[Fikrul Islam] Bias Media dari (Pilihan) Bahasa dan Cara Menyampaikan Fakta

[Fikrul Islam] Bias Media dari (Pilihan) Bahasa dan Cara Menyampaikan Fakta

Penulis: M. R. Kurnia, dkk.

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Bahasa bukanlah sesuatu yang bebas nilai. Bahasa tidak netral, dan—uniknya—tidak pula sepenuhnya berada dalam kontrol kesadaran. Oleh karena itu, bias yang berasal dari bahasa merupakan bias yang sungguh berbahaya, laksana musuh yang menikam dari belakang.

Seorang wartawan atau editornya, berkuasa atas pilihan kata yang hendak dipakainya. Ia bisa (atau harus) memilih salah satu kata di antara deretan kata-kata yang hampir mirip, tetapi berbeda “rasanya”, seperti:

– kelompok—komplotan—gerombolan

– memandang—menatap—melirik—melotot—melihat—mengawasi

– rumah—wisma—gubuk—gedung

– istri—bini—belahan jiwa

– berkilah—berbohong—menipu

Seorang wartawan juga harus memilih fakta-fakta mana yang harus didahulukan, dan fakta-fakta mana yang harus diceritakannya kemudian. Perbedaan urutan ini jelas akan menimbulkan bias yang tidak bisa dianggap kecil.

Sebagai ilustrasi, sebuah permainan “psikologi” berikut dapat menjelaskannya:

Sekelompok orang disuruh memilih di antara dua sosok imajiner, manakah yang menurutnya lebih baik dari yang lain, bila masing-masing memiliki sifat yang didaftar di bawah ini:

a. Sosok A memiliki sifat: lumayan cerdas, terampil, jarang mandi, agak cerewet, cengeng

b. Sosok B memiliki sifat: cengeng, agak cerewet, jarang mandi, terampil lumayan cerdas

Meski A dan B adalah dua sosok yang sama, ternyata A lebih dipilih ketimbang B sebagai teman.

Standar Ganda

Media kerap menetapkan satu standar pada satu golongan, sedangkan untuk golongan yang lainnya diterapkan standar yang lain. Seorang anak dari kampung miskin yang tertangkap ketika mengirim di supermarket dituduh sebagai ‘bajingan cilik’. Sementara itu, seorang anak perlente dari perumahan elite yang juga tertangkap tangan mengutip, dimaafkan dengan ungkapan, “Namanya juga anak-anak.”

Ungkapan standar ganda dilakukan dengan cara mengajukan contoh-contoh paralel atau menyebutkan cerita-cerita yang sama, tetapi diulas berbeda. [MNews/Rgl]

Sumber: M. R. Kurnia dkk., Menjadi Pemikir dan Politisi Islam

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *