Penulis: M. R. Kurnia, dkk.
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Di Amerika, ulasan tentang krisis narkoba hampir secara eksklusif ditujukan kepada orang Amerika keturunan Afrika karena warga kulit hitam itu secara stereotipe dianggap dekat dengan narkoba. Padahal faktanya, justru orang kulit putihlah pemakai narkoba terbesar di sana.
Dalam banyak liputan tentang desa-desa di tanah air, wartawan kerap mengulas tentang kiprah warga laki-laki dalam meningkatkan perekonomian lokal mereka, padahal boleh jadi justru para perempuanlah yang menyumbangkan pendapatan terbesar di desa itu dengan industri yang tersembunyi di balik pintu rumah mereka.
Banyak liputan tentang pengusaha keturunan Cina yang terlibat kasus bisnis tidak sehat dimulai dengan ungkapan, “Seorang pengusaha keturunan Cina tertangkap tangan sedang…. ” Namun, wartawan jarang sekali menulis keberhasilan olahragawan keturunan Cina dengan berita yang berbunyi, “Seorang pebulutangkis keturunan Cina telah berhasil mempersembahkan piala Thomas untuk Indonesia.”
Prasangka-Prasangka Tersembunyi
Kerap kali terdapat prasangka-prasangka dalam sebuah berita yang dinyatakan secara implisit. Misalnya, berita tentang perkosaan yang memfokuskan fakta tentang sering bolosnya perempuan sebagai korban ketika masih SMP. Ini secara tidak langsung akan mengarahkan pembaca berprasangka terhadap sejarah seksual di perempuan, meskipun hal itu tidak relevan. Wartawan memang jarang mengatakan secara langsung bahwa seorang perempuan layak diperkosa karena baju yang dipakainya. Namun, dari berita yang ditulisnya, ia bisa membangun prasangka tersembunyi semacam itu.
Kekuatan Headline/Judul
Biasanya headline atau judul berita tidak ditulis oleh reporter. Oleh karenanya, sangat mungkin terjadi, seorang redaktur memberi judul yang bombastis, tetapi sebenarnya tidak ada dalam tubuh berita. Jika masyarakat memiliki kebiasaan sekadar membaca sepintas judul-judul berita, sangat mungkin terjadi pemahaman yang menyesatkan. Berikut adalah contohnya:
– Pada berita Republika yang berjudul “Presiden Kembali Minta Maaf” menjadi contoh bias konteks, juga tidak akurat karena dalam beritanya sama sekali tidak ada penjelasan tentang kata “Kembali” yang dipasang di judul.
– Berita di Kedaulatan Rakyat, 7 Juni 2000, sekilas memberitakan bahwa: Alwi Shihab disumpah pocong karena 2,7 triliun dana Bulog lenyap. Padahal bila kita baca isi beritanya, ternyata Alwi Shihab berkaitan dengan kasus raibnya dana Bulog sebesar Rp35 miliar. Sedangkan di tempat yang berbeda, Tjahjo Kumolo, S.H. Ketua PDIP berjanji akan membeberkan skandal lain di Bulog yang jauh lesar, yaitu Rp2,7 T.
Isu-Isu dan Fakta-Fakta yang Ditonjolkan
Sebuah isu akan dipandang pembaca sebagai sesuatu yang besar atau penting bila ditempatkan ditempatkan di halaman depan, dan akan dipandang sebagai isu kecil atau kurang penting bilamana dimuat sebagai berita di halaman dalam atau belakang. Jika ia tidak dimuat, pembaca bahkan mungkin saja beranggapan bahwa isu tersebut tidak pernah ada. [MNews/Rgl]
Sumber: M. R. Kurnia dkk., Menjadi Pemikir dan Politisi Islami
