Penulis: Muhammad Rahmat Kurnia
Muslimah News, NAFSIYAH — Baru-baru ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan video konvoi pemotor dengan bendera tauhid sambil membawa poster bertuliskan “Kebangkitan Khilafah” di daerah Cawang, Jakarta Timur pada Ahad (29/5/2022). Video yang viral ini mendapat beberapa kecaman dari warga twitter yang memandang bahwa aksi ini akan menjadi bibit perusak bangsa. Aparat kepolisian pun mengaku tengah mencari identitas para pemotor yang terlibat dalam konvoi tersebut.
Sesungguhnya bendera tauhid yang bertuliskan lafaz Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh bukanlah bendera teroris yang dapat merusak bangsa, tetapi adalah bendera Rasulullah saw. dan umat Islam.
Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari video viral ini. Pertama: Masih kuatnya islamofobia alias benci terhadap Islam. “Sebenarnya, yang dibenci oleh mereka itu adalah ajaran Islam,” ujar Pak Mufti.
Tampaknya kesimpulan itu tidak berlebihan. Narasi awal terkait Islam radikal, intoleran, antikebinekaan, perda-perda syariah, dan seruan penerapan syariat Islam, dianggap sebagai sesuatu yang membahayakan. Khilafah dipandang mengancam. Padahal, “Khilafah adalah ajaran Islam, lebih khusus lagi adalah ajaran Ahlussunahwaljamaah,” begitu menurut K.H. Umar ash-Shiddiq saat Ijtimak Ulama Bogor pada 2018.
Belum lagi cendekiawan asal Irak Prof. Ali Allawi dalam bukunya, The Crisis of Islamic Civilization, menuliskan bahwa keberadaan kekhalifahan telah menjadi bagian integral dalam peradaban Islam.
Tidak hanya itu, islamofobia juga menyasar para ulama, ustaz, dan aktivis Islam. Gerakan Islam yang konsisten menyerukan syariah Islam secara kafah dan menyerukan agar umat Islam menjalin ukhuwah islamiah yang diwujudkan dalam Khilafah, dicabut Badan Hukum Perkumpulan (BHP)-nya. Setelah itu berbagai ormas Islam yang konsisten melakukan amar makruf nahi mungkar terus diopinikan buruk. Terakhir, bendera tauhid sebagai simbol persatuan umat Islam pun dibakar. “Ini merupakan kesatuan. Ajarannya, ulama dan ustaznya, organisasinya dan simbolnya dimonsterisasi. Harapannya, umat Islam takut pada ajaran agamanya sendiri,” tegas Ustaz Ismail.
Begitulah islamofobia. Margarito Kamis mengatakan, “Di rezim ini sangat buruk kehidupan keagamaan. Khususnya nasib umat Islam.”
Kedua: Upaya adu domba antarumat Islam. Prinsip devide et impera atau farriq tasud (pecah belah, lalu kuasai) merupakan prinsip penjajahan yang tidak berubah. “Bila sesama orang Islam atau sesama ormas Islam gontok-gontokan, pasti yang rugi umat Islam. Kaum penjajah akan tepuk tangan kegirangan,” kata Pak Hery.
Oleh karena itu, benar kata Pak Edy Mulyadi, “Yang anti-Islam harus tegas dilawan dengan tetap memelihara ukhuwah antarsesama umat Islam.”
Fenomena monsterisasi dan kriminalisasi ajaran Islam, ulamanya, organisasinya, dan simbolnya menunjukkan adanya kekuatan besar di belakangnya. “Musuh kita di sebelah kiri adalah komunisme/sosialisme dan di sebelah kanan adalah kapitalisme/liberalisme,” simpul Ustaz Ismail.
Ada penjajah asing dan kaki tangannya yang sedang melemahkan umat Islam di Indonesia. Mereka tidak mau Indonesia menjadi negara besar, apalagi superpower.
Ketiga: Momentum lahirnya para kesatria. Tatkala Islam disudutkan, justru lahirlah para kestaria. Pada saat slogan “Islam garis keras” diulang-ulang, justru pada saat itulah fenomena hijrah kawula muda menjadi tren. Ketika bendera tauhid diopinikan sebagai bendera teroris, saat itulah umat Islam dengan bangga mengibarkannya. Para kesatria senantiasa berzikir kepada Allah, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Perdagangan dan jual beli tidak mampu memalingkan mereka dari semua itu. Begitu di antara yang dijelaskan dalam surat An-Nur ayat 37.
Berbeda dengan orang munafik, para mukmin kesatria selalu menepati janji taat yang telah mereka ikrarkan kepada Allah Swt. (QS al-Ahzab ayat 23). Dalam surat Yasin ayat 20 digambarkan bahwa para kesatria adalah mereka yang meyakini Islam, lalu menyampaikan kepada masyarakat agar mengikuti utusan Allah Swt.. Mereka kini telah bermunculan dari rahim umat Islam.
“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian para penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada para pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi para penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Para pengikut yang setia itu berkata, “Kamilah para penolong agama Allah.” Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir. Kemudian Kami memberikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman atas musuh-musuh mereka. Lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS Ash-Shaf [61]: 14)
Para kesatria pun menyambut seruan itu. Wallahualam. [MNews/Nsy]
