerja merupakan ‘sebab’ datangnya rezeki, pastilah setiap bekerja, baik dengan cara berdagang, berproduksi, menyopir, ataupun menjadi karyawan, harus sudah pasti mendatangkan rezeki (termasuk keuntungan). Padahal, dalam realitasnya tidak selalu demikian.

Oleh sebab itu, bekerja bukanlah sebab datangnya rezeki, melainkan keadaan atau jalan datangnya rezeki yang diberikan oleh Allah seperti halnya tidak bekerja pun dapat merupakan keadaan atau jalan datangnya rezeki. Dan oleh karena itu pula, seseorang yang mendapatkan rezeki melalui jalan bekerja tidak dapat mengatakan, “Rezeki ini berasal dari kerja saya.” Sebenarnya rezeki tersebut berasal dari Allah Swt. yang Dia berikan melalui jalan bekerjanya orang tersebut.

Berdasarkan hal di atas, jelaslah bahwa rezeki ada di tangan Allah dan Dialah yang membawa rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki oleh-Nya. Seseorang mendapatkan rezeki sedikit ataupun banyak, semuanya sesuai dengan kehendak Allah.

Adapun jalan datangnya rezeki yang diberikan oleh Allah itu dapat melalui kerja seseorang (sebut saja jalan aktif), tetapi dapat juga tanpa kerja seseorang (sebut saja jalan pasif). Demikian pula, kadang kala rezeki tidak datang melalui jalan kerja, atau tidak datang pula pada jalan tidak kerja. Jadi, kerja dan tidak, keduanya merupakan jalan atau keadaan saat Allah memberikan rezeki-Nya. [MNews/Rgl].

Sumber: M. R. Kurnia, Menjadi Pembela Islam.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *