Agar Rumah Bisa Menjadi “Home” bagi Anak, Bukan Sekadar “House”

Agar Rumah Bisa Menjadi “Home” bagi Anak, Bukan Sekadar “House”

Penulis: Ummu Naira Asfa

Muslimah News, KELUARGA — Anak adalah anugerah sekaligus amanah dari Sang Pencipta, Allah Taala. Sebagai amanah, orang tua wajib mendidik anak-anak sebaik mungkin.

Mendidik anak juga membutuhkan seni, tidak sekadar berisi ragam perintah atau larangan. Anak bukanlah robot tanpa perasaan, mereka membutuhkan pendekatan emosional agar pesan kebaikan dari orang tua dapat diterima dengan baik oleh anak.

Sebagai orang tua, selayaknya kita memberikan tempat ternyaman untuk anak-anak agar mendukung tumbuh kembang dan melejitnya potensi anak-anak kita. Ya, anak-anak memerlukan tempat tinggal. Namun, tempat tinggal seperti apa yang baik untuk anak-anak kita?

Sejatinya, anak-anak kita membutuhkan rumah dengan maknanya sebagai “home”, bukan sekadar “house”. “House” bisa bermakna sebagai tempat bangunan fisik dengan segala sarana yang ada. Di dalamnya tinggal sebuah keluarga atau individu. Beda dengan makna “home”.

“Home” bukanlah sekadar bangunan fisik, tetapi di dalamnya juga ada kedekatan emosional dan jiwa, juga ada cinta dan kasih sayang di antara anggota keluarga. Pastinya, konsep sebuah “home” mengandung makna bahwa ada rasa nyaman yang dirasakan oleh anak saat mereka berada di dalamnya.

Perbedaan paling signifikan antara keduanya adalah bahwa “house” dapat dibeli dengan uang, sedangkan “home” tidak.

Lalu, apa saja yang perlu kita lakukan sebagai orang tua agar anak-anak kita nyaman di rumah dengan orang tua dan keluarga serta menemukan arti “home” di dalam rumahnya?

—

Beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya sebagai berikut.

1. Penuhi tangki cinta.

Tidak banyak orang tua yang menyatakan rasa cinta dan kasih sayangnya kepada anak-anak, padahal hal ini sangat dibutuhkan oleh anak. Anak perlu mengetahui secara langsung bahwa orang tuanya sayang kepadanya.

Pengungkapan rasa cinta ini bisa dilakukan secara verbal/lisan, tulisan, gestur tubuh, atau sentuhan fisik, seperti pelukan dan genggaman tangan. Tangki cinta kita kepada anak harus kita isi penuh agar bonding atau kemelekatan emosi dengan anak bisa kita dapatkan. Selain itu agar anak mengerti bahwa nasihat orang tua adalah bentuk rasa cinta orang tua kepada anak, bukan memaksa atau menyakiti.

—

2. Ajarkan adab sebelum ilmu.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Dengan memperhatikan adab, kita akan lebih mudah meraih ilmu. Para ulama terdahulu pun mempelajari adab sebagaimana mereka menguasai ilmu.

Mempelajari adab ini sangat penting karena adab bisa menjadi petunjuk. Dengan belajar adab akan membentuk anak memiliki tutur kata yang baik, serta perilaku yang baik dan sopan santun terhadap orang tua dan juga keluarganya. Bukankah ini juga menjadi harapan besar bagi setiap orang tua? Anak yang tinggi ilmunya, juga memiliki adab yang baik terhadap orang tua sungguh menyejukkan jiwa.

—

3. Beri anak kesempatan untuk menyampaikan perasaan dan pendapat, tidak otoriter.

Keluarga adalah tempat berbagi yang paling baik untuk anak. Idealnya, rumah adalah tempat kembali mereka setelah berinteraksi dengan lingkungannya. Ketika ada masalah, anak memerlukan orang tuanya untuk berbagi.

Sudah selayaknya kita memberi kesempatan mereka mengutarakan perasaan atau pendapat mereka. Dengan terbiasa seperti itu, anak akan lebih bahagia karena merasa didengar. Justru ketika orang tua bersikap keras dan otoriter terhadap anak, akan terdapat jarak antara anak dan orang tua dan imbasnya akan tidak baik. Jangan sampai anak tampak jadi penurut, tetapi jiwanya berontak. Sungguh ini kondisi yang tidak baik.

—

4. Jangan memberi stigma atau cap buruk kepada anak.

Banyak anak baik-baik dan sebenarnya masih bisa diarahkan menjadi patah hatinya karena orang tua memberi stigma kepada anak—sadar atau tidak—saat orang tua marah. Contohnya, “Kamu kok jadi berani sama orang tua?”, “Dasar anak pemalas!”, “Anak kurang ajar!” dan lain-lain.

Dampak perkataan ini sangat buruk bagi diri anak. Apalagi jika anak mengamini “rapor merah” orang tuanya ini dan mengafirmasi diri, “Oh, jadi aku ini anak yang berani kepada orang tua? Baiklah, aku akan jadi anak yang seperti itu, seperti yang ayah/ibu katakan!” Kalau sudah begini, akan sulit mengubah pemikiran anak.

—

5. Biasakan empat kata: tolong, permisi, maaf, dan terima kasih.

Masih terkait adab kepada orang lain, empat kata (tolong, permisi, maaf, dan terima kasih) akan membuat kepribadian dan adab anak makin baik. Orang tua yang terbiasa mengucapkan empat kata ini kepada anak juga akan memudahkan transfer ilmu dan membuat komunikasi keluarga makin baik tanpa harus terlihat menggurui.

—

6. Tanamkan iman dan takwa sejak dini.

Selayaknya sebuah pohon, jangan hanya fokus pada hasil, tetapi yang terpenting adalah kuatnya akarnya. Menanamkan iman dan fondasi agama yang kuat sejak dini pada anak akan menjadi modal berharga bagi kehidupannya kelak. Ia akan menjadi akar kokoh agar batang dan buahnya lebih baik dan berkualitas.

Dengan iman dan takwa yang kuat, anak akan survive. Mereka akan memiliki prinsip yang baik dan tidak mudah ikut arus lingkungan yang sering mengajak pada keburukan atau kebiasaan buruk.

—

7. Tawakal, serahkan semua hasilnya kepada Allah Taala.

Selain mengupayakan semua ikhtiar, kita wajib tawakal selama proses perjuangan mendidik anak kita, menyerahkan semua hasilnya kepada Allah Taala.

—

Semoga beberapa poin ini bisa membuat rumah kita benar-benar menjadi “home” bagi anak dan anggota keluarga, bahkan menjadi “home sweet home”.

Semoga upaya mendidik anak-anak menjadi sesuatu yang menyenangkan dan anak-anak kita menjadi penyejuk mata yang saleh dan salihah. آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. [MNews/Gz]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *