Hukum Warung Makan dengan Ketentuan “Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya”

Hukum Warung Makan dengan Ketentuan “Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya”

Oleh: K.H. M. Shiddiq al-Jawi

Muslimah News, FIKIH — Tanya:

Ustaz, bolehkah warung makan membuat ketentuan pembelinya bisa “makan sepuasnya, bayar seikhlasnya”? (Amir Thohar al-Hajjam, Solo)

Jawab:

Boleh hukumnya warung makan menetapkan ketentuan “makan sepuasnya dan bayar seikhlasnya” dengan 2 (dua) syarat:

Pertama, akad tersebut dilakukan secara saling rela (‘an tarâdhin) (lihat QS An-Nisâ` : 29).

Kedua, penjual dan pembeli memenuhi ketentuan ahliyyah at tabarru’ (kecakapan hukum berakad tabarru’/sosial).

Mengenai bolehnya “makan sepuasnya dan bayar seikhlasnya”, didasarkan pada 2 (dua) alasan sebagai berikut:

Pertama, bolehnya bersedekah. Jadi ketika penjual menetapkan pembeli boleh makan sepuasnya dengan membayar seikhlasnya, sebenarnya penjual itu telah menyedekahkan sebagian makanan miliknya kepada pembeli. Padahal sudah diketahui sedekah hukumnya boleh, bahkan disunahkan (mustahab) dalam syariat Islam. (Mushthofa Al Khin dkk, Al Fiqh Al Manhajî, Damaskus: Darul Qalam, 1992, Juz VI, hlm.117).

Banyak dalil yang mensyariatkan sedekah termasuk bersedekah dalam bentuk makanan, di antaranya sabda Rasulullah saw.,

يا نساء المسلمات، لا تَحقرنَّ جارة لجارتها، ولو فِرسِن شاة

“Wahai para wanita muslimah, janganlah seorang muslimah meremehkan kebaikan muslimah tetangganya, walaupun tetangganya itu hanya memberikan tulang kambing dengan sedikit daging (firsina syâth).” (HR Bukhari No. 2427; Muslim No. 1030).

Kedua, bolehnya melepaskan hak (at tanâzul ‘an al haq) bagi pihak yang sebenarnya mempunyai suatu hak.

Yang dimaksud pelepasan hak (at tanâzul ‘an al haq) adalah tindakan seseorang meninggalkan hak yang telah ditetapkan syariat baginya, yang hak itu dapat ia tinggalkan atau ia ambil. (tarku al mar`i haqqan tsâbitan lahu syar’an, qâbilan li at tarki aw tamlîkihi lahu). (Hâzim Ismâ’îl Jâdullah, At Tanâzul ‘an Al Haq wa Al Rujû’ ‘anhu wa Atsaruhu fi Al Furû’ Al Fiqhiyyah, hlm. 27).

Syariat Islam secara umum membolehkan pelepasan hak (at tanâzul ‘an al haq). Misal, syarak membolehkan wanita melepaskan hak maharnya atau nafkahnya atas suaminya, sehingga ia rela mendapatkan mahar atau nafkah yang sedikit. (Muhammad Ya’qûb Muhammad Ad Dahlawî, Huqūq Al Mar`ah Al Zaujiyyah wa At Tanâzul ‘anha, hlm. 77).

Contoh lain, syarak juga membolehkan seorang pemberi utang (kreditur) membebaskan utang debiturnya, baik sebagian maupun seluruh utang. (lihat QS Al-Baqarah: 280).

Syarak juga membolehkan apa yang disebut takhâruj dalam masalah waris, yaitu tindakan seorang ahli waris untuk tidak mengambil hak warisnya.

Syarak juga membolehkan keluarga korban dalam kasus pembunuhan tak sengaja (al qatl al khatha`), untuk tidak mengambil diat (tebusan) yang seharusnya dibayar pembunuh kepada keluarga korban. (lihat QS An-Nisâ` : 92). Demikianlah, banyak dalil yang membolehkan pelepasan hak (at tanâzul ‘an al haq) dalam Islam.

Oleh karena itu, dalam kasus yang ditanyakan di atas, penjual yang sebenarnya mempunyai hak untuk meminta harga dari makanan yang dijualnya, boleh melepaskan haknya tersebut dengan menyerahkan kepada pembeli untuk membayar dengan harga berapa pun, walaupun harganya mungkin sangat rendah.

Sebagian ulama ada yang mengharamkan warung makan dengan ketentuan “makan sepuasnya dan bayar seikhlasnya”. Alasannya, terjadi gharar (ketidakpastian) dalam jual beli yang telah dilarang oleh syariat.

Pendapat ini tidak dapat diterima, karena meski terjadi gharar, tetapi gharar dalam akad tabarru’ât, yaitu akad yang tak dimaksudkan untuk mencari keuntungan, tidaklah membatalkan akad yang ada. Kaidah fikih menyebutkan,

يغتفر الغرر في التبرعات ما لا يغتفر في المعاوضات

Yughtafaru al gharar fî at tabarru’ât mâ lâ yughtafaru fî al mu’âwadhât (dapat ditoleransi terjadinya gharar dalam tabarru’ât, namun tidak dapat ditoleransi terjadinya gharar dalam mu’âwadhât [akad komersial untuk mencari keuntungan]). (Imam Al-Qarâfi, Al Furûq, Juz I, hlm. 151; Shiddiq al-Dharir, Al Gharar wa Atsaruhu fî Al ‘Uqûd, hlm. 525; Husâmudîn ‘Ifânah, Yas`alûnaka, 17/218). Wallahualam. [MNews/Rgl]

Foto sampul: Serayu News

Share

One thought on “Hukum Warung Makan dengan Ketentuan “Makan Sepuasnya Bayar Seikhlasnya””

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *