[Fikrul Islam] Takzir

[Fikrul Islam] Takzir

Penulis: Muhammad Husain Abdullah


Muslimah News, FIKRUL ISLAM – Al-ta’zir (takzir) secara bahasa bermakna pencegahan (al-man’u). Sedangkan al-ta’zir secara istilah adalah hukuman edukatif (al-ta’dib) dengan maksud membuat takut (at-tankil).

Secara syar’i, al-ta’zir bermakna uqubat (sanksi-sanksi) yang disyariatkan yang dijatuhkan atas kemaksiatan yang tidak ada had dan kafarat di dalamnya. Dalilnya adalah perbuatan Rasul ﷺ. Anas mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ memenjarakan (seseorang) pada kasus tuduhan palsu.”

Kadar Sanksi Takzir (Taqdir ul ‘Uqubah)

Kadar sanksi takzir pada dasarnya berada di tangan khalifah, tetapi boleh diserahkan kepada seorang kadi untuk berijtihad. Takzir wajib atas setiap kejahatan yang belum ditetapkan had maupun kafaratnya oleh syarak, seperti berbuka (tidak puasa, peny.) pada bulan Ramadan tanpa uzur(halangan), memaki, menipu, dan lain-lain.

Jenis-jenis Uqubat Takzir

1. Pembunuhan (al-qatl): seperti membunuh orang yang memata-matai atau orang yang mengajak kepada perpecahan umat Islam.

2. Jilid (al-jald): memukul dengan cambuk dan tongkat. Akan tetapi tidak boleh lebih dari 100 kali, karena sabda Rasul ﷺ, “Tidak boleh menjilid di atas 100 kali kecuali dalam had yang telah ditetapkan oleh Allah.”

3. Penjara (al-habs): dari Abu Hurairah, “Sesungguhnya Nabi ﷺ memenjarakan (seseorang) pada (kasus) tuduhan palsu selama 1 hari 1 malam dan menyerahkan kepada ijtihad kadi mengenai ukuran waktunya.”

4. Pengusiran (al-nafyu): mengasingkan atau menjauhkan. Firman Allah Swt. dalam QS Al-Maidah: 33, “…atau dibuang dari bumi (diusir dari negerinya)….”

5. Memboikot (al-hijr): dalilnya adalah yang terjadi pada tiga orang yang melakukan pelanggaran, yakni ketika Rasul melarang umat Islam berbicara dengan mereka.

6. Membayar denda (al-gharamah): yaitu hukuman atas orang-orang yang berdosa dengan membayar harta sebagai uqubat atas dosanya.

7. Melenyapkan harta (itlaf al-mal): terutama pada harta hasil campuran seperti susu yang dicampuri atau bejana tempat susu yang rusak.

8. Ancaman yang sesungguhnya (at-tahdid ush-shadiq): mengancam orang-orang yang berdosa dengan sebuah sanksi bila ia melakukan perbuatan tersebut.

9. Memutuskan nafkah/gaji.

10. Mencela seperti perkataan Rasul ﷺ tentang Abu Dzar,

يَا أَبَا ذَرِّ، أَعَيْرَتَهُ بِأُمِّهِ ؟ إِنَّكَ إِمْرُؤٌ فِيْكَ جَا هِلِيَّةً

“Ya Abi Dzar apakah engkau mencela/mengejek dia dengan (membawa-bawa nama, penerj.) ibunya? Sesungguhnya engkau adalah seseorang yang memiliki sifat jahiliah.” [MNews/Rgl]

Sumber: Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-Dasar Pemikiran Islam.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *