Muslimah News, NAFSIYAH — Penulis memulai dengan harapan untuk kebaikan kita semua. Semoga kita dianugerahkan hati yang merendah, hati yang tawaduk, karena tempat yang rendah ialah tempat yang dituju oleh air ketika mengalir. Ilmu dan kebenaran selayaknya air. Ilmu dan kebenaran tidak pernah menuju tempat yang tinggi melainkan tempat yang rendah. Itulah yang dikatakan Imam Syafi’i.
Penting sekali bagi setiap penuntut ilmu untuk merendahkan hatinya agar bisa menampung setiap aliran-aliran ilmu dan kebenaran ketika ia memiliki hati yang merendah dan tawaduk. Tidak ada kebaikannya jika kita memiliki kesehatan dan keberkahan, tetapi hati jumawa (sombong). Jikalau sudah mengaji, tidak menjadikan hati kita tinggi lantas merendahkan orang lain. Jika kita sudah belajar dan dekat dengan Ustaz atau Ustazah fulan, tidak menjadikan kita mudah mencemooh orang lain.
Saudariku, hati yang bersih ialah hati yang mudah untuk menyadari banyaknya nikmat dan menghitung karunia-karunia Allah Swt., hingga mampu bersyukur. Sedangkan hati yang kotor tidak pernah merasa cukup, merasa kurang. Ia selalu membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain hingga tidak mampu bersyukur dan tidak mampu menyadari setiap karunia yang diberikan Allah kepada kita.
Mari bersama-sama kita memahami perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah, “Salah satu kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba makin bertambah ilmunya, makin bertambah pula sikap tawaduk dan kasih sayangya. Makin bertambah amalnya, makin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.
Setiap kali bertambah usianya, makin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya, bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya, makin dekat pula ia dengan manusia serta berusaha menunaikan berbagai kebutuhan mereka juga bersikap rendah hati kepada mereka.”
Sungguh baik sekali sikap dari pemilik ilmu. Ibnul Qayyim pun menyampaikan bahwa tanda kebinasaan yaitu saat makin bertambah ilmunya, bertambahlah kesombongannya. Dan setiap kali bertambah amalnya, bertambahlah keangkuhannya. Ia makin meremehkan manusia dan terlalu bersangka baik kepada dirinya sendiri.
Makin bertambah umurnya, bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah banyak hartanya, ia makin pelit dan tidak mau membantu sesama. Setiap kali meningkat kedudukan dan derajatnya, bertambahlah kesombongan dirinya. Semua itu adalah ujian dan cobaan dari Allah untuk menguji hamba-hamba Nya. (Al Fawa’id, hal. 149)
Saudariku, tujuan dari ilmu adalah untuk diamalkan, bukan sekadar menjadi argumen (hujah) yang menyudutkan orang lain. Wajib bagi pemilik ilmu untuk beramal dengan semua ilmu yang sahih, sehingga ilmu tersebut berfaedah, menancap, dan kukuh di hatinya.
“Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika panggilan itu disambut, ilmu akan tetap. Namun jika panggilan itu tidak disambut, ilmu akan pergi.”
Syekh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Jika Engkau mengamalkan ilmumu, hal itu akan lebih memperkukuh ilmu dan lebih bermanfaat. Sesungguhnya Allah Taala akan menambahkan untuk kalian ilmu, cahaya, dan juga basirah.” (Kitab ‘Umdatul Ahkam)
Sesungguhnya ilmu itu bukan apa yang dihapalkan dan dituliskan, melainkan apa yang ditunjukkan lewat amal. Para penuntut ilmu jika sedang menuntut ilmu hendaknya membantu saudaranya sesuai dengan kemampuannya. Tidak boleh memiliki penyakit hasad kepada orang lain.
Janganlah mengatakan, “Jika aku mengajarkan ilmu kepadanya, aku takut dia menjadi lebih berilmu dibandingkan aku.” Padahal jika ia mengajari saudaranya, ia menjadi lebih berilmu darinya. Karena Allah Taala telah memberikan kepadamu ilmu yang sebelumnya Engkau tidak mengetahuinya.
Sabda Rasulullah saw., “Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya ketika hamba-Nya tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim)
Saudariku, semestinya kita pun mengingat perkataan Abu Darda’ ra., “Sesungguhnya Engkau tidak akan menjadi seorang yang berilmu, sampai Engkau belajar (menuntut ilmu). Tidaklah Engkau menjadi penuntut ilmu, sampai Engkau mengamalkan ilmu yang telah Engkau pelajari.” (Al-Iqtidha, hal. 16-17)
Ilmu menjadikan pemilikinya memiliki sikap tawaduk. Senantiasa ia akan mencurahkan ilmunya agar bermanfaat bagi banyak orang. Karena ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal saleh, bukan sekadar sebagai wawasan semata. Amal pun akan makin mengukuhkan ilmunya. (Tsamaratul ‘Ilmi Al-’Amalu). Wallahualam. [MNews/Rndy]
