Jiwa Besar di Balik Kesederhanaan (Kisah Sa’id bin Amir)

Jiwa Besar di Balik Kesederhanaan (Kisah Sa’id bin Amir)

Penulis: Misbah Asy-Syafi’i

Muslimah News, KISAH INSPIRATIF – Hari itu ketika warga Homs telah berkumpul, Amirulmukminin Umar bin Khaththab yang berkesempatan hadir di tengah mereka, menanyakan kepada warga Homs, apa yang tidak disukai dari Gubernur Sa’id bin Amir.

Warga Homs pun menjawab, mereka menyukai kepemimpinan Sa’id bin Amir. Namun, ada tiga hal dari sikap Sa’id bin Amir yang kurang mereka sukai,

Pertama, ia menemui rakyatnya selepas Duha. Kedua, ia tidak mau ditemui di malam hari. Ketiga, dalam satu bulan, ada satu hari yang ia tidak mau ditemui siapa pun.

“Mengapa kau lakukan hal yang seperti itu, wahai Said?” tanya Amirulmukminin Umar bin Khaththab. “Sebenarnya saya malu mengatakannya, tetapi untuk menghilangkan syak wasangka, juga untuk kebaikan, maka akan saya jawab satu per satu,” jawab Sa’id bin Amir.

“Saya menemui warga selepas waktu Duha, karena keluarga saya tidak memiliki pembantu maka saya membantu mereka memasak, menghidangkan makan pagi, saya makan bersama mereka. Selepas itu barulah saya berwudu dan keluar untuk melihat dan mengurus wargaku.”

“Adapun saya tidak menemui warga di malam hari karena siang hari seluruh waktu saya gunakan mengurusi rakyat sehingga malam hari saya gunakan untuk beribadah kepada Allah Swt., sedangkan setiap satu bulan ada satu hari saya tidak mau menemui siapa pun karena saya hanya memiliki satu pakaian terbaik yang melekat di badan ini. Pada satu hari itu saya mencucinya dan menunggunya kering untuk saya pakai lagi.”

Sontak jawaban Sa’id bin Amir membuat terharu bagi yang mendengarkan dan ada di majelis itu. Mereka tidak kuasa menahan tangis, termasuk Amirulmukminin Umar bin Khaththab. Sebelum pertemuan itu ditutup, Umar bin Khaththab berucap, “Alhamdulillah, segala prasangka jelek tidak terjadi padamu. Semoga engkau menjadi salah satu penghuni surga.”

Sungguh, dalam kekhalifahan Islam, banyak terlahir pemimpin-pemimpin yang berkepribadian Islam. Cara berpikir dan bersikapnya sesuai dengan aturan Islam, kapasitas dan kapabilitasnya juga mumpuni.

Mereka bertanggung jawab dan berintegritas tinggi untuk mengurusi dan melayani umat sesuai dengan ketentuan hukum-hukum Islam sehingga Islam rahmat bagi seluruh alam benar-benar dirasakan segenap makhluk di muka bumi. Semoga segera tegak kembali Khilafah Rasyidah kedua yang menerapkan Islam kafah agar keberkahan hidup dunia dan akhirat bisa dirasakan. Wallahualam. [MNews/Has]

Foto sampul: Surau

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *