[Nafsiyah] Bagaimana Agar Selamat Melewati Sirat?

[Nafsiyah] Bagaimana Agar Selamat Melewati Sirat?

Muslimah News, NAFSIYAH — Saudariku, di antara peristiwa menakjubkan sekaligus menakutkan di akhirat kelak ialah melewati sirat (jembatan) yang terbentang di atas neraka menuju surga. Firman Allah Swt., “Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan.” (QS Maryam: 71)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., Ibnu Mas’ud ra., dan Ka’ab bin Ahbar, bahwa yang dimaksud dengan mendatangi neraka dalam ayat di atas ialah melewati sirat. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/254).

Dalam hadis muttafaqun ‘alaih, “Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahanam. Kami (para Sahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana (bentuk) jembatan itu?’ Jawab beliau, ‘Licin (lagi) menggelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan.’”

Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Dan dibentangkanlah jembatan Jahanam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para rasul pada saat itu, ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.’ Pada sirat itu, terdapat pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan. Pernahkah kalian melihatnya?’ Para Sahabat menjawab, ‘Pernah, wahai Rasulullah. Maka ia seperti duri pohon Sa’dan, tiada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah. Maka Ia mencangkok manusia sesuai dengan amalan mereka.’” (HR Bukhari)

Perkara apa saja yang bisa menyelamatkan manusia ketika berjalan di atas sirat?

Pertama, beriman dan bertauhid secara benar tanpa dicampuri kesyirikan dan kekufuran. Kedua, mengikuti sunah Rasulullah dan memperoleh syafaat dari beliau. Ketiga, meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan. Keempat, bergegas dalam melakukan kebaikan.

Saudariku, manusia itu terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, suka menzalimi dirinya sendiri dengan dosa dan kemaksiatan. Kedua, ia tidak melakukan dosa tetapi hanya mencukupkan diri dengan perkara yang wajib dan sedikit perkara sunah. Ketiga, bergegas dalam kebaikan, meninggalkan keharaman, juga ketidakmakrufan. Jika dipanggil dalam ketaatan ia akan mempercepat memenuhi ketaatan tersebut.

Sabda Rasul saw., “Perlahan-lahan dalam segala sesuatu itu baik, kecuali dalam perbuatan yang berkenaan dengan akhirat.” (HR Abu Dawud, Baihaqi, dan Hakim)

Cepat atau lambatnya langkah manusia ketika berjalan di atas sirat ditentukan oleh amalnya. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasul saw. bersabda, “Lalu diutuslah amanah dan rahim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kiri-kanan sirat tersebut. Orang yang pertama lewat sepeti kilat.” Aku bertanya, ‘Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?’ Rasul saw menjawab, ‘Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung, dan seperti kuda yang berlari kencang. Mereka berjalan sesuai dengan amalan mereka. Nabi kalian waktu itu berdiri di atas sirat sambil berkata, ‘Ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah. Sampai para hamba yang lemah amalannya, sehingga datang seseorang lalu ia tidak bisa melewati kecuali dengan merangkak.’ Beliau menuturkan lagi, ‘Di kedua belah pinggir sirat terdapat pengait yang bergantungan untuk menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang terpeleset tapi selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Dalam tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Mas’ud ra. berkata, “Mereka melewati sirat dengan tingkat amalan mereka. Di antara mereka ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang cahayanya seperti pohon, ada juga yang setinggi orang berdiri, yang paling sedikit cahayanya sebatas menerangi kakinya, sesekali nyala sesekali padam.”

Kelima, orang yang selalu memiliki sifat menjadi perisai bagi saudaranya yang digosipkan keburukannya oleh orang lain. Allah akan menjaga dirinya dari bahaya api neraka sebagaimana ia menjaga aib saudaranya. Karena kehormatan seorang muslim begitu besar nilainya di sisi Allah Swt..

Rasul saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin yang menjaga seorang mukmin atas mukmin lainnya dari orang munafik yang menelajangi keburukannya, menjadi perisai bagi kehormatannya, maka Allah kirimkan pada orang tersebut malaikat penjaga. Malaikat itu terus akan menjaganya sampai ia meninggal dunia hingga ia berada di pengadilan Allah, malaikat akan menjaga dirinya dari kobaran api neraka.”

Rasul juga mengingatkan kita, “Siapa pun orang yang mencela dan menghujat seorang muslim, Allah tahan langkah kakinya di atas sirat sampai selesai urusannya terkait semua keburukan yang ia sampaikan tentang seorang muslim yang ia cela dan hujat.”

Semoga Allah mampukan kita semua untuk menunaikan kelima perkara yang bisa menyelamatkan kita ketika berjalan di atas sirat. Semoga Allah tidak menahan langkah kaki kita, justru langkah kita dipercepat hingga menuju surga sesuai dengan amal saleh yang kita lakukan selama di dunia. Sungguh peristiwa melewati sirat merupakan peristiwa yang harus kita imani dan senantiasa bergegas memenuhi panggilan ketaatan pada-Nya. Wallahualam. [MNews/Rndy]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *