Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA –
رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim: 37)
Ayat ini mengingatkan kita kepada peristiwa luar biasa yang Allah anugerahkan kepada keluarga Nabi Ibrahim as.. Ya, Ibrahim meninggalkan putra dan istri yang dicintainya demi menyambut seruan Allah (QS Ibrahim: 37-40). Sebuah episode pengorbanan yang dalam dan sangat mengagumkan.
Lebih dari 80 tahun Ibrahim menantikan kehadiran keturunan, tetapi ketika hadir di pangkuannya, ia harus meninggalkannya, ia justru membawa anaknya ke lembah itu. Seakan-akan ia hanya datang menitipkan mereka kepada alam. Namun demikian, mereka tunduk pada perintah Allah dan meyakini kebenaran janji-Nya. Betapa agung kedudukan mereka di sisi Allah Swt..
Disebutkan dalam riwayat, ketika Ibrahim as. akan meninggalkan keduanya, Bunda Hajar dalam kondisi menyusui. Ketika Ibrahim meninggalkan keduanya dan memalingkan wajah, Hajar bangkit dan memegang baju Ibrahim. “Wahai Ibrahim, mau ke mana? Engkau akan meninggalkan kami di sini padahal tidak ada bekal apa pun yang mencukupi kami?” Ibrahim tidak menjawab. Hajar bertanya, “Apakah Allah yang menyuruhmu ?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Hajar berkata, “Kalau begitu pergilah, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita.”
Sungguh, suatu sikap yang tidak mampu diri ini menandinginya. Sebuah bentuk tawakal yang luar biasa. Hanya bersandar pada Allah dan yakin Allah tidak akan menelantarkan hamba-hamba yang taat kepada-Nya. Ditinggalkan di sebuah gurun pasir yang gersang, dengan perbekalan yang seadanya, tanpa siapa pun yang menjaga, hanya berdua dengan anak yang masih balita, masih menyusu pada ibunya. Namun, Hajar memiliki keyakinan seratus persen bahwa Allah akan menjaganya, tiada keraguan sedikit pun kepada Allah.
Hajar seperti tidak berdaya, di sekelilingnya hanya terhampar padang pasir yang tandus. Akan tetapi, tanpa putus asa dia pun berjalan mencari tempat yang lebih tinggi untuk melihat-lihat, adakah mata air untuk melepas dahaga sang anak dan dirinya. Bunda Hajar pergi ke bukit Shafa, lalu turun dari Shafa kemudian menuju bukit berikutnya, Marwa, hingga tujuh kali. Diawali di bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwa.
Putus sudah harapan Hajar kepada makhluk, hanya berharap kepada Allah seraya memanjatkan doa. Tiba-tiba ia mendengar suara, “Engkau telah panjatkan doa memohon pertolongan.” Seketika air yang penuh berkah memancar. Hajar mengumpulkan air dan memagarinya dengan pasir hingga air menggenang setinggi betis. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya ketika Jibril menggerakkan (agar air menggenang), semoga Allah merahmati Hajar, kalau saja tidak menghimpunnya, hanya akan menjadi mata air biasa.”
Peristiwa ini senantiasa lekat dalam ingatan kita tentang keteladanan bunda Hajar, ibunda Nabi Ismail yang luar biasa tangguh, penuh dengan keimanan dan ketaatan kepada Allah, yang mengantarkan kepada ketaatannya kepada suami tercinta serta pengorbanan yang luar biasa.
Istri yang Taat dan Ikhlas
Bunda Hajar, istri nabi Ibrahim, harus ikhlas ditinggalkan suaminya, hanya berdua di tengah padang pasir bersama dengan anak yang masih bayi. Akan tetapi, karena ia paham bahwa ini adalah perintah Allah, ia yakin Allah pasti akan menjaga dan melindungi. Sesungguhnya, hanya perempuan pilihan sajalah yang bisa melewati apa yang dihadapi oleh Bunda Hajar. Beliau pun berhasil lulus dari berbagai rintangan dan cobaan yang dihadapinya.
Sebagai istri, Bunda Hajar adalah sosok istri yang patuh pada suami dan taat kepada Allah. Meskipun terasa berat menerima keputusan Ibrahim untuk taat pada perintah Allah agar menyembelih putra semata wayangnya, tetapi demi kepatuhannya kepada sang suami dan ketaatannya pada Allah, Bunda Hajar ikhlas tanpa bantahan sekecil apa pun. Inilah teladan seorang ibu dan istri salihah.
Sungguh, pengorbanan tidak tertandingi keluarga mulia ini bisa diteladani oleh seluruh umat Islam sepanjang masa. Pun oleh makhluk lemah bernama perempuan. Setiap muslimah bisa berkaca pada Bunda Hajar. Becermin pada ketaatannya, cintanya, dan pengorbanannya yang luar biasa.
Ibu yang Penuh Kasih Sayang dan Penuh Tanggung Jawab
Selain sebagai istri yang salihah, Bunda Hajar memainkan perannya sebagai ibu yang penuh tanggung jawab dalam mendidik anaknya, ibu yang tangguh, pantang menyerah, dan tidak kenal putus asa. Ketika bayi Ismail meronta kehausan, Hajar berlari-lari mencari air. Dari Shafa ke Marwa, berulang-ulang untuk mencari air demi memenuhi kebutuhan anaknya. Peristiwa itu kemudian diabadikan dalam ibadah sa’i ketika haji dan umrah. Rasulullah saw. bersabda, “…karenanya orang-orang melakukan sa’i antara Shafa dan Marwa”.
Bunda Hajar juga menyerang Iblis dengan lontaran batu ketika Iblis mencoba untuk merusak jiwa anaknya agar menolak keputusan Ibrahim menyembelih Ismail atas perintah Allah. Lontaran batu itu juga menjadi ibadah lontar jumrah dalam ibadah haji. Hal ini menunjukkan bahwa bunda Hajar melindungi fisik dan jiwa anaknya.
Sebagai perempuan, Bunda Hajar adalah pribadi yang amat tangguh, yang cintanya pada Allah teramat dalam. Sebagai ibu, Siti Hajar adalah perempuan yang begitu menakjubkan. Kasih sayangnya yang sungguh besar pada sang buah hati, tak sedikit pun menghalanginya untuk tetap menempatkan Sang Khalik sebagai yang pertama di hatinya.
Saat ditinggal berdua saja dengan permata hati yang masih bayi, di sebuah gurun tandus tak berpenghuni, Bunda Hajar rida dan ikhlas menjalani. Begitu tahu ayah putranya meninggalkan mereka adalah karena perintah Allah, maka ia mendengar dan taat. Menaati Allah sekaligus suami yang amat dicinta.
Ketika Ismail, anak yang teramat menyenangkan hati, diambil untuk “dikorbankan” atas perintah Allah, Bunda Hajar pun rida, sabar, dan penuh ketaatan. Hati beliau begitu putih bersih, tidak ada prasangka apa pun pada Allah, yang ada hanyalah sebuah keyakinan bahwa Allah adalah Maha Pemberi Yang Terbaik. Hanya yang terbaik yang akan Allah berikan pada para hamba-Nya baik berupa ujian kesenangan maupun kesusahan.
Ibunda Hajar memang ibu yang luar biasa. Beliau menanamkan kecintaan kepada Allah di hati Ismail, menanamkan hati yang senantiasa bertawakal, bersandar hanya kepada Allah, sebagaimana pengalaman ibundanya yang luar biasa dalam hal tawakal. Saat itu usia Ismail menginjak remaja, sekitar tiga belas tahun. Saat itulah Nabi Ibrahim, sang ayah, bermimpi menyembelih Ismail. Setelah yakin bahwa mimpi tersebut adalah perintah Allah Swt., Ibrahim menghampiri anaknya dengan membawa tali dan pisau, kemudian mengajaknya pergi ke sebuah bukit.
Nabi Ibrahim pun menyampaikan mimpinya kepada Ismail. Kemudian beliau bertanya, “Bagaimana menurutmu, wahai Ismail?” Ismail menjawab, “Ayahanda, kalau engkau hendak menyembelihku, ikatlah aku dengan kencang agar darahku tidak mengenaimu, sehingga pahalaku berkurang. Ini karena kematian itu amat berat sekali, aku tidak bisa memastikan apakah diriku akan meronta-ronta atau tidak. Maka aku mohon tajamkanlah pisaumu wahai ayah agar kematianku singkat. Saat ayah membaringkan aku, hadapkan aku ke tanah karena aku khawatir ketika engkau memandang wajahku, engkau akan merasa iba sehingga menghalangimu untuk melaksanakan perintah Allah. Kemudian berikanlah pakaianku kepada ibunda jika ayah berkenan, mudah-mudahan itu bisa menghiburnya.”
Sungguh, jawaban Ismail tersebut, menunjukan bagaimana rasa tawakal dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah. Sifat yang demikian tidak lain tidak bukan merupakan hasil dari asuhan ibundanya dan didikan ayah bundanya.
Beliau menanamkan rasa cinta kepada Allah semenjak dini. Mengajarkan akhlak yang mulia untuk berbakti kepada orang tua, juga sifat tawakal, bersandar, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah semata. Dan meminta pertolongan hanya kepada Allah, sebagaimana yang Nabi Ibrahim ucapkan saat mendengar jawaban dari Ismail. Ibrahim berkata, “Memohonlah pertolongan Allah, wahai anakku. Sesungguhnya engkau sedang menjalankan perintah Allah.”
Khatimah
Demikianlah teladan yang bisa kita pelajari dari kisah Bunda Hajar. Sungguh luar biasa sifat tawakal yang ada dalam diri Bunda Hajar. Walaupun terbesit rasa khawatir di dalam dadanya, ia senantiasa menyerahkan segala urusan itu kembali kepada Allah. Seorang muslimah yang taat dan senantiasa bertawakal kepada Allah, serta tangguh.
Bunda Hajar adalah seorang istri yang taat kepada suami karena Allah, dan seorang ibu yang gigih yang mampu mendidik anaknya agar mencintai Allah. Semua dilakukan hanya demi rida Allah semata. Semoga kita semua hari ini bisa menjadi seperti Bunda Hajar yang taat kepada Allah, taat kepada suami, dan mampu mencetak generasi penerus yang juga taat kepada Allah Swt..
Belajar dari rangkaian ujian kehidupan Bunda Hajar, semoga akan membuat kita menjadi semakin salihah, kuat, dan tangguh. Bukankah ujian hidup yang kita hadapi tak seberapa dibandingkan dengan cobaan yang Allah berikan pada Bunda Hajar?
Duhai diri, belajarlah dengan sesungguhnya belajar, bukan hanya belajar untuk mengetahui kisahnya semata. Belajar bukan hanya tentang konsep dan teori semata. Namun, belajar yang sempurna, disertai perubahan sikap dan perilaku. Belajar untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]
Foto sampul: Mujahid Dakwah
