[Nafsiyah] Perjalanan Manusia Menuju Allah Taala

[Nafsiyah] Perjalanan Manusia Menuju Allah Taala

Muslimah News, NAFSIYAH — Umur itu adalah lembaran perjalanan kehidupan manusia menuju Allah Taala. dan setiap perjalanan tentu akan ada ujungnya. Lantas, bekal apa yang sudah kita persiapkan? Pada konsisi apa kita akan berada pada ujung perjalanan hidup kita?

Hidup bukanlah sekadar bertambahnya umur. Hidup ialah mempersiapkan diri pada setiap peristiwa untuk menuju Allah Taala. Sebaik-baik manusia yang cerdas ialah yang memikirkan bagaimana ia menutup mata saat kematiannya.

Ada kisah hikmah dari Imam Fudhail bin ‘Iyaadh, salah satu guru Imam Syafi’i. Fudhail bertemu seorang laki-laki dan menasihatinya, ia berkata, “Berapa tahun usiamu (sekarang)? Lelaki itu menjawab, ‘Enam puluh tahun.’ Fudhail berkata, ‘(Berarti) sejak enam puluh tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai.’ Lelaki itu menjawab, ‘Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.’

Fudhail pun berkata, ‘Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata, Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Barang siapa yang menyadari bahwa ia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, hendaknya ia mengetahui bahwa ia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari Kiamat nanti), dan brang siapa yang mengetahui bahwa ia akan berdiri (di hadapan-Nya) hendaknya ia mengetahui bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia). Dan barang siapa yang mengetahui ia akan dimintai pertanggungjawaban hendaknya ia mempersiapkan jawabannya.’

Lelaki itu kembali bertanya, ‘Bagaimana caraya (untuk menyelamatkan diri dari kondisi tersebut)?’ Fudhail menjawab, ‘Caranya mudah, engkau memperbaiki (diri) pada sisa umurmu (yang masih ada), Allah akan mengampuni perbuatan dosamu di masa lalu. Namun, jika kamu tetap berbuat buruk pada sisa umurmu, kamu akan disiksa pada hari Kiamat karena perbuatan dosamu di masa lalu dan pada sisa umurmu.’”(Jaami’ul Uluumi Wal Hikam, hal. 464).

Firman Allah Taala, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18).

Sudah semestinya setiap muslim menyiapkan bekal menghadapi hari Kiamat karena kedatangannya sangat cepat, seiring dengan cepat berlalunya umur manusia. Seorang muslim wajib menyikapi kematian dengan ilmu dan membicarakan kematian justru menghidupkan hati.

Ketahuilah saudariku, kematian sifatnya mendadak, terkadang didahului dengan sakit, tetapi terkadang datang tanpa didahului dengan sakit. Ada orang sehat yang matinya mendadak tanpa sebab, ada juga yang sakit menahun, tapi hidupnya lebih panjang dari pada orang yang sehat.

Imam Qurthubi menyampaikan, “Bisa jadi ada orang yang sakit menahun lalu meninggal. Saat ia sakit, ia bertobat pada Allah dan rida atas ujian sakit yang menimpa dirinya. Ia pun memiliki waktu untuk berwasiat kepada keluarganya. Masyaallah.”

Oleh karena itu, tidak layak bagi kita untuk memvonis kematian seseorang yang mendadak lebih baik dari pada orang yang matinya karena sakit menahun, karena kita tidak memahami ilmunya. Tetap berprasangka baiklah terhadap kematian orang lain.

Imam Qurthubi menjelaskan bahwa ada tiga kelompok yang tidak takut pada kematian. Pertama, orang yang tidak mengimani azab kubur, neraka, dan hari akhir. Ia menganggap kematian adalah sesuatu yang lumrah karena merupakan seleksi alam. Biasanya orang ini merupakan orang yang kufur pada Allah Swt..

Kedua, orang yang memiliki masalah tetapi tidak memiliki iman untuk memikul berbagai masalahnya. Ia memilih solusi kematian (bunuh diri) sebagai jalan pintas atas persoalan hidupnya. Oleh karena itu, hendaknya kita terus mendekat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ketiga, orang beriman yang tidak takut dengan kematian. Orang yang beriman memiliki dua selimut, yakni,

  1. Khauf (takut). Ia takut melihat orang meninggal dunia karena mengingat dirinya pernah melakukan kemaksiatan. Kondisi tersebut semakin meningkatkan keimanannya kepada Allah Swt dan berharap mendapat ampunan-Nya.
  2. Radja (berharap/optimis). Ia berharap dapat kembali dengan Allah, Dzat yang dirindukannya untuk bertemu. Tidak cemas ketika kematian tiba karena ia memikirkan bahwa kasih sayang Allah lebih besar dari pada kasih sayang manusia kepadanya.

Saudariku, orang yang beriman tidak menantang kematian, tetapi juga tidak membenci kematian. Karena kematian adalah langkah yang harus ditempuh manusia untuk bertemu dengan Allah Swt..

Dari Abu Musa, dari Rasulullah saw., beliau bersabda, “Barang siapa yang mencintai berjumpa dengan Allah, Allah mencintai berjumpa kepadanya. Sebaliknya siapa yang membenci berjumpa dengan Allah, Allah pun membenci berjumpa dengannya.” (HR Bukhari)

Pertanyaanya, bolehkah kita meminta kematian? Sesungguhnya meminta kematian dihukumi haram jika tidak dalam kondisi tertentu. Imam Qurthubi mengatakan ada tiga alasan boleh (mubah) meminta kematian.

Pertama, ketika sedang merasakan dekatnya kita kepada Allah Swt.. Ia mengkhawatirkan dirinya di masa depan, tidak lebih taat kepada Allah. Seperti doa Ibunda Maryam yang pernah mengatakan, “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” Namun, Allah menguatkan Ibunda Maryam dengan mengirimkan Malaikat Jibril padanya saat detik-detik beliau merasakan sakit yang begitu dahsyat menjelang kelahiran Nabi Isa as..

Kedua, ketika adanya fitnah dan dikhawatirkan fitnah tersebut akan merusak kehidupan agama dan akhirat. Seperti doa yang pernah diucapkan oleh Umar bin Khaththab, “Ya Allah, usiaku sudah semakin uzur, tubuhku semakin tua, rakyatku sudah semakin banyak. Kembalikan aku kepada-Mu dalam kondisi tidak menyia-nyiakan mereka dan dalam kondisi tidak termakan fitnah. Tetapkanlah bagiku kematian sebagai syahid di jalan-Mu dan wafat di tanah Rasul-Mu.”

Ketiga, boleh meminta kematian jika telah menjumpai enam tanda, Pemimpin yang bodoh terhadap agama dan syariat-Nya; Banyaknya tanda-tanda hari kiamat yang sudah bermunculan; Jual beli hukum; Tali silaturahmi mudah terputus; Mudahnya orang membunuh; Menjumpai sekelompok manusia yang menyanyikan ayat-ayat Al-Qur’an dengan alat musik tetapi tidak memahami sama sekali apa yang ia nyanyikan (Al-Qur’an) itu sendiri.

Saudariku pahamilah juga sabda Rasul saw., “Janganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan untuk mati karena musibah yang menimpanya. Kalau memang harus berangan-angan, hendaknya ia mengatakan, “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku. Dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kita patut memohon pada Allah Swt. dengan doa yang pernah diucapkan oleh Rasul saw., “Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua urusanku, dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat hidupku, serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku (selamanya), jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematianku sebagai penghalang bagiku dari semua keburukan.” (HR Muslim)

Marilah bersama-sama kita aminkan doa di atas, lalu kuatkan tekad untuk terus memperbaiki amal agar layak diganjar pahala dan surga oleh Allah Swt.. Semoga kita senantiasa berada dalam ketaatan, menjalankan aturan dan menjauhi larangan-Nya. Namun, semua itu hanya dapat kita lakukan secara sempurna jika kita berada dalam naungan Islam. Dengan demikian, wajib bagi kita bersungguh-sungguh memperjuangkan kembali kehidupan Islam di muka bumi sebelum kembali kepada-Nya. Wallahualam. [MNews/Rndy]

Sumber: unsplash

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *