Muslimah News, RAMADAN SEDUNIA — Maroko memiliki beberapa sebutan. Orang Arab menyebutnya Al-Mamlaka al-Maghribiya atau Kerajaan Barat. Para ahli sejarah dan geografi muslim di era Khilafah Islam menjulukinya Al-Maghrib al-Aqsa atau Far West. Sejarawan dari Amerika T. Glick dalam Muslim and Christian Spain menyebutkan bahwa Maroko merupakan gerbang Islam ke dunia Barat.
Ekspedisi Thariq bin Ziyad diawali dengan penaklukan Maroko oleh pasukan pimpinan Musa bin Nusair pada 715 M, yakni pada masa Khilafah Bani Umayyah. Pasukan Islam butuh waktu 53 tahun untuk menaklukkan Maroko. Tidak hanya itu, butuh waktu satu abad bagi umat Islam untuk berasimilasi dengan bangsa Barbar yang mendiami Maroko. Dari Maroko, Thariq bin Ziyad menyeberangi selat antara Maroko dan Eropa menuju ke gunung yang dikenal dengan Jabal Tariq (Gibraltar).
Demikianlah, Maroko menjadi penyangga bagi umat Islam untuk melakukan futuhat/pembebasan ke Spanyol. Salah satu kota utama di Maroko adalah Marrakech. Kota ini merupakan simbol kejayaan Islam di Maroko pada masa Khilafah. Di Marrakech terdapat beberapa masjid serta madrasah peninggalan Khilafah, antara lain Masjid Koutoubia, Madrasah Ben Youssef, Masjid Casbah, Masjid Mansouria, Masjid Bab Doukkala, Masjid Mouassine, dan masih banyak lagi.
Di Marrakech juga banyak ditemukan bangunan istana peninggalan Khilafah Islam seperti Istana El Badi, Royal Palace, Istana Bahia, dan lain-lain. Di Marrakech juga banyak sentra kerajinan tangan dan museum seperti Museum Dar Si Sa’ad, Museum Marrakech, Museum Bert Flint, Museum Islamic Art, dan lainnya. Pada masa kepemimpinan Khilafah, Marrakech menjadi salah satu mercusuar ilmu pengetahuan dunia.
Suasana Ramadan di Maroko amat meriah. Ada para nafar yang menggunakan pakaian tradisional gandora berjalan mengelilingi pemukiman. Mereka akan mengingatkan umat Islam tentang awal hari ketika fajar tiba dengan suaranya yang indah. Nafar yang merupakan tradisi peninggalan Khilafah ini dimulai pada abad ketujuh, ketika seorang sahabat tepercaya Nabi Muhammad saw. berkeliling di jalan-jalan saat fajar, menyanyikan doa yang syahdu.
Biasanya, nafar dipilih dari orang yang jujur dan berempati di masyarakat. Mereka berjalan saat fajar sembari meniup trompet dari tanduk guna membangunkan muslim untuk makan sebelum fajar atau sahur.
Selain nafar, juga ada tebbal, yaitu orang yang menabuh drum bersama dengan nafar. Pada malam terakhir Ramadan, warga akan memberikan kompensasi atau upah bagi para nafar dan tebbal.
Meriam pun dibunyikan sebagai penanda waktu sahur. Saat sahur, kebanyakan orang Maroko makan makanan ringan seperti oatmeal, yoghurt, croissant, kurma, roti, dan minum banyak air. Kopi, susu, dan teh mint termasuk di antara jenis minuman yang sering mereka konsumsi saat sahur.
Ketika berbuka puasa, kurma hadir bersama beragam jus, susu, kopi, dan teh. Orang-orang juga makan sup khas Maroko yang disebut hareera, bersama kue pastri madu Maroko yang disebut shabakia. Tidak lupa roti msemen dan rghayif yang khas Ramadan. Juga ada zaitun, telur rebus, keju, marmalade, mentega, dan biskuit yang disebut fekkas.
Momen berbuka puasa makin syahdu dengan diiringi amdah dan musik Andalusia. Dua jenis musik itu telah menjadi bagian dari tradisi Maroko selama empat abad terakhir. Biasanya, televisi nasional Maroko akan menyiarkan amdah dan musik Andalusia beberapa menit sebelum buka puasa. Musik Andalusia juga bisa ditemui di hari libur keagamaan lainnya, seperti Idulfitri dan Iduladha.
Selain itu, masyarakat Maroko juga memiliki kebiasaan untuk membeli atau membuat jubah baru bernama jellaba menjelang bulan Ramadan. Jadi, baju barunya dipakai ketika Ramadan, bukan ketika Lebaran.
Demikianlah syahdunya Ramadan di Maroko yang menjadi gerbang pembebasan Eropa. Kelak, Maroko akan kembali bersinar sebagaimana dulu pada masa kejayaan Islam. [MNews/Rgl]
Sumber foto: tagesspiegel
